ChatHPT — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
TanyaPercakapan baru
Buatkan draft khutbah Jumat tentang Wallahu a‘lamu bish sha…
Dari Basis Pengetahuan. Kamu sedang melihat hasil tanya jawab pengguna lain.Masuk untuk bertanya
Hari ini, jam 15:44 WIB
Buatkan draft khutbah Jumat tentang Wallahu a‘lamu bish shawab.

🕌 Khutbah Jumat

"Wallāhu A‘lamu bish-Shawāb": Tawadhu' Ilmiah di Hadapan Kebenaran Allah


KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang memiliki kebenaran mutlak, yang mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, sementara kita hanya mampu berijtihad sebatas ilmu dan kemampuan yang dianugerahkan-Nya. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., yang telah menyerahkan kepada kita dua pegangan yang tidak akan membuat kita tersesat selama berpegang teguh padanya.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ada satu kalimat pendek yang hampir selalu menutup jawaban Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah ketika menjawab persoalan agama: Wallāhu a‘lamu bish-shawāb — "Allah lebih mengetahui kebenaran." Kalimat ini terlihat sederhana, bahkan sering terlewat begitu saja oleh pembaca. Padahal di dalamnya tersimpan adab yang sangat mendasar dalam beragama.

Kalimat ini bukan sekadar penutup yang sopan. Ia adalah pengakuan bahwa apa yang telah diuraikan dengan susah payah, dengan dalil, dengan argumentasi, tetap berada di bawah pengetahuan Allah. Ia adalah pernyataan bahwa manusia berkewajiban mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak pernah berhak mengklaim telah menggenggam kebenaran itu sepenuhnya.

Rasulullah saw. mengajarkan bahwa agama yang paling dicintai Allah adalah al-ḥanīfiyyah as-samḥah (agama yang lurus lagi penuh kelapangan). Dari Ibnu Abbas ra. diriwayatkan, ketika ditanyakan kepada Rasulullah saw. agama mana yang paling dicintai Allah, beliau menjawab: agama yang mengajarkan kebaikan dan toleransi — Keputusan 68 2026 Pengembangan Manhaj Tarjih 04 Lampiran 2 C Perspektif Wawasan .

(Teks Arab hadis ini termuat dalam naskah sumber, namun bagian Arabnya tidak terbaca utuh dalam arsip yang saya akses; karena itu saya kutip terjemahannya sebagaimana tertulis di sana.)

Hadirin yang berbahagia,

Manifestasi nyata dari keluasan Islam itu, sebagaimana dijelaskan dalam naskah Keputusan Munas XXXII Tarjih tahun 2026, dapat dilihat dari keberagaman pendapat (ikhtilāf) yang dihasilkan para ulama di berbagai cabang ilmu — fikih, teologi, dan tafsir. Naskah itu menyatakan bahwa keberagaman tersebut "menunjukkan betapa Islam memberikan ruang yang besar untuk dialog dan ijtihad, sehingga perbedaan pandangan adalah sesuatu yang lumrah" — Keputusan 68 2026 Pengembangan Manhaj Tarjih 04 Lampiran 2 C Perspektif Wawasan .

Firman Allah dalam surah al-Ḥujurāt ayat 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." — Keputusan 68 2026 Pengembangan Manhaj Tarjih 04 Lampiran 2 C Perspektif Wawasan

Imam Ibnu 'Athiyyah menyampaikan bahwa inti ayat ini ialah: jangan sampai kamu sekalian menyombongkan diri dan sebagian kamu ingin merasa lebih terhormat dari yang lain. Karena itu, demikian naskah Tarjih menyimpulkan, "jika terjadi perbedaan pendapat, tidak perlu merasa paling benar sekaligus menyalahkan pandangan yang berseberangan, karena hanya Allah yang Maha Benar" — Keputusan 68 2026 Pengembangan Manhaj Tarjih 04 Lampiran 2 C Perspektif Wawasan .

Inilah makna pertama dari Wallāhu a‘lamu bish-shawāb: sikap tidak merasa paling benar. Sebuah kalimat yang pendek, tetapi menuntut kerendahan hati yang panjang.

Sidang Jumat rahimakumullah,

Makna kedua: kalimat ini membuka pintu koreksi. Keputusan Tarjih tidak dipandang sebagai kata akhir yang tidak boleh disentuh. Naskah tahun 2026 itu menegaskan, "Toleransi artinya bahwa putusan Tarjih tidak menganggap dirinya saja yang benar, sementara yang lain tidak benar." Bahkan dalam "Penerangan tentang Hal Tardjih" yang dikeluarkan tahun 1936 dinyatakan, "Kepoetoesan tardjih moelai dari meroendingkan sampai kepada menetapkan tidak ada sifat perlawanan, jakni menentang ataoe menjatoehkan segala jang tidak dipilih oleh Tardjih itoe" — Keputusan 68 2026 Pengembangan Manhaj Tarjih 04 Lampiran 2 C Perspektif Wawasan .

Naskah itu juga menyebut bahwa Tarjih Muhammadiyah "memandang keputusan-keputusan yang diambilnya adalah suatu capaian maksimal yang mampu diraih saat mengambil keputusan itu", karena "waktoe mentardjihkan itoe ialah menoeroet sekedar pengertian dan kekoeatan kita pada waktoe itoe" — Keputusan 68 2026 Pengembangan Manhaj Tarjih 04 Lampiran 2 C Perspektif Wawasan .

Dari sinilah lahir wawasan keterbukaan: apa yang diputuskan dapat dikritik dalam rangka perbaikan, dan apabila ditemukan dalil serta argumen yang lebih kuat, Majelis Tarjih akan membahasnya dan mengoreksi dalil yang dinilai kurang kuat. Allah Swt. berfirman:

ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

"(Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab (orang-orang yang mempunyai akal sehat)." — QS az-Zumar (39): 18, sebagaimana dinukil dalam Keputusan 68 2026 Pengembangan Manhaj Tarjih 04 Lampiran 2 C Perspektif Wawasan .

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Makna ketiga: kalimat ini tidak berarti meninggalkan kesungguhan. Justru sebaliknya, karena kebenaran sepenuhnya milik Allah, kita dituntut berijtihad dengan sekuat tenaga. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana diriwayatkan 'Amr bin al-'Ash ra.:

"Jika seorang hakim mengadili dan berijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala; dan jika seorang hakim berijtihad, lantas ijtihadnya salah (meleset), baginya satu pahala."

(Teks Arab hadis ini juga termuat dalam naskah sumber dalam keadaan tidak terbaca utuh, sehingga saya kutip terjemahannya sebagaimana tertulis.)

Naskah Tarjih menjelaskan bahwa pahala pertama diperoleh karena kesungguhan usahanya menggali dalil-dalil syar'i, dan pahala kedua karena ia berhasil menemukan kebenaran serta ada orang yang mengamalkan fatwanya. Jika ia keliru, ia tetap mendapat pahala atas upayanya, dan "kesalahan yang terjadi tidak menjadi dosa baginya, selama ia tidak berbicara atau memberikan fatwa atas kebatilan dengan sengaja" — Keputusan 68 2026 Pengembangan Manhaj Tarjih 04 Lampiran 2 C Perspektif Wawasan .

Maka Wallāhu a‘lamu bish-shawāb bukan alasan untuk malas, melainkan penutup dari kerja intelektual yang serius. Ia diucapkan setelah berdalil, bukan sebagai ganti berdalil.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Makna keempat, yang langsung menyentuh cara kita beragama sehari-hari: kalimat ini menjaga kita dari taklid, yakni mengikuti pendapat tanpa meneliti dasarnya dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Dalam Tanya Jawab Agama tahun 2024 dijelaskan bahwa Muhammadiyah "tidak mengikatkan diri pada suatu mazhab tertentu tetapi juga bukan anti-mazhab", dan "tidak membenarkan sikap taklid terhadap pendapat tertentu, namun mengajak warganya untuk mengikuti suatu pendapat dengan mengetahui dalil yang digunakan, baik Al-Qur'an maupun Sunah, atau menjadi muttabi'" — Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda.

Allah Swt. berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat)." — QS an-Nisa' (4): 59, sebagaimana dinukil dalam Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda.

Dan sungguh menarik, para imam mazhab sendiri justru mendorong agar pendapat mereka tidak diikuti secara buta. Imam Syafi'i berkata:

إِذَا رَأَيْتُمْ فِي كِتَابِي مَا يُخَالِفُ سُنَّةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِالسُّنَّةِ وَدَعُوا مَا قُلْت

"Apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang bertentangan dengan sunah Rasulullah saw., maka ambillah sunah tersebut dan tinggalkan pendapatku."

Demikian pula Imam Malik:

لَا تُقَلِّدْنِي وَلَا مَالِكًا وَلَا الْأَوْزَاعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا

"Janganlah engkau taklid kepada kami atau kepada Malik, Asy-Syafi'i, Al-Auza'i, dan Ats-Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil."

Dan:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيبُ فَانْظُرُوا فِي رَأْيِي فَإِنْ وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَدَعُوهُ

"Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku, bila sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunah, ambillah, dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunah, tinggalkanlah."

Ketiga pernyataan ini dinukil dalam Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda.

Para imam besar itu mengucapkan hal serupa dengan Wallāhu a‘lamu bish-shawāb: kebenaran bukan milik kami, kebenaran milik Allah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Karena itu, marilah kita periksa diri. Betapa sering kita berdebat bukan untuk mencari yang benar, tetapi untuk membuktikan bahwa kitalah yang benar. Betapa sering kita menyebut nama ulama, organisasi, atau kelompok sebagai senjata, bukan sebagai ilmu. Naskah Tanya Jawab Agama 2024 menyebut perlunya "menghilangkan ego dan merasa kelompoknya yang paling benar sedangkan kelompok lain salah" — Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda.

Padahal Allah Swt. mengingatkan:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara." — QS Ali 'Imran (3): 103, sebagaimana dinukil dalam Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda.

Hadirin sidang Jumat,

Fatwa Tarjih tahun 1999 dalam Suara Muhammadiyah No. 10 Tahun ke-84 juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama disebabkan antara lain oleh perbedaan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an, perbedaan dalam memahami as-Sunnah termasuk menentukan statusnya, perbedaan dalam penggunaan ar-ra'yu (penalaran) yang memengaruhi metodologi, dan pengaruh lingkungan — Fatwa 19 1999 Perbedaan Dan Persamaan Golongan Golongan Dalam Islam.

Empat sebab itu adalah sebab manusiawi. Karena itu, selama sebab-sebabnya masih ada, perbedaan akan tetap ada. Yang dapat kita pilih bukanlah menghapus perbedaan, melainkan menentukan adab kita di tengah perbedaan itu.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

(Duduk sejenak)


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tutup khutbah ini dengan menyadari bahwa kalimat Wallāhu a‘lamu bish-shawāb menuntut empat hal dari kita:

  • Pertama, bersungguh-sungguh dalam mencari dalil, karena kebenaran hanya milik Allah dan kita tidak boleh berbicara agama tanpa dasar.
  • Kedua, rendah hati setelah berdalil, karena hasil ijtihad kita adalah "capaian maksimal yang mampu diraih saat mengambil keputusan itu".
  • Ketiga, terbuka terhadap koreksi, karena siapa pun yang menemukan dalil yang lebih kuat wajib didengar.
  • Keempat, menjaga persaudaraan di atas kemenangan pendapat, karena perbedaan adalah sunnatullah yang tidak dapat dihindari.

Ya Allah, tunjukkanlah kami kepada yang benar sebagai yang benar dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya; tunjukkanlah kami kepada yang salah sebagai yang salah dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya. Jauhkanlah dari kami sikap merasa paling benar, dan karuniakanlah kepada kami hati yang lapang menerima kebenaran dari mana pun datangnya.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ


💎 Sumber

✍️ Catatan

  • Teks Arab dua hadis dalam naskah Keputusan 68/2026 — hadis al-ḥanīfiyyah as-samḥah dan hadis 'Amr bin al-'Ash tentang dua pahala ijtihad — termuat dalam arsip dalam kondisi tidak terbaca utuh, sehingga saya hanya mengutip terjemahannya sebagaimana tertulis di sumber dan tidak merekonstruksi teks Arabnya. Teks Arab pernyataan Imam Syafi'i dan Imam Malik dikutip persis sebagaimana tercantum dalam Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda.
  • Ayat-ayat Al-Qur'an dikutip dari mushaf rujukan, sesuai dengan ayat yang dinukil dalam kedua naskah tersebut.
  • Khutbah ini disusun untuk tema adab ilmiah di balik kalimat penutup fatwa, bukan penjelasan tentang cara kerja lembaga Tarjih secara internal.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Kebenaran mutlak hanya milik Allah Swt., dan segala kekurangan dalam naskah ini adalah keterbatasan penyusunnya.

Sajikan dalam Format
Enter untuk kirim · Shift+Enter untuk baris baruHPT & Fatwa Tarjih
Jawaban disusun otomatis dari HPT; periksa rujukan sebelum diamalkan. Percakapan dapat dibaca pengguna lain, jadi hindari data pribadi.

Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.