Dari Basis Pengetahuan. Kamu sedang melihat hasil tanya jawab pengguna lain.Masuk untuk bertanya
Hari ini, jam 12:17 WIB

Kalau misalkan mau salat itu niatnya harus dilafalkan nggak di mulut?

☝️ Pertanyaan:

🔹 Kalau mau salat, apakah niatnya harus dilafalkan di mulut?

✨️ Jawaban:

🔹 Menurut Tarjih Muhammadiyah, niat tidak dilafalkan. Niat (niyyah) adalah maksud atau kehendak hati, dan cukup dilakukan di dalam hati — tidak perlu diucapkan dengan lisan, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa sendiri. Melafalkan niat (misalnya ushalli) tidak pernah dianjurkan, sebab tidak ada tuntunannya dari Rasulullah saw. Yang dituntunkan justru langsung mengucapkan takbir dengan niat yang ikhlas di hati.

📚 Dalil:

🔹 Putusan Tarjih yang dikutip dalam Fatwa 16/2004:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَقُلْ " اَللهُ أَكْبَرُ " مُخْلِصًا نِيَّتَكَ لِلَّهِ.

"Bila kamu hendak menjalankan shalat, maka bacalah Allahu Akbar dengan ikhlas niatmu karena Allah."

  1. Firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ. [البينة (98): 5]

"Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam menjalankan agama." [QS. al-Bayyinah (98): 5]

  1. Hadits Nabi saw.:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّـيَّاتِ … [متفق عليه]

"Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung kepada niat." [Muttafaq 'Alaih] — Fatwa 16 2004 Membaca Ushalli Dan Masalah Qunut

✍️ Catatan:

🔹 Posisi ini konsisten lintas naskah. Fatwa 28/1998 menegaskan niat itu "abstrak, karena merupakan gerakan hati. Tidak demikian halnya dengan takbir" — sehingga yang ditonjolkan saat mengawali salat adalah takbir, bukan lafal niat (Fatwa 28 1998 Antara Niat Dan Takbir Dalam Shalat). Tanya Jawab Agama 3 menyatakan tegas: "Niat itu dengan hati bukan dengan lisan… niat yang dilafadzkan dengan lisan dengan bahasa Arab tidak kita dapati dalam tuntunan al-Qur'an maupun as Sunnah" (Tanya Jawab Agama 3 Masalah Bacaan Dalam Shalat). Tanya Jawab Agama 6 juga menegaskan "Melafalkan niat jelas tidak ada tuntunannya" (Tanya Jawab Agama 6 Bab Iii Adab Shalat). Naskah Kitab Shalat HPT yang lebih mutakhir merumuskannya: "karena niat itu adalah kehendak, maka tempatnya adalah di dalam hati dan merupakan perbuatan hati sehingga tidak dilafalkan" (Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu). Karena niat adalah bagian ibadah, ia harus ada tuntunannya — dan melafalkannya tidak memiliki tuntunan itu.

✅️ Kesimpulan:

🔹 Niat salat cukup di dalam hati; tidak perlu dilafalkan di mulut, dan melafalkannya tidak dianjurkan karena tidak ada tuntunannya.

💎 Sumber:

🔹️ Fatwa 16 2004 Membaca Ushalli Dan Masalah Qunut (2004)

🔹️ Fatwa 28 1998 Antara Niat Dan Takbir Dalam Shalat (1998)

🔹️ Tanya Jawab Agama 3 Masalah Bacaan Dalam Shalat

🔹️ Tanya Jawab Agama 6 Bab Iii Adab Shalat

🔹️ Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format

Hari ini, jam 12:19 WIB

Apa hubungan antara teori Big Bang dengan Quran Surat Al Anbiya ayat 30 yang menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi?

☝️ Pertanyaan:

🔹 Apa hubungan antara teori Big Bang dengan QS al-Anbiya (21): 30 yang menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi?

✨️ Jawaban:

🔹 Saya belum menemukan dalam arsip fatwa/HPT sebuah naskah yang secara eksplisit menyandingkan atau menghubungkan QS al-Anbiya (21): 30 dengan teori Big Bang. Ayat ini muncul di arsip, tetapi dipakai untuk keperluan yang berbeda-beda, bukan sebagai pembuktian kosmologi "dentuman besar".

Berikut apa yang benar-benar tertulis di halaman-halaman yang berhasil saya baca:

🔸 Dalam Tanya Jawab Agama 3 Masalah Yang Ghaib, QS al-Anbiya (21): 30 dikutip justru untuk menjelaskan arti kata as-samā' (langit). Halaman itu menyebut bahwa salah satu makna as-samā' adalah "segala ciptaan Allah selain bumi", dan mengutip ayat tersebut dengan terjemahan: "...Bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah berpadu satu, lalu Kami pisahkan keduanya..." Kemudian halaman yang sama membahas astronomi (universum, galaksi Bima Sakti, galaksi Andromeda, dimensi ruang-waktu), tetapi mengenai tujuh lapis langit ia justru menyimpulkan keterbatasan ilmu: "Mengingat keterbatasan ilmu pengetahuan yang mungkin dapat dicapai oleh manusia dengan penelitian, percobaan dan pemikiran manusia yang serba terbatas, maka sampai saat ini tidak ada jawaban ilmu pengetahuan yang memuaskan." Jadi naskah ini tidak menautkan ayat itu dengan teori Big Bang.

🔸 Dalam Tanya Jawab Agama 2023 Edisi 16 16 31 Agustus Hukum Menjual Air, ayat yang sama dikutip dalam konteks hukum menjual air — untuk menegaskan bahwa air adalah sumber kehidupan. Terjemahannya di sana: "Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Tidakkah mereka beriman?"

🔸 Dalam Keputusan Tarjih Ke 28 Fikih Air Perspektif Muhammadiyah Bab Ii Pandangan Islam , penggalan ayat itu ("Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ...") dipakai untuk menjelaskan fungsi air sebagai sumber kehidupan, dengan rujukan tafsir al-Baiḍāwī dan al-Māwardī. Tidak ada pembahasan Big Bang di situ.

📚 Dalil:

🔹 QS al-Anbiya (21): 30 —

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَـٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Tidakkah mereka beriman?" — dikutip dalam Tanya Jawab Agama 2023 Edisi 16 16 31 Agustus Hukum Menjual Air dan Tanya Jawab Agama 3 Masalah Yang Ghaib.

🔹 Mengenai cara pandang Tarjih terhadap alam semesta, arsip menyebut konsep ayat-ayat kauniyyah — "fenomena alam semesta yang tersirat" — dan bahwa "alam semesta bekerja menurut sunnatullah atau ketentuan Allah yang berjalan berdasarkan sebab-akibat" (Ayat Ayat Kauniyyah, Sunnatullah, dari Keputusan Tarjih Ke 29 Fikih Kebencanaan Bab Iv Cara Pandang Pengelolaan Bencana dan Fikih Muhammadiyah Bagian S Kesehatan Publik). Namun sifatnya umum: perintah merenungkan alam semesta, bukan penafsiran ayat tertentu dengan teori fisika tertentu.

✍️ Catatan:

🔹 Saya belum menemukan naskah dalam arsip yang secara khusus menafsirkan QS al-Anbiya (21): 30 sebagai isyarat teori Big Bang, atau yang menolaknya. Fakta bahwa arsip memakai ayat ini dalam konteks arti as-samā' dan konteks air menunjukkan ayat ini belum ditautkan secara doktrinal dengan kosmologi Big Bang dalam sumber yang berhasil saya telusuri. Karena itu saya tidak menyusun sintesis penghubung atas nama Tarjih. Untuk posisi tafsir resmi yang lebih lengkap, rujukannya adalah Tafsir at-Tanwir Majelis Tarjih (Tafsir At Tanwir) dan Majelis Tarjih setempat.

✅️ Kesimpulan:

🔹 Arsip yang berhasil ditelusuri memuat QS al-Anbiya (21): 30, tetapi memakainya untuk menjelaskan makna as-samā' dan air sebagai sumber kehidupan — bukan untuk menautkannya dengan teori Big Bang. Saya belum menemukan fatwa Tarjih yang secara eksplisit menghubungkan keduanya.

💎 Sumber:

🔹️ Tanya Jawab Agama 3 Masalah Yang Ghaib

🔹️ Tanya Jawab Agama 2023 Edisi 16 16 31 Agustus Hukum Menjual Air (2023)

🔹️ Keputusan Tarjih Ke 28 Fikih Air Perspektif Muhammadiyah Bab Ii Pandangan Islam

🔹️ Keputusan Tarjih Ke 29 Fikih Kebencanaan Bab Iv Cara Pandang Pengelolaan Bencana

🔹️ Fikih Muhammadiyah Bagian S Kesehatan Publik

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format

Enter untuk kirim · Shift+Enter untuk baris baruHPT & Fatwa Tarjih

Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.