jelaskan secara rinci terkait panjang harokat saat takbir dalam solat pada setiap rokaat, sertakan dalil arab dan terjemahnya yang sesuai dengan tarjih muhammadiyah
☝️ Pertanyaan:
🔹 Berapa panjang harakat (mad) ketika mengucapkan takbir dalam salat pada setiap rakaat, dan apa dalilnya menurut Tarjih Muhammadiyah?
✨️ Jawaban:
🔹 Menurut naskah Tarjih, takbir dalam salat — baik takbiratul ihram maupun takbir perpindahan gerakan (takbir intiqal) pada tiap rakaat — dibaca secara biasa, tidak dipanjangkan secara berlebihan. Khususnya dinyatakan agar tidak memanjangkan lām jalālah-nya, yaitu tidak memanjangkan ucapan "Allāhu akbar" secara berlebihan.
🔹 Naskah Kitab Salat Bagian 09 menyatakan secara harfiah:
"Bacaan takbir ... bangkit dari sujud dilakukan seperti takbir lainnya dengan tidak memanjangkan lām jalālah-nya (tidak memanjangkan ucapan 'Allāhu akbar' secara berlebihan)." — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu
🔹 Penjelasan yang sama diberikan menyangkut takbir bangkit dari sujud (dan dengan demikian berlaku pada takbir gerakan lain): dalam hadis tidak didapati tuntunan membaca takbir dengan memanjangkan lām jalālah secara berlebihan, sehingga "bacaan takbir dalam gerakan bangkit dari sujud itu biasa, sama dengan takbir yang lain yang tidak terlalu panjang" — Tanya Jawab Agama 4 Masalah Shalat Dan Gerakannya.
🔹 Dengan kata lain, Tarjih tidak membedakan panjang-pendek takbir antara satu rakaat dengan rakaat lain, maupun antara takbiratul ihram dengan takbir intiqal: semuanya dibaca dengan panjang yang wajar, tanpa mad yang dipanjang-panjangkan.
📚 Dalil:
🔹 Hadis yang menjadi dasar tuntunan takbir pada setiap gerakan salat (Abu Hurairah ra.):
يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ فِى الصَّلاَةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا وَيُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُومُ مِنَ الْمَثْنَى بَعْدَ الْجُلُوسِ ، ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ : إِنِّى لأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Adalah Rasulullah saw apabila mengerjakan salat ia bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika rukuk, lalu mengucapkan 'sami'allāhu liman ḥamidah' ketika mengangkat punggungnya (bangun) dari rukuk ... lalu takbir tatkala hendak sujud, lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala ... kemudian melakukan itu dalam semua salatnya. Kemudian Abu Hurairah mengatakan: Sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip salatnya dengan Rasulullah." [HR. al-Bukhārī dan Muslim] — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu
🔹 Dari hadis ini naskah menyimpulkan bahwa takbir dilakukan pada tiap perpindahan gerakan, dan dalam riwayat-riwayat terkait "tidak didapati keterangan yang menjelaskan tentang memanjangkan ucapan 'Allahu Akbar' secara berlebihan" — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu.
✍️ Catatan:
🔹 Naskah Tarjih yang berhasil saya telusuri tidak menetapkan jumlah harakat/mad secara angka untuk lafal takbir. Ketentuannya bersifat kualitatif: dibaca biasa dan tidak dipanjangkan secara berlebihan. Karena itu, saya tidak dapat memastikan adanya ketetapan angka harakat tertentu dari arsip yang dibaca — hal itu tidak saya temukan dalam bagian yang berhasil ditelusuri, dan tidak saya isi dari luar sumber.
✅️ Kesimpulan:
🔹 Takbir dalam salat pada setiap rakaat — takbiratul ihram maupun takbir tiap perpindahan gerakan — dibaca dengan panjang yang wajar, tanpa memanjangkan lām jalālah (ucapan "Allāhu akbar") secara berlebihan, dan tanpa membedakan rakaat satu dengan lainnya.
💎 Sumber:
🔹 Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu (Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih ke-29)
🔹 Tanya Jawab Agama 4 Masalah Shalat Dan Gerakannya (Tanya Jawab Agama 4, "Takbir Bangun dari Sujud")
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sajikan dalam Format
apakah ada dalil sohih yang menjelaskan tentang panjang 2-4 harokat saat takbir pada setiap rakaat
☝️ Pertanyaan:
🔹 Apakah ada dalil sahih yang menjelaskan panjang 2–4 harakat saat takbir pada setiap rakaat?
✨️ Jawaban:
🔹 Sepanjang penelusuran saya atas arsip Tarjih, tidak ditemukan dalil — sahih maupun tidak — yang menyebut secara angka panjang "2–4 harakat" untuk lafal takbir dalam salat, baik takbiratul ihram maupun takbir perpindahan gerakan pada tiap rakaat.
🔹 Yang ada dalam arsip justru ketentuan yang bersifat kualitatif, bukan kuantitatif. Naskah Tanya Jawab Agama 4 menegaskan:
"Dalam Hadits-hadits tidak kita dapati tuntunan untuk membaca takbir dengan memanjangkan lām jalālah yang berlebihan. Sehingga bacaan takbir dalam gerakan bangkit dari sujud itu biasa, sama dengan takbir yang lain yang tidak terlalu panjang." — Tanya Jawab Agama 4 Masalah Shalat Dan Gerakannya
🔹 Hal senada dinyatakan Kitab Salat Bagian 09: bacaan takbir dilakukan "seperti takbir lainnya dengan tidak memanjangkan lām jalālah-nya" — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu.
🔹 Dengan demikian, menurut arsip Tarjih, patokannya bukan jumlah harakat tertentu, melainkan cara membaca yang wajar dan tidak berlebihan, dan hal itu tidak dibeda-bedakan antara satu rakaat dengan rakaat lain.
📚 Dalil:
🔹 Landasan takbir pada setiap gerakan salat adalah hadis Abu Hurairah ra.:
يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ فِى الصَّلاَةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا
"...ia bertakbir ketika mengangkat kepalanya, lalu melakukan hal seperti itu dalam seluruh salatnya hingga selesai..." [HR. al-Bukhārī dan Muslim] — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu
🔹 Namun hadis ini — sebagaimana dinyatakan naskah — tidak merinci cara memanjangkan lafal takbir. Naskah menyampaikannya sebagai keterangan tentang keterbatasan dalil, bukan sebagai penetapan hukum kebolehan memanjangkan. Karena itu patokan praktiknya diambil dari tuntunan yang ada: dibaca biasa, tidak dipanjangkan secara berlebihan.
✍️ Catatan:
🔹 Perlu ditegaskan dua hal secara jujur:
🔸 Pertama, klaim adanya dalil sahih yang menyebut "2–4 harakat" tidak didukung oleh bagian arsip yang berhasil saya telusuri — dan tidak saya isi dari pengetahuan luar.
🔹 Kedua, pernyataan "hadis tidak merinci panjang takbir" adalah keterangan tentang dalil, bukan dasar kebebasan memilih panjang-pendek. Pada ranah ibadah mahdlah seperti lafal takbir ini, tuntunannya terbatas pada apa yang ada petunjuknya, sehingga yang tersedia di sini adalah arahan kualitatif: membaca biasa dan tidak berlebihan.
✅️ Kesimpulan:
🔹 Tidak ada dalil sahih dalam arsip Tarjih yang menetapkan panjang takbir 2–4 harakat untuk tiap rakaat. Ketentuan yang ada bersifat kualitatif: takbir dibaca biasa, tidak memanjangkan lām jalālah secara berlebihan, tanpa perbedaan panjang antar-rakaat.
💎 Sumber:
🔹 Tanya Jawab Agama 4 Masalah Shalat Dan Gerakannya (Tanya Jawab Agama 4, "Takbir Bangun dari Sujud")
🔹 Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu (Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih ke-29)
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sajikan dalam Format
adakah dalil sohih tentang panjang 2-6 harakat (mad) ketika mengucapkan takbir dalam salat pada setiap rakaat
☝️ Pertanyaan:
🔹 Adakah dalil sahih yang menetapkan panjang 2–6 harakat (mad) ketika mengucapkan takbir dalam salat pada setiap rakaat menurut Tarjih Muhammadiyah?
✨️ Jawaban:
🔹 Berdasarkan naskah Tarjih yang berhasil saya telusuri, tidak ditemukan dalil sahih yang menetapkan panjang 2–6 harakat (mad) untuk lafal takbir. Yang ada dalam arsip justru pernyataan sebaliknya: takbir dibaca biasa, dan tidak dipanjangkan secara berlebihan.
🔹 Naskah Kitab Salat Bagian 09 menyatakan secara harfiah:
"Bacaan takbir dan takbir bangkit dari sujud dilakukan seperti takbir lainnya dengan tidak memanjangkan lām jalālah-nya (tidak memanjangkan ucapan 'Allāhu akbar' secara berlebihan)." — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu
🔹 Naskah Tanya Jawab Agama 4 menjawab pertanyaan yang justru sangat mirip maksudnya dengan pertanyaan Anda — apakah takbir dibaca biasa atau dipanjangkan:
"Dalam Hadits-hadits tidak kita dapati tuntunan untuk membaca takbir dengan memanjangkan lam jalalah yang berlebihan. Sehingga bacaan takbir dalam gerakan bangkit dari sujud itu biasa, sama dengan takbir yang lain yang tidak terlalu panjang." — Tanya Jawab Agama 4 Masalah Shalat Dan Gerakannya
🔹 Jadi ketentuan Tarjih bersifat kualitatif (dibaca wajar, tidak berlebihan), bukan kuantitatif dengan angka harakat tertentu. Naskah tidak menyebut angka 2, 3, 4, 5, atau 6 harakat.
🔹 Perlu dicatat: naskah Kitab Salat Bagian 09 memang memuat hadis tentang memanjangkan bacaan — tetapi itu menyangkut bacaan basmalah, bukan takbir:
( عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ "بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ" يَمُدُّ بِبِسْمِ اللهِ وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ ) [رواه البخاري]
"Dari Qatādah, ia berkata: Anas pernah ditanya bagaimana bacaan Nabi saw. Maka Anas menjawab, 'Nabi saw membaca dengan memanjangkan.' Kemudian Anas memperdengarkan apa yang Nabi bacakan itu, yakni Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm; beliau memanjangkan bacaan basmalah, memanjangkan ar-raḥmān dan memanjangkan ar-raḥīm [HR al-Bukhārī]." — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu
Hadis ini tentang mad pada basmalah, sehingga tidak dapat dijadikan dasar menetapkan angka harakat pada takbir.
📚 Dalil:
🔹 Hadis pokok tuntunan takbir pada setiap gerakan salat (Abu Hurairah ra.):
يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنَ الْمَثْنَى بَعْدَ الْجُلُوسِ ، ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ : إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"...ia bertakbir dalam seluruh salatnya hingga selesai, dan bertakbir ketika berdiri dari dua rakaat setelah duduk. Kemudian Abu Hurairah mengatakan: Sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip salatnya dengan Rasulullah." [HR al-Bukhārī dan Muslim] — Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu
🔹 Hadis ini menetapkan bahwa takbir dilakukan pada tiap perpindahan gerakan, tetapi tidak memuat ketentuan berapa harakat panjangnya.
✍️ Catatan:
🔹 Yang tidak saya temukan: dalil sahih yang menyebut angka 2–6 harakat untuk takbir. Saya belum dapat memastikan apakah ketentuan angka semacam itu ada di bagian arsip yang belum berhasil saya telusuri. Yang jelas, naskah-naskah Tarjih yang saya baca menolak memanjangkan takbir secara berlebihan dan menetapkannya dibaca biasa. Karena itu saya tidak dapat melaporkan adanya dalil sahih untuk panjang 2–6 harakat — dan saya tidak mengisinya dari luar khazanah.
✅️ Kesimpulan:
🔹 Tidak ada dalil sahih dalam naskah Tarjih yang berhasil ditelusuri yang menetapkan panjang 2–6 harakat (mad) pada takbir. Ketentuan Tarjih hanya menyatakan takbir dibaca biasa, tidak dipanjangkan secara berlebihan, dan berlaku sama pada takbiratul ihram maupun takbir perpindahan gerakan di setiap rakaat.
💎 Sumber:
🔹 Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu (Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih ke-29)
🔹 Tanya Jawab Agama 4 Masalah Shalat Dan Gerakannya (Tanya Jawab Agama 4, "Takbir Bangun dari Sujud")
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sajikan dalam Format
Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.