Pertanyaan
Bagaimana tuntunan salat Duha menurut Tarjih Muhammadiyah — waktu, jumlah rakaat, cara mengerjakan, hukum berjamaah, dan doanya?
Jawaban
-
Waktu. "Shalat dhuha ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada permulaan siang, yaitu pada waktu naiknya matahari sampai matahari berkulminasi yaitu berada di tengah" — Fatwa 33 2013 Salat Duha Untuk Minta Rizki. Secara lebih rinci: "Dilaksanakan pada saat matahari sudah naik kira-kira sepenggal atau setinggi tonggak (maksudnya bukan pada waktu matahari baru terbit), dan berakhir menjelang masuk waktu zhuhur (Berdasarkan HR. Muslim dari Ummu Hani'). Dalam Jadwal Waktu Shalat, waktu shalat dhuha dimulai sekitar setengah jam setelah matahari terbit (syuruq)."
-
Jumlah rakaat. Dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat "dengan melakukan salam tiap dua rakaat", atau "Boleh dikerjakan dengan jumlah rakaat yang kita inginkan" — Fatwa 14 Tatacara Salat Tahajud Dan Duha.
-
Boleh tidak berurutan. "salat Dhuha itu dikerjakan maksimal 12 rakaat dan ini bukan merupakan satu paket yang harus dikerjakan. Artinya boleh memilih jumlah rakaat sesuai dengan waktu/kesempatan yang ada" — Fatwa 57 1998 Puasa Sunat Tiga Hari Tiap Bulan Salat Duha Tidak Urut Kotoran Cic.
-
Berjamaah. "Shalat duha boleh dikerjakan dengan berjamaah." Caranya: "dengan bacaan sirr (perlahan-perlahan, tidak jahr/terang)" — Tanya Jawab Agama 9 Bab 5 Seputar Shalat Sunah.
-
Doa sesudahnya. Sepanjang penelusuran Tarjih, "memang tidak ditemukan adanya hadis yang menerangkan atau mengajarkan lafal-lafal atau doa-doa tertentu setelah selesai menunaikan salat duha", sehingga "ia dapat melafalkan doa apa saja yang baik tanpa harus terikat dengan lafal yang dianggap berasal dari Rasulullah saw untuk salat duha" — Fatwa 15 Doa Sesudah Salat Duha.
Dalil
-
Anjuran melaksanakannya, riwayat Abu Hurairah:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: أَوْصَانِى خَلِيلِى صلى الله عليه وسلم بِثَلاَثٍ: بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ. [رواه مسلم]
"Kawan karibku (Rasulullah) saw. mewasiatiku tiga hal: Puasa tiga hari pada setiap bulan, shalat dhuha dua rakaat, dan shalat witir sebelum tidur" [HR. Muslim] — Fatwa 11 2015 Shalat Duha Tiap Hari
-
Jumlah rakaat boleh ditambah, riwayat 'Aisyah:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ. [رواه مسلم]
"Rasulullah saw mengerjakan shalat dhuha empat rakaat dan adakalanya menambah sesukanya" [HR. Muslim] — Fatwa 14 Tatacara Salat Tahajud Dan Duha
-
Keutamaannya, riwayat Abu Dzarr:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ... وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى. [رواه مسلم]
"…Semua itu dicukupi dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu dhuha" [HR. Muslim] — Fatwa 11 2015 Shalat Duha Tiap Hari
Perkembangan posisi Tarjih lintas tahun:
-
1998 (Fatwa 57/1998). Menegaskan salat Duha maksimal 12 rakaat dan bukan satu paket; boleh dikerjakan terpisah-pisah sesuai kesempatan. Dalil jumlah rakaat dikutip dari empat riwayat (dua, empat, delapan, dua belas rakaat). — Fatwa 57 1998 Puasa Sunat Tiga Hari Tiap Bulan Salat Duha Tidak Urut Kotoran Cic
-
2006 (Tanya Jawab Agama, disidangkan 5 Mei 2006). Menjawab secara khusus hukum salat Duha berjamaah: dibolehkan, dengan bacaan sirr, disertai pengakuan bahwa "para ulama memperselisihkan apakah yang dikerjakan oleh Nabi saw. dan para sahabat itu shalat duha atau bukan". — Tanya Jawab Agama 9 Bab 5 Seputar Shalat Sunah
-
2009 (Fatwa 14). Merangkum tata cara: waktu sejak matahari naik hingga menjelang zuhur, dan jumlah dua/empat/delapan rakaat dengan salam tiap dua rakaat, atau sesuai keinginan. Di sini juga dikutip catatan al-'Iraqi dan as-Suyuti bahwa "Hadist-hadist yang menyatakan jumlah rakaatnya dua belas tidak ada yang lepas dari cacat" — sebuah keterangan yang tampak lebih ketat daripada rumusan 1998. — Fatwa 14 Tatacara Salat Tahajud Dan Duha
-
2011 (Fatwa 15). Doa sesudah salat Duha: tidak ditemukan hadisnya; lafal "Inna duha duha-uka…" "bukanlah doa yang berasal dari Nabi Muhammad saw, melainkan do'a yang dimunculkan pertama kali oleh ahli hukum (fuqaha), seperti oleh asy-Syarwani dalam Syarh Minhaj dan ad-Dimyati dalam I'anatut-Thalibin". — Fatwa 15 Doa Sesudah Salat Duha
-
2013 (Fatwa 33). Menegaskan "tidak ada shalat yang khusus untuk meminta rezeki, termasuk shalat dhuha", dan bahwa doa yang beredar di masyarakat "tidak ditemukan di dalam kitab-kitab hadis maupun kitab-kitab fikih". Yang dilarang adalah "meyakini bahwa doa itu berasal dari Nabi saw dan harus dibaca setelah shalat dhuha". — Fatwa 33 2013 Salat Duha Untuk Minta Rizki
-
2015 (Fatwa 11). Menjawab anggapan bahwa Duha tidak boleh setiap hari. Tarjih menjelaskan bahwa hadis 'Aisyah dipahami sebagai penafian kebiasaan (kerajinan) Nabi, bukan penafian shalatnya, dan untuk umat "disunnahkan untuk terus-menerus melakukannya"; kesimpulannya: "kita disunatkan untuk melakukan shalat dhuha semampu kita tanpa melalaikan kewajiban-kewajiban". Fatwa ini juga mengutip bahwa An-Nawawi menyatakan mayoritas ulama berpendapat Duha "sunat muakkad". — Fatwa 11 2015 Shalat Duha Tiap Hari
Catatan
- Yang berubah antar-tahun bukan pokok hukumnya (Duha tetap sunat), melainkan penekanan: 1998 menonjolkan batas maksimal 12 rakaat dan boleh terpisah; 2009 mengutip kritik ahli hadis atas riwayat 12 rakaat; 2015 menegaskan anjuran merutinkan sebatas kemampuan. Perlu dicatat pula bahwa halaman-halaman yang saya baca tidak memuat rincian bacaan surat tertentu setelah al-Fatihah dalam salat Duha, sehingga hal itu belum dapat saya pastikan dari arsip yang berhasil ditelusuri. Untuk kasus ibadah yang bersifat personal, silakan berkonsultasi dengan Majelis Tarjih atau pimpinan Muhammadiyah setempat.
Kesimpulan
- Salat Duha adalah salat sunat pada permulaan siang hingga menjelang zuhur, dikerjakan dua, empat, delapan rakaat dengan salam tiap dua rakaat, atau sesuai kemampuan; boleh terpisah waktunya, boleh berjamaah dengan bacaan sirr; tidak ada doa khusus yang ditetapkan Nabi sesudahnya, dan tidak ada kekhususan Duha untuk meminta rezeki. Tarjih menganjurkan merutinkannya sesuai kemampuan tanpa melalaikan kewajiban.
Sumber
- Fatwa 57 1998 Puasa Sunat Tiga Hari Tiap Bulan Salat Duha Tidak Urut Kotoran Cic (1998)
- Tanya Jawab Agama 9 Bab 5 Seputar Shalat Sunah (2006)
- Fatwa 14 Tatacara Salat Tahajud Dan Duha (2009)
- Fatwa 15 Doa Sesudah Salat Duha (2011)
- Fatwa 33 2013 Salat Duha Untuk Minta Rizki (2013)
- Fatwa 11 2015 Shalat Duha Tiap Hari (2015)
Wallahu a'lam bish-shawab.