Pertanyaan
- Di manakah Allah?
Jawaban
-
Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah telah membahas persoalan ini dalam beberapa fatwa. Jawabannya tidak bisa diringkas dalam satu pernyataan lokasi, karena Al-Qur'an sendiri memuat dua kelompok ayat yang sekilas tampak berbeda, namun sesungguhnya tidak bertentangan.
-
Kelompok pertama: Allah bersemayam di atas 'Arsy. Terdapat delapan ayat yang menyebutkan Allah istawā 'ala al-'arsy (bersemayam di atas 'Arsy), antara lain QS. al-A'raf (7): 54, QS. Yunus (10): 3, QS. Thaha (20): 5, QS. al-Furqan (25): 59, QS. as-Sajdah (32): 4, QS. al-Hadid (57): 4, dan lainnya. 'Arsy secara bahasa berarti singgasana atau tahta. Menurut Rasyid Ridha, 'Arsy adalah pusat pengendalian segala persoalan alam semesta. Hakikat 'Arsy termasuk perkara gaib yang hanya diketahui Allah — kita wajib mengimaninya tanpa mempersoalkan bagaimana dan di mana.
-
Kelompok kedua: Allah Maha Dekat. Ayat-ayat seperti QS. Qaf (50): 16 (Allah lebih dekat daripada urat leher), QS. al-Baqarah (2): 186, dan QS. al-Hadid (57): 4 (Allah bersama kalian di mana pun kalian berada) menunjukkan kedekatan Allah.
-
Kedua kelompok ayat ini tidak bertentangan. Makna qarib (dekat) dan ma'akum (bersama kalian) — sebagaimana dijelaskan oleh As-Sa'di dan Ibnu Katsir yang dikutip dalam fatwa — bukanlah kedekatan atau kebersamaan secara fisik (zat) di segala tempat, melainkan ilmu, pengawasan, pendengaran, dan penglihatan Allah yang meliputi segala sesuatu. Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar setiap amal hamba-Nya di mana pun berada.
-
Terkait hadis "Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir," para ulama berbeda: ada yang memahaminya secara harfiah (zat turun), dan ada yang memahaminya sebagai turunnya rahmat, ampunan, dan sifat-sifat baik Allah kepada hamba-Nya.
-
Kesimpulan posisi Tarjih: Allah bersemayam di atas 'Arsy dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa kita mempertanyakan bagaimana dan di mana. Sementara kebersamaan Allah dengan hamba-Nya bermakna ilmu dan pengawasan-Nya yang meliputi seluruh ciptaan. Dengan kata lain, Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang dan tempat — Dia di atas 'Arsy dengan hakikat yang hanya diketahui-Nya, dan pada saat yang sama ilmu, kekuasaan, serta pengawasan-Nya meliputi seluruh alam.
Dalil
- QS. al-A'raf (7): 54 — "... kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy"
- QS. Qaf (50): 16 — "dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya"
- QS. al-Hadid (57): 4 — "Dia bersama kamu di mana pun kamu berada"
- Hadis nuzul (turun) riwayat Bukhari dan Muslim
Catatan
- Fatwa 03/2003 dan Tanya Jawab Agama Jilid 7 menekankan iman kepada 'Arsy tanpa takyif (mempertanyakan bagaimana) dan tasybih (menyerupakan dengan makhluk). Fatwa 25/2022 menegaskan kembali posisi yang sama dan menafsirkan kebersamaan Allah sebagai ilmu dan pengawasan, bukan kehadiran zat di segala tempat.
Kesimpulan
- Pertanyaan "Allah ada di mana?" tidak bisa dijawab dengan menunjuk suatu tempat, karena Allah Mahasuci dari keterbatasan ruang dan arah. Umat Islam wajib mengimani bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy dengan cara yang layak bagi-Nya dan bahwa ilmu serta pengawasan-Nya meliputi segala sesuatu, tanpa ada hijab antara Dia dan hamba-Nya.
Sumber
- Fatwa 03 2003 Allah Bersemayam Di Arsy (2003)
- Fatwa 25 2022 Beberapa Masalah Tauhid (2022)
- Tanya Jawab Agama 7 Bab Vii Penjelasan Beberapa Masalah (Tanya Jawab Agama Jilid 7)
Wallahu a'lam bish-shawab.