Pertanyaan
- Jika malaikat dan iblis sama-sama makhluk yang berhubungan dengan Allah, bagaimana keadaan manusia yang tidak mengetahui apakah dirinya mencintai Allah?
Jawaban
-
Premisnya perlu dikoreksi lebih dulu menurut arsip. Khazanah Tarjih tidak menggambarkan iblis sebagai makhluk yang mencintai Allah. Justru sebaliknya, Tanya Jawab Agama 1 Masalah Makhluk Dan Surga menulis: "Iblis adalah makhluk Allah yang enggan melaksanakan sujud menghormati kepada Adam, takabur dan termasuk makhluk Allah yang kafir". Mengenai malaikat, arsip membahasnya dalam kerangka iman kepada malaikat dan turunnya malaikat kepada orang yang beristiqamah (Fatwa 22 2012 Doa Penguat Iman), bukan sebagai pembahasan tersendiri tentang cinta malaikat kepada Allah. Karena itu, kerangka "malaikat mencintai Allah dan iblis juga mencintai Allah" tidak berpangkal pada naskah Tarjih.
-
Yang diajarkan arsip: cinta kepada Allah tidak diukur dari rasa yang kita pastikan sendiri, melainkan dari ittiba' (mengikuti tuntunan Rasul). Muqaddimah Kitab Shalat membuka pembahasannya justru dengan ayat ini, bukan dengan pembahasan rasa:
ﻗُﻞْ إِنْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮنَ اللَّهَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻲ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ اللَّهُ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ
"Berkatalah (hai Muhammad) bila kamu cinta kepada Allah maka ikutilah Aku pastilah Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah itu Maha Pengampun dan Maha Pengasih." (Ali 'Imran: 31) — Kitab Shalat Bagian 01 Muqaddimah
-
Jalan menuju kecintaan Allah disebutkan secara operasional, yaitu amal yang diwajibkan lalu amal yang disunahkan. Tanya Jawab Agama 4 Masalah Ayat Quran Dan Hadits mengutip hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah: "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku (orang yang Kukasihi), Aku umumkan perang kepadanya. Dan tiadalah seseorang mendekat kepada-Ku lantaran Aku akan lebih mencintainya, kecuali apabila orang itu melakukan hal-hal yang Aku fardhukan kepadanya. Dan senantiasa saja hamba-Ku (itu) mendekat kepada-Ku apabila ia melakukan hal-hal yang sunat, dan karenanya Aku makin cinta kepadanya…" Halaman itu menyimpulkan: "Pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan yang diwajibkan Allah dan juga melakukan hal-hal yang disunahkan. Itulah jalan untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah."
-
Soal "tidak mengetahui keadaan hatinya" — arsip justru menyatakan hati itu memang tidak stabil dan berada dalam kendali Allah. Fatwa 22 2012 Doa Penguat Iman (2012) menyatakan bahwa Allah dan Rasul-Nya menjelaskan "karakteristik iman yang memang fluktuatif (terkadang bisa naik dan bisa juga turun)", lalu menuntun berdoa: "Ya Allah, Dzat yang mencondongkan hati, condongkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu" [HR. Muslim, no. 2654] dan "Wahai Rabb yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu" [HR. At-Tirmidzi no. 3522].
-
Arsip juga memberi penanda arah hati, bukan alat mengukur rasa. Fatwa 61 1998 Makna Hidup Zuhud (1998) mengutip al-Hasan al-Bashri:
مَنْ أَفْرَطَ فِي حُبِّ الدُّنْيَا ذَهَبَ اْلخَوْفُ اْلأَخِرَةِ مِنْ قَلْبِهِ
"Barangsiapa berlebih-lebihan kecintaan kepada kehidupan dunia, habislah ketakutan terhadap akherat dari hatinya."
Dan Tanya Jawab Agama 2025 Edisi 09 1 15 Mei Doa Dan Ayat Pilihan Untuk Mengusir Menangkal Dan Mel (disidangkan 2024, terbit 2025) menyebut bahwa di antara bentuk gangguan setan menurut penjelasan Ibnu Kaṡīr adalah "membuat hamba cinta pada dunia".
- Karena itu, cinta kepada Allah dalam arsip diperlakukan sebagai akhlak yang dilatih, bukan perasaan yang tinggal ditunggu kepastiannya. Fikih Muhammadiyah Bagian P Tuntunan Adabul Marah Fil Islam mencantumkan "Akhlak terhadap Allah" sebagai daftar: cinta terhadap Allah, takut terhadap Allah, bermohon dan berharap kepada Allah, bersyukur, tawakal, ridha terhadap qada dan qadar, mencintai dan membenci sesuatu karena Allah, senantiasa bertaubat, tawadu', dan ihsan. Sejalan dengan itu, Tanya Jawab Agama 1 Masalah Ilmu mengutip QS Fathir (35): 28 bahwa "orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya; hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu, mengerti kebenaran dan kekuasaan Allah)" — takut dan kenal kepada Allah bertumbuh lewat ilmu.
Dalil
- QS Ali 'Imran (3): 31 — ﻗُﻞْ إِنْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮنَ اللَّهَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻲ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ اللَّهُ — Kitab Shalat Bagian 01 Muqaddimah
- Hadis Bukhari dari Abu Hurairah tentang amal fardhu lalu amal sunah sebagai jalan dicintai Allah — Tanya Jawab Agama 4 Masalah Ayat Quran Dan Hadits
- QS Fathir (35): 28 tentang orang yang takut kepada Allah ialah orang berilmu — Tanya Jawab Agama 1 Masalah Ilmu
- Perkataan al-Hasan al-Bashri tentang habisnya rasa takut akhirat karena berlebihan cinta dunia — Fatwa 61 1998 Makna Hidup Zuhud
Catatan
- Saya belum menemukan dalam bagian arsip yang berhasil ditelusuri sebuah fatwa Tarjih yang secara khusus dan langsung membahas "hukum atau cara mengetahui apakah seseorang mencintai Allah". Yang ada adalah bahan-bahan di atas, yang saya rangkai tanpa menambahkan kesimpulan hukum baru. Pembahasan cinta kepada Allah juga lazimnya masuk wilayah tazkiyah dan akhlak, sehingga untuk kasus pribadi yang rumit sebaiknya diteruskan kepada Majelis Tarjih atau pembimbing agama setempat.
Kesimpulan
- Menurut arsip Tarjih, iblis tidak digambarkan sebagai pencinta Allah melainkan sebagai makhluk yang takabur dan kafir. Manusia tidak perlu menunggu merasa yakin tentang isi hatinya, sebab hati memang berubah-ubah dan digenggam Allah. Yang dituntunkan adalah menguji dan menumbuhkan cinta itu lewat ittiba' kepada Rasul, menunaikan yang wajib lalu yang sunah, belajar ilmu agar kenal kepada Allah, dan berdoa agar hati diteguhkan — sekaligus mewaspadai berlebihnya cinta dunia yang memadamkan rasa takut kepada akhirat.
Sumber
- Tanya Jawab Agama 1 Masalah Makhluk Dan Surga (Tanya Jawab Agama 1)
- Kitab Shalat Bagian 01 Muqaddimah (HPT, Kitab Shalat)
- Tanya Jawab Agama 4 Masalah Ayat Quran Dan Hadits (Tanya Jawab Agama 4)
- Fatwa 22 2012 Doa Penguat Iman (2012)
- Fatwa 61 1998 Makna Hidup Zuhud (1998)
- Tanya Jawab Agama 2025 Edisi 09 1 15 Mei Doa Dan Ayat Pilihan Untuk Mengusir Menangkal Dan Mel (2025)
- Fikih Muhammadiyah Bagian P Tuntunan Adabul Marah Fil Islam (Fikih Muhammadiyah)
- Tanya Jawab Agama 1 Masalah Ilmu (Tanya Jawab Agama 1)
Wallahu a'lam bish-shawab. Kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT.