apa yang membedakan NU dengan muhammadiyah?
☝️ Pertanyaan:
🔹 Apa yang membedakan NU dengan Muhammadiyah?
✨️ Jawaban:
🔹 Naskah Tarjih merumuskan pokok perbedaannya pada sikap terhadap mazhab, bukan pada sumber hukumnya. Fatwa 1999 menyatakan: "sumber-sumber hukum utama menurut kedua organisasi ini pada dasarnya tidak ada perbedaan, yaitu al-Qur'an dan al-Hadis. Namun dalam aplikasi serta hirarkhi berikutnya terdapat perbedaan." Muhammadiyah berijtihad dengan manhaj para mujtahid tetapi "tidak mengikatkan diri pada satu mazhab", sedangkan "NU dalam mengamalkan ajaran Islam menggunakan pola bermazhab, yaitu dengan mengikatkan diri pada suatu pendapat atau mazhab tententu. Misalnya dalam membahas masalah-masalah agama banyak merujuk kepada kitab-kitab dari kalangan mazhab empat, khususnya kitab ulama Syafi'iyyah."
🔹 Tiga contoh furu' yang disebut naskah 1999:
🔸 Menyentuh wanita bukan mahram sesudah wudu: Muhammadiyah menafsirkan "au lamastumun-nisa" (QS an-Nisa 43) dengan bersetubuh sehingga tidak membatalkan wudu; NU mengartikan "lamastum" sebagai menyentuh sehingga membatalkan.
🔸 Menghadiahkan pahala kepada orang yang telah meninggal: Muhammadiyah menilai tidak ada dasar ajaran yang mengacu ke arah itu; NU membolehkan dan sampainya pahala, dengan dasar kitab Tuhfah al-Muhtaj.
🔸 Hal-hal yang tidak dikenal di Muhammadiyah tetapi lazim di NU: "talqin bagi orang yang sudah meninggal, haul (upacara peringatan ulang tahun kematian seseorang), membayar fidyah bagi seorang yang mati dan masih berhutang shalat, dan lain-lain."
🔸 Persamaannya: pada masalah baru yang belum dibahas imam mazhab, seperti bayi tabung, transplantasi organ tubuh, dan KB.
🔹 Perkembangan lintas tahun:
🔸 1999 — pokok perbedaan diletakkan pada pola bermazhab (di atas).
🔸 2003 — Fatwa 08.B 2003 menegaskan "fanatik kepada suatu madzhab itu tidak diajarkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah"; yang dibenarkan adalah ittiba' (mengikuti pendapat ulama selama tidak menyalahi Al-Qur'an dan as-Sunnah).
🔸 2024 — Tanya Jawab Agama 2024 memperjelas dan sedikit mengoreksi kesan "bermazhab vs tidak bermazhab": Muhammadiyah "tidak mengikatkan diri pada suatu mazhab tertentu tetapi juga bukan anti-mazhab", memosisikan pendapat imam mazhab secara proporsional. Dijelaskan pula dua cara bermazhab — qauli (mengikuti pendapat imam tanpa memahami argumentasinya, berpeluang memunculkan fanatisme mazhab) dan manhaji (mengikuti manhaj/metodologi imam mazhab). Ditegaskan: "dalam bermazhab Muhammadiyah bermazhab secara manhaji", selaras dengan slogan ar-ruju' ila Al-Qur'an wa as-Sunnah, serta dinyatakan bahwa "Islam tidak melarang umatnya untuk mengikuti suatu mazhab tertentu" — jadi yang ditolak adalah taklid dan fanatisme, bukan mazhab itu sendiri.
🔹 Satu contoh lapangan yang juga dibahas: penetapan awal bulan. Muhammadiyah memakai kriteria ijtima' qablal ghurub plus posisi bulan di atas ufuk; dalam kasus 1 Syawwal 1413 H, PP Muhammadiyah menetapkan 25 Maret 1993, sementara "Nahdlatul 'Ulama di Jawa Timur" menetapkan 24 Maret 1993 berdasarkan ru'yah.
📚 Dalil:
🔹 Perintah mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul, yang dijadikan sandaran sikap tidak mengikatkan diri pada mazhab:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya)…" (QS An-Nisa 4: 59) — Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda
✍️ Catatan:
🔹 Seluruh keterangan di atas adalah apa yang termuat dalam arsip Tarjih, bukan penilaian independen di luar arsip. Naskah 1999 menyebutkan contoh-contoh itu secara ringkas ("dan lain-lain"), sehingga daftar tersebut tidak dimaksudkan sebagai daftar lengkap. Saya belum menelusuri semua masalah furu' yang mungkin dibahas di halaman lain.
✅️ Kesimpulan:
🔹 Pembeda utamanya bukan sumber hukum (keduanya sama-sama Al-Qur'an dan Hadis), melainkan metode: Muhammadiyah tidak mengikatkan diri pada mazhab tertentu dan menolak taklid, sementara NU dalam naskah Tarjih digambarkan mengamalkan ajaran dengan pola bermazhab. Sejak 2024 penegasannya dihaluskan: Muhammadiyah "bukan anti-mazhab", bermazhab secara manhaji, dan menghargai perbedaan sebagai sunnatullah.
💎 Sumber:
🔹 Fatwa 19 1999 Perbedaan Dan Persamaan Golongan Golongan Dalam Islam (1999, SM No. 10 Tahun Ke-84)
🔹 Tanya Jawab Agama 2 Masalah Ke Tarjihan (Tanya Jawab Agama 2)
🔹 Tanya Jawab Agama 3 Masalah Ketarjihan (Tanya Jawab Agama 3)
🔹 Fatwa 08 B 2003 Fanatik Terhadap Madzhab Atau Ormas Sm No 07 2003 (2003, SM No. 07)
🔹 Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda (2024)
🔹 Tanya Jawab Agama 3 Masalah Ruyat (Tanya Jawab Agama 3, masalah ru'yat)
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sajikan dalam Format
lalu aku sering menjumpai di masjid Muhammadiyah dengan NU adalah pembacaan basmallah saat salat. Muhammadiyah tidak dibaca lantang, sedangkan NU iya. bagaimana menurutmu?
☝️ Pertanyaan:
🔹 Benarkah Muhammadiyah membaca basmalah sir (pelan) dalam salat berjamaah sedangkan NU membacanya jahr (keras), dan bagaimana sikap Tarjih atas hal itu?
✨️ Jawaban:
🔹 Framing "Muhammadiyah tidak lantang" itu tidak persis seperti yang ditetapkan Tarjih. Putusan Tarjih tidak menetapkan basmalah dibaca pelan, melainkan menetapkan keduanya boleh. Keputusan Tarjih Ke-27 (Muktamar Tarjih Wiradesa, dimuat dalam HPT 3 hlm. 193) berbunyi:
"Bacaan basmalah sebelum al-Fatihah dalam salat jahar boleh dijaharkan dan boleh pula disirkan (dipelankan) berdasarkan jamak antara hadis-hadis yang memberi pengertian bahwa Rasulullah saw menjaharkan basmalah dalam salat jahar dan hadis-hadis yang memberi pengertian sebaliknya, yaitu bahwa Rasulullah saw memelankan basmalah dalam salat jahar, sesuai dengan kaidah fikih, إِعْمَالُ الْكَلَامِ أَوْلَى مِنْ إِهْمَالِهِ — Mengamalkan suatu pernyataan lebih utama daripada mengabaikannya."
🔹 Kitab Shalat HPT bagian 09 menegaskan hal yang sama, dengan pembedaan yang jelas:
"Dalam salat sir, yaitu salat di mana bacaan surat dibaca pelan (seperti orang berbisik), misalnya dalam salat Zuhur atau salat Asar, basmalah dibaca sir pula. Untuk salat jahar, yaitu salat di mana bacaan surat dibaca dengan suara keras (terdengar oleh makmum), maka basmalah dapat dibaca jahar atau dapat dibaca sir."
🔹 Jadi praktik imam yang membaca basmalah pelan di masjid Muhammadiyah adalah salah satu dari dua pilihan yang dibolehkan, bukan satu-satunya tuntunan. Karena itu Fatwa 01/2022 menjawab keluhan tentang imam yang kadang jahr kadang sir: "hukum dalam membaca basamalah ini ada tanawwu', maksudnya boleh dibaca jahar dan boleh dibaca sir, karena hadis-hadis tentang bacaan basmalah yang jahar maupun sir adalah sahih semua. Jadi, jika ada imam yang terkadang membaca basmalah secara jahar dan terkadang secara sir, maka hal itu tidak masalah."
🔹 Perkembangan lintas tahun:
🔸 Kitab Shalat HPT — jahr dan sir dijamak; dasarnya kaidah ta'arudl dalam manhaj Tarjih: jamak dulu, baru tarjih/nasakh/tawaquf. Dikutip pula pendapat as-San'ani: "Yang lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat bahwa Nabi saw terkadang menjaharkannya dan terkadang memelankannya."
🔸 1998 — Fatwa 60/1998 menegaskan basmalah termasuk tujuh ayat al-Fatihah, "hanya tidak wajib dinyaringkan pada salat yang nyaring bacaannya".
🔸 Keputusan Tarjih XXVII (Wiradesa) — mengukuhkan HPT hlm. 77 dan 86 (basmalah dibaca sebelum al-Fatihah pada setiap rakaat) sekaligus menetapkan tanawwu' jahr/sir.
🔸 2022 — Fatwa 01/2022 mengulang penetapan itu dan menambahkan kaidah dasar ibadah: الْأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ الْبُطْلَانُ حَتَّى يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَى الْأَمْرِ — pada dasarnya ibadah itu batal sampai ada dalil yang memerintahkannya. Ini penting: kebolehan jahr/sir di sini bersandar pada hadis sahih yang saling dijamak, bukan pada kesenyapan dalil.
🔸 2023 — Tanya Jawab Agama Edisi 11 (Juni 2023) menjawab pertanyaan yang sebelumnya tidak terjawab: cara membaca basmalah pada surah setelah al-Fatihah — "membaca basmalah dalam awal surah setelah Al-Fatihah adalah mengikuti surah Al-Fatihahnya. Ketika membaca basmalah pada surah Al-Fatihah secara jahr, maka membaca basmalah saat memulai surah Al-Qur'an juga secara jahr. Namun ketika membaca basmalah pada surah Al-Fatihah secara sirr, maka membaca basmalah saat memulai surah Al-Qur'an juga secara sirr."
🔹 Soal perbandingan dengan NU: arsip Tarjih yang saya telusuri tidak memuat pembahasan khusus tentang praktik basmalah di kalangan NU. Yang ada adalah paparan posisi mazhab: Tanya Jawab Agama 1 menulis "Imam Syafi'iy, BASMALAH satu ayat dari surat Al Fatihah, sehingga dibaca jahr dikala membaca jahr surat Al Fatihah dalam shalat", dan TJA 2023 menyebut "Imam Syafi'i berpendapat wajib membacanya dalam shalat secara jahr (keras) dalam shalat jahr (keras), tetapi dalam shalat sirr (lembut) wajib dibaca sirr (lembut)." Keterkaitan dengan NU hanya bisa dinyatakan sejauh Fatwa 1999 menyebut NU "banyak merujuk kepada kitab-kitab dari kalangan mazhab empat, khususnya kitab ulama Syafi'iyyah" — itu keterangan tentang rujukan mazhab, bukan penilaian Tarjih atas bacaan basmalah NU.
📚 Dalil:
🔹 Hadis jahr — jalur Abu Hurairah melalui Nu'aim al-Mujmir (sahih menurut penilaian naskah):
عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِيْ هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ ... وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنِّيْ لِأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Aku shalat di belakang Abu Hurairah, ia membaca 'bismillāhir-raḥmānir-raḥīm', kemudian membaca Ummul-Qur'an… dan ketika salam ia berkata: 'Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang yang shalatnya paling menyerupai shalat Rasulullah saw.'" — Keputusan Tarjih Ke 27 Beberapa Masalah Ibadat Dan Muamalat Bab Ii Bacaan Basmal
🔹 Hadis jahr — jalur Ummu Salamah:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا سُئِلَتْ عَنْ قِرَاءَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
"Beliau memotong-motong bacaannya satu ayat satu ayat: bismillāhir-raḥmānir-raḥīm, al-ḥamdulillāhi rabbil-'ālamīn…" — Keputusan Tarjih Ke 27 Beberapa Masalah Ibadat Dan Muamalat Bab Ii Bacaan Basmal
🔹 Hadis sir — jalur Anas, yang menjadi sisi lain dari ta'arudl:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Aku salat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakr, 'Umar dan 'Uṡmān, maka aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca bismillāhir-raḥmānir-raḥīm." — Keputusan Tarjih Ke 27 Beberapa Masalah Ibadat Dan Muamalat Bab Ii Bacaan Basmal
🔹 Penerapan kaidah jamak dan tanawwu' — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu
✍️ Catatan:
🔹 Saya tidak menemukan halaman khazanah yang secara khusus membandingkan praktik basmalah Muhammadiyah dengan NU; yang tersedia adalah posisi Tarjih sendiri dan paparan pendapat empat mazhab. Kesimpulan bahwa bacaan pelan di masjid Muhammadiyah "mewakili Muhammadiyah" karenanya perlu diperlakukan sebagai praktik lokal, bukan sebagai putusan. Saya juga belum menelusuri seluruh naskah Tanya Jawab Agama lintas jilid untuk kemungkinan pembahasan lain.
🔹 Pertanyaan "bagaimana menurutmu" saya jawab dengan posisi Tarjih, bukan pendapat pribadi — saya bukan mufti.
✅️ Kesimpulan:
🔹 Tarjih menetapkan basmalah dibaca sebelum al-Fatihah pada setiap rakaat, dan cara membacanya bersifat tanawwu': boleh jahr, boleh sir, karena kedua kelompok hadisnya sahih dan dijamak. Dalam salat sir, basmalah dibaca sir. Bacaan jahr pada surah setelah al-Fatihah mengikuti cara basmalah pada al-Fatihah. Maka bacaan pelan yang Anda jumpai bukan "Muhammadiyah melarang jahr", melainkan salah satu pilihan yang dibolehkan.
💎 Sumber:
🔹 Keputusan Tarjih Ke 27 Beberapa Masalah Ibadat Dan Muamalat Bab Ii Bacaan Basmal (Keputusan Tarjih Ke-27, Muktamar Wiradesa, HPT 3 hlm. 193–195)
🔹 Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu (Kitab Shalat HPT, bagian 7)
🔹 Fatwa 01 2022 Hukum Bacaan Basmalah Dan Kunut Shalat Subuh (2022, Fatwa 01/2022)
🔹 Tanya Jawab Agama 2023 Edisi 11 1 15 Juni Cara Membaca Basmalah Pada Surah Al Quran Ketika Sha (2023)
🔹 Fatwa 60 1998 Basmalah Ayat Al Quran Dan Dibaca Ketika Salat (1998, Fatwa 60)
🔹 Tanya Jawab Agama 1 Masalah Doa Iftitah Basmalah Dan Membaca Surat (Tanya Jawab Agama 1)
🔹 Fatwa 19 1999 Perbedaan Dan Persamaan Golongan Golongan Dalam Islam (1999)
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sajikan dalam Format
Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.