Pertanyaan
- Bagaimana bacaan tasyahud awal menurut Tarjih Muhammadiyah, dan sampai mana batas bacaannya?
Jawaban
-
Duduk tasyahud awal dilakukan secara iftirasy (duduk di atas kaki kiri), dengan tangan kanan menggenggam jari kelingking, jari manis, dan jari tengah, ibu jari menyentuh jari tengah, dan jari telunjuk diacungkan pada saat mulai membaca doa tasyahud. Letak perbedaannya dengan tasyahud akhir bukan pada bacaannya, melainkan pada cara duduknya — tasyahud akhir dengan tawaruk. Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu
-
Bacaannya, dalam HPT Kitab Shalat, adalah: "attahiyyatu lillahi washshalawatu waththayyibat, assalamualaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamualaina wa 'ala 'ibadillhis-shalihin. Asyhadu alla ilaha-illallah wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh", lalu membaca shalawat kepada Nabi: "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama shallaita 'ala Ibrahim wa ali Ibrahim, wa barik 'ala Muhammad wa ali Muhammad kama barakta 'ala Ibrahim wa ali Ibrahim, innaka hamidum majid", kemudian berdoa kepada Allah sekehendak hati, dengan doa yang lebih pendek daripada doa dalam tasyahud akhir, lalu berdiri untuk rakaat berikutnya. Kitab Shalat Bagian 02 Cara Shalat Wajib
-
Mengenai akhir bacaan tasyahud, teks Arab yang termuat dalam naskah adalah:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
- Penjelasan naskah Tanya Jawab Agama 4: "bacaan dalam duduk tahiyyat awal dan akhir itu pada pokoknya sama. Hanya saja sesudah bacaan shalawat, bacaan doa antara tahiyyat awal dan akhir berbeda." Naskah itu juga menyatakan: "Sampai sejauh ini kami belum menemukan secara khusus petunjuk atau tuntunan Rasulullah saw yang menjelaskan tentang adanya perbedaan bacaan tasyahud antara tasyahud awal dan tasyahud akhir." Tanya Jawab Agama 4 Masalah Bacaan Dalam Shalat
Dalil
-
Hadis Ibnu Mas'ud yang dijadikan dasar bacaan tasyahud tersebut, sebagaimana dikutip naskah: "Bila kamu duduk dalam tiap-tiap dua rakaat, bacalah: Attahiyyatu lillah, washshalawatu waththayyibat, Assalamu 'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullahi wabarakatuh, assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahish shalihin. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh", lalu pilihlah doa yang disukai dan berdoalah dengan itu kepada Tuhanmu (HR Ahmad dan an-Nasa'i). Kitab Shalat Bagian 02 Cara Shalat Wajib
-
Naskah Tanya Jawab Agama 4 juga mengutip riwayat Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw mengajarkan tasyahud sebagaimana mengajarkan surat al-Qur'an, dengan lafal "At-tahiyyatul-mubarakatus shalawatut-thayyibatulillah…". Tanya Jawab Agama 4 Masalah Bacaan Dalam Shalat
-
Larangan menambah lafal "sayyidina": "Penggunaan lafal 'sayyidina' dalam tasyahud tidak diajarkan oleh Nabi saw", dan karena kitab yang memuat tambahan itu tidak menyebutkan hadisnya, "kami tidak mengamalkan tambahan sayyidina tersebut." Fatwa 64 1998 Membaca Tahlil Sayyidina Tasyahud Mengirim Pahala Puasa
Catatan — perkembangan lintas naskah:
- HPT Kitab Shalat (Cara Shalat Wajib): urutan baku tasyahud → shalawat → doa pilihan yang lebih pendek dari doa tasyahud akhir → berdiri. Kitab Shalat Bagian 02 Cara Shalat Wajib
- Tanya Jawab Agama 4: bacaan tasyahud awal dan akhir pada pokoknya sama; pembeda hanya pada doa sesudah shalawat. Tanya Jawab Agama 4 Masalah Bacaan Dalam Shalat
- Fatwa 52 Tahun 1998: bacaan tahiyyat mengikuti Ibnu Mas'ud diakhiri dengan syahadat, dan naskah mencatat bahwa penambahan "Allahumma salli 'ala Muhammad" pada tasyahud awal adalah pendapat kalangan Syafi'iyah, "tetapi tidak demikian di kalangan ulama jumhur." Fatwa 52 1998 Bacaan Tahiyyat Awal Basmalah Qurban Belum Aqiqah
- Fatwa 64 Tahun 1998: lafal "sayyidina" tidak diamalkan karena tidak ada hadisnya. Fatwa 64 1998 Membaca Tahlil Sayyidina Tasyahud Mengirim Pahala Puasa
- Fatwa 17 Tahun 1999: merujuk HPT Kitab Shalat bab Cara Shalat Wajib "khususnya dalil nomor 34 dan 35 yang intinya bahwa bacaan tasyahud awal itu sampai pada innaka hamidun majid." Fatwa 17 1999 Arti Nadliyin Istigosah Akbar Amanah Masyarakat Madani Dan Batas B Fatwa 14 Tahun 1999 pada tahun yang sama hanya merujuk Tanya Jawab Agama jilid II halaman 66 dan jilid IV halaman 95 tanpa merinci bacaannya. Fatwa 14 1999 Bacaan Sujud Sahwi Memulai Acungan Telunjuk Bacaan Tahiyat Awal
- Tanya Jawab Agama 2026 Edisi 02: membahas keberadaan (bukan lafal) tahiyat awal, dan menegaskan bahwa shalat sunah yang tidak memiliki dalil khusus tentang tahiyat awal — seperti Tarawih formasi 4-4-3 — dikerjakan tanpa tahiyat awal, dengan bersandar pada kaidah al-aṣlu fī al-ʿibādati al-ʿadam dan al-aṣlu fī al-ʿibādati at-tauqīfu wa al-ittibāʿ. Tanya Jawab Agama 2026 Edisi 02 Tahiyat Awal Dan Bacaan Jahar Dalam Shalat Tarawih Empat Rakaa
- Dua redaksi tahun 1998 dan 1999 di atas (soal apakah shalawat termasuk bagian akhir tasyahud awal) sebaiknya dibaca berdampingan langsung pada halaman aslinya; saya belum dapat memastikan penjelasan penengahnya karena halaman yang merinci hal itu (Tanya Jawab Agama jilid II dan IV) tidak termuat dalam penelusuran ini. Teks Arab lengkap bacaan tasyahud tidak tercantum utuh dalam bagian naskah yang berhasil saya baca; yang tersedia adalah transkripsi Latin HPT dan potongan Arab pada Fatwa 52/1998.
Kesimpulan
- Bacaan tasyahud awal pada pokoknya sama dengan tasyahud akhir: tahiyyat, syahadat, lalu shalawat Ibrahimiyah sampai innaka hamidum majid, lalu doa pilihan yang lebih pendek daripada doa tasyahud akhir. Pembeda utamanya adalah cara duduk (iftirasy) dan doa sesudah shalawat. Lafal "sayyidina" tidak diamalkan.
Sumber
- Kitab Shalat Bagian 02 Cara Shalat Wajib (HPT Kitab Shalat, dalil 33–35)
- Kitab Shalat Bagian 09 Tuntunan Salat Lima Waktu (Keputusan Munas Tarjih ke-29)
- Tanya Jawab Agama 4 Masalah Bacaan Dalam Shalat
- Fatwa 52 1998 Bacaan Tahiyyat Awal Basmalah Qurban Belum Aqiqah (1998)
- Fatwa 64 1998 Membaca Tahlil Sayyidina Tasyahud Mengirim Pahala Puasa (1998)
- Fatwa 17 1999 Arti Nadliyin Istigosah Akbar Amanah Masyarakat Madani Dan Batas B (1999)
- Tanya Jawab Agama 2026 Edisi 02 Tahiyat Awal Dan Bacaan Jahar Dalam Shalat Tarawih Empat Rakaa (2026)
Wallahu a'lam bish-shawab.