ChatHPT — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
TanyaPercakapan baru
Sejarah islam sunni, ahmadi, syiah
Dari Basis Pengetahuan. Kamu sedang melihat hasil tanya jawab pengguna lain.Masuk untuk bertanya
Hari ini, jam 15:43 WIB
Sejarah islam sunni, ahmadi, syiah

Pertanyaan

  • Sejarah Islam Sunni, Ahmadiyah, dan Syiah.

Jawaban

Perlu saya sampaikan lebih dahulu: khazanah tarjih bukan buku sejarah, melainkan arsip fatwa dan putusan. Karena itu yang dapat saya sajikan adalah apa yang dicatat naskah Tarjih tentang asal-usul dan penamaan ketiga kelompok ini, bukan uraian sejarah lengkap. Saya urutkan sesuai tahun naskahnya.


1️⃣ Garis "Sunni" dalam naskah Tarjih

Fatwa 2003 menjelaskan bahwa kata "mazhab" dalam pengertian sekarang baru dikenal pada abad keempat Hijriyah:

"Pada masa Rasulullah s.a.w., masa Khulafaurrasyidin, masa tabi'in, masa tabi'it tabi'in, masa atba'ut tabi'in, masa imam-imam mujtahid belum dikenal kata 'madzhab' yang diartikan seperti arti yang sekarang. Kata 'madzhab' dikenal dengan arti yang sekarang mulai pada abad keempat Hijriyah (Munawar Khalil, 1956)."

Naskah yang sama menyebut konteks politiknya, yaitu melemahnya Bani Abbas, munculnya pemerintahan Bani Saman di Turkistan, Bani Fathimiy di Afrika Utara, Bani Buwaihi di Irak, dan jatuhnya Baghdad (656 H) ke tangan Tartar. Dari situ muncul anggapan bahwa mujtahid tidak akan lahir lagi, sehingga "cukup mengikuti pendapat para imam mujtahid itu yang telah dibukukan oleh murid-murid mereka." Naskah menambahkan bahwa para imam itu sendiri tidak pernah membayangkan akan dijadikan imam suatu mazhab, dan menyebut tahun hidup mereka: Abu Hanifah (80–150 H), Malik bin Anas (93–179 H), Asy-Syafi'i (150–204 H), Ahmad bin Hanbal (164–241 H) — Fatwa 08 2003 Kyai Kharismatik Madzhab Partai (2003).

Tanya Jawab Agama 2024 menegaskan bahwa kemunculan mazhab terjadi secara alami: "Secara historis, kemunculan mazhab terjadi secara alami. Pada zaman Nabi saw, ketika para sahabat menjumpai persoalan hukum, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah saw. Namun setelah Rasulullah saw wafat, ketika generasi selanjutnya menjumpai persoalan hukum, mereka bertanya kepada para ulama…" — Tanya Jawab Agama 2024 Edisi 04 16 29 Februari Dapatkah Muhammadiyah Berkembang Dengan Perbeda (2024).

Catatan penting: naskah 2024 juga menyebut adanya kesalahpahaman di masyarakat yang "menganggap Muhammadiyah bukan bagian dari ahlus-sunnah wal-jama'ah", bahkan "ada yang salah memahami bahwa Muhammadiyah itu sama dengan Ahmadiyah". Jadi label "Sunni" sebagai nama kelompok tidak dibahas sebagai sejarah tersendiri dalam arsip; yang dibahas adalah sejarah mazhab fiqih dan sikap Tarjih terhadapnya. Untuk istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah, halaman konsepnya hanya menghimpun kutipan naskah, tanpa uraian sejarah — Ahlus Sunnah Wal Jamaah.


2️⃣ Syiah — Fatwa 2021 (paling rinci)

Fatwa 16 Tahun 2021 membagi jawabannya dalam tiga bagian; bagian Syiah dimulai dari makna bahasa. Menurut Ibnu al-Jauzi, kata "syiah" dan derivasinya mengandung empat makna: kelompok yang berpecah-pecah (firaq); keluarga dan keturunan [QS al-Qashash 28: 15]; pemeluk agama atau umat (ahl al-millah) [QS Maryam 19: 69]; dan aneka ragam tendensi keliru (al-ahwa' al-mukhtalifah) [QS al-An'am 6: 65]. Ibnu Manzhur dalam Lisan al-'Arab dan Raghib al-Ashfahani memaknai syiah sebagai pengikut dan pembela seseorang.

Perkembangan maknanya:

"Dalam perkembangannya kata Syiah ini kemudian merujuk pada kelompok tertentu, yaitu mereka para Sahabat Nabi yang berpihak kepada, mendukung, dan setia berjuang bersama Ali bin Abi Thalib tatkala dan selama pertikaian berlangsung pasca wafatnya Khalifah Utsman bin 'Affan. Setelah itu, dalam perjalanannya lagi, kata Syiah mengalami pergeseran makna, yaitu menjadi makna yang menunjuk pada keyakinan (akidah), cara pandang menyeluruh (worldview), pola pikir (mindset) dan kerangka berpikir (intellectual framework)… Pada titik ini, Syiah tidak hanya satu macam saja, akan tetapi telah bermetamorfosis menjadi berbagai macam sekte. Oleh karenanya, dalam sejarah Islam hingga hari ini kita mengenal banyak sekte Syiah, seperti Syiah Kaisaniyyah, Syiah Imamiyyah (Rafidhah), Syiah Ghulat, Syiah Ismailiyyah, Syiah Zaidiyyah, dan lain sebagainya."

Empat tolok ukur Muhammadiyah terhadap suatu paham: (1) hanya Nabi Muhammad yang berpredikat maksum; (2) Nabi tidak menunjuk pengganti, kekhalifahan diserahkan kepada musyawarah umat sehingga kekhalifahan Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, dan 'Ali sah; (3) menghormati Ali sebagaimana sahabat lain tanpa mengkultuskan; (4) menerima al-Sunnah al-Maqbulah dan tidak terbatas pada hadis jalur Ahlul Bait.

Namun naskah yang sama mencatat rekomendasi Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 yang mendorong "dialog intensif antara Sunni-Syiah" untuk "saling memahami persamaan dan perbedaan, komitmen untuk memperkuat persamaan dan menghormati perbedaan, serta membangun kesadaran historis bahwa selain konflik, kaum Sunni dan Syiah memiliki sejarah kohabitasi dan kerjasama yang konstruktif dalam membangun peradaban Islam" — Fatwa 16 2021 Pandangan Muhammadiyah Tentang Syiah Hti Dan Tarekat Revisi (2021).

Perkembangan lintas tahun mengenai doktrin Imam Mahdi. Naskah 2009 menyatakan bahwa paham Imam Mahdi berasal dari kalangan Syiah Imamiyah:

"Paham tentang Imam Mahdi pada mulanya termasuk rekayasa dan strategi Syiah Imamiyah untuk mengimbangi kerajaan Bani Umayyah yang memerintah dengan penuh penindasan kepada pengikut Ali bin Abi Thalib pada waktu itu."

Naskah 2009 itu juga menyebut keyakinan terhadap al-Mahdi "adalah benar menurut hadis-hadis mutawatir ma'nawi", sementara pada bagian lain menyatakan "Muhammadiyah tidak meyakini adanya Imam Mahdi, karena tidak berdasarkan kepada dalil-dalil yang mutawatir" — Fatwa 09 I Tiqad Muhammadiyah Tentang Kiamat Dan Imam Mahdi (2009). Naskah 2022 mengulang hampir seluruh uraian itu, termasuk kedua pernyataan tersebut, dan menutup dengan nasihat agar umat "berhati-hati dan tidak mudah percaya pada klaim-klaim yang tidak jelas kebenarannya" — Fatwa 22 2022 Mimpi Bertemu Rasulullah Saw (2022). Karena itu, dua rumusan yang tampak berbeda itu saya sampaikan apa adanya tanpa memilih salah satunya.


3️⃣ Ahmadiyah

Fatwa 2009 menjawab langsung soal sikap Muhammadiyah terhadap Ahmadiyah:

"Secara khusus, Muhammadiyah memang tidak mengeluarkan pernyataan sikap tentang Ahmadiyah. Namun, secara umum Muhammadiyah telah mempunyai pandangan bahwa siapa pun itu, jika mengimani adanya nabi setelah Nabi Muhammad saw adalah kafir."

Dasar yang dikutip adalah Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah Kitab Beberapa Masalah: "Barang siapa mengimankan kenabian seseorang sesudah Nabi Muhammad SAW, maka harus diperingatkan dengan firman Allah 'Muhammad itu bukannya bapak seseorang dari padamu, tetapi ia Pesuruh Allah dan penutup sekalian Nabi'…" — Fatwa 30 Posisi Telunjuk Saat Tahiyat Dan Soal Ahmadiyah Dan Pornografi (2009).

Mengenai asal-usulnya, arsip tidak memuat sejarah berdirinya Ahmadiyah. Yang dicatat hanyalah klaim Mirza Ghulam Ahmad, dan itu pun muncul dalam konteks pembahasan Imam Mahdi:

"Soal Imam Mahdi oleh musuh-musuh Islam dipakai sebagai senjata untuk merusak Islam, seperti adanya klaim dari Mirza Ghulam, di samping sebagai Nabi juga sebagai Mahdi." — Fatwa 09 I Tiqad Muhammadiyah Tentang Kiamat Dan Imam Mahdi (2009); diulang pada Fatwa 22 2022 Mimpi Bertemu Rasulullah Saw (2022).


Catatan

  • Tahun-tahun di atas adalah tahun naskah fatwa dimuat, bukan tahun peristiwa sejarahnya. Satu-satunya penanggalan sejarah yang eksplisit dalam sumber adalah abad keempat Hijriyah (kemunculan istilah mazhab), tahun-tahun hidup empat imam mazhab, dan jatuhnya Baghdad 656 H — itu pun dikutip fatwa 2003 dari Munawar Khalil (1956) dan Muhammad Abu Zahrah (1956).

  • Arsip yang berhasil saya telusuri belum memuat uraian sejarah tersendiri tentang: asal-usul penamaan "Sunni/Ahlus Sunnah", sejarah berdirinya Ahmadiyah dan tokoh-tokohnya selain Mirza Ghulam Ahmad, serta sejarah politik panjang Syiah selain latar Bani Umayyah dan pembentukan doktrin Imam Mahdi. Saya belum dapat memastikan apakah itu tidak ada dalam khazanah atau hanya belum tercakup penelusuran ini.

  • Untuk perbandingan internal yang lebih umum, ada naskah 1999 tentang perbedaan dan persamaan golongan dalam Islam, meski fokusnya Muhammadiyah–NU, bukan ketiga kelompok di atas — Fatwa 19 1999 Perbedaan Dan Persamaan Golongan Golongan Dalam Islam.

Kesimpulan

  • Yang tercatat dalam khazanah tarjih: istilah mazhab — termasuk yang kemudian menjadi lingkup Sunni — baru mengkristal pada abad keempat Hijriyah; Syiah bermula sebagai penamaan bagi pendukung Ali dalam pertikaian pasca wafatnya Utsman, lalu berkembang menjadi beragam sekte, dengan doktrin Imam Mahdi dicatat sebagai berasal dari Syiah Imamiyah; sedangkan Ahmadiyah disikapi bukan lewat pernyataan khusus, melainkan lewat kaidah umum bahwa mengimani nabi setelah Nabi Muhammad saw menjadikan seseorang kafir.

Sumber

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Enter untuk kirim · Shift+Enter untuk baris baruHPT & Fatwa Tarjih
Jawaban disusun otomatis dari HPT; periksa rujukan sebelum diamalkan. Percakapan dapat dibaca pengguna lain, jadi hindari data pribadi.

Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.