Pertanyaan
- Siapa Allah?
Jawaban
-
Khazanah tarjih tidak menjawab pertanyaan ini dengan spekulasi tentang hakikat Zat Allah, melainkan dengan menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Perkembangannya dalam arsip dapat ditelusuri secara kronologis:
-
2013 — Perbedaan antara Tuhan dan Makhluk. Fatwa ini menegaskan bahwa persoalan "perbedaan Allah dan makhluk" pada dasarnya adalah persoalan apakah sifat Allah sama dengan sifat makhluk. Tarjih menolak dua aliran yang menyamakan-Nya: Musyabbihah (antropomorfisme, menyamakan sifat Allah dengan sifat manusia) dan Mujassimah (korporalisme, beranggapan Allah berjisim/bertubuh seperti manusia), dan menyatakan keduanya "jelas salah". Pangkal yang harus dibangun lebih dulu adalah Tauhid al-Asma' wa al-Shifat, yaitu "Allah tidak diserupai oleh seorang pun dari makhluk-Nya". Sifat Allah dan sifat makhluk berbeda; kalaupun ada kesamaan, itu hanya pada segi bahasa, bukan pada substansi dan kapasitasnya — misalnya ar-Rahim (rahmat/kasih sayang) sebagai sifat Allah berbeda substansi dan kapasitasnya dari rahmat makhluk.
-
2018 — 20 Sifat Allah. Tarjih menjelaskan bahwa Allah "telah menggambarkan tentang segala kesempurnaan-Nya kepada seluruh makhluk dalam al-Quran dan al-Hadis, baik yang berupa nama ataupun sifat-sifat Allah". Dua puluh sifat yang dimaksud — wujud, qidam, baqa, mukhalafatu lil hawadits, qiyamuhu bi nafsihi, wahdaniyah, qudrat, iradah, ilmu, hayat, sama', bashar, kalam, dan seterusnya — dinyatakan "telah masuk di dalam al-asmaa' al-husna", sehingga sifat dan nama Allah itu sama dan "tidak ada batasan terhadap keduanya, karena Allah itu Maha Mutlak tanpa adanya batasan".
-
2021 — Pendidikan Tauhid Sejak Dini. Pada fase balig, anak diawali dengan "memperkenalkan Allah dan sifat keesaan-Nya, bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang wajib disembah. Tiada Tuhan selain Allah dan tidak akan meminta pertolongan pada siapa pun selain pada Allah".
-
2022 — Beberapa Masalah Tauhid. Fatwa ini merujuk HPT Kitab Iman (Keputusan Kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo, 1929): "Allah adalah Tuhan yang sebenarnya (al-Ilah al-Haq), yang menciptakan segala sesuatu (al-Khaliq) dan pasti ada-Nya (wajib al-wujud). Dialah Yang Pertama tanpa permulaan dan Yang Akhir tanpa penghabisan (al-awwalu bi la bidayah wa al-akhiru bi la nihayah), atau bisa disebut dengan sifat qidam dan baqa. Tiada sesuatu yang menyamai-Nya, biasa disebut mukhalafatu lil-hawaditsi (berbeda dengan makhluk). Yang Esa tentang ketuhanan, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, sering disebut wahdaniyah". Naskah yang sama juga mencatat bagian Tanbih (Perhatian) dalam HPT Kitab Iman: "Allah tidak memerintahkan untuk membicarakan hal-hal yang tidak tercapai oleh akal dalam hal akidah, sebab akal manusia tidak mungkin mengetahui tentang Zat Allah dan hubungannya dengan sifat-sifat yang ada pada Allah".
-
-
Jadi, sejauh yang dirumuskan khazanah tarjih, Allah dikenali melalui nama dan sifat-Nya yang Dia sendiri tetapkan: Tuhan yang sebenarnya, Pencipta, wajib ada, tanpa permulaan dan tanpa akhir, tidak menyerupai sesuatu pun, dan Maha Esa dalam ketuhanan, sifat, serta perbuatan-Nya. Mengenai hakikat Zat-Nya, tarjih justru menyatakan bahwa akal manusia tidak mungkin menjangkaunya.
Dalil
-
Firman Allah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat." [QS. asy-Syura (42): 11] — Fatwa 05 2013 Perbedaan Antara Tuhan Dan Makhluk
-
Firman Allah:
وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Hanya milik Allah asmaa al-husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa al-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." [QS. al-A'raf (7): 180] — Fatwa 12 2018 20 Sifat Allah
-
Sabda Rasulullah saw.:
إِنَّ لِلهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ
"Sesungguhnya bagi Allah sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa menghitungnya maka ia akan masuk surga." [HR. al-Bukhari: 2736] — Fatwa 12 2018 20 Sifat Allah
Catatan
- Apa yang disampaikan di atas adalah rumusan Tauhid al-Asma' wa al-Shifat sebagaimana dikutip naskah tarjih, bukan uraian tentang hakikat Zat Allah. Naskah 2022 secara eksplisit menyebut bahwa akal manusia tidak mungkin mengetahui Zat Allah; karena itu arsip tarjih tidak memuat pembahasan tentang "bagaimana" Zat Allah, dan saya tidak menambahkannya dari luar khazanah. Untuk pembacaan utuh, naskah merujuk langsung ke HPT Kitab Iman.
Kesimpulan
- Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, Pencipta segala sesuatu, wajib ada-Nya, tanpa permulaan dan tanpa akhir, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, dan Maha Esa dalam ketuhanan, sifat, dan perbuatan-Nya. Ia dikenali melalui nama-nama dan sifat-sifat yang Dia tetapkan sendiri; hakikat Zat-Nya di luar jangkauan akal manusia.
Sumber
- Fatwa 05 2013 Perbedaan Antara Tuhan Dan Makhluk (2013, Fatwa 05/2013)
- Fatwa 12 2018 20 Sifat Allah (2018, Fatwa 12/2018)
- Fatwa 28 2021 Pendidikan Tauhid Sejak Dini (2021, Fatwa 28/2021)
- Fatwa 25 2022 Beberapa Masalah Tauhid (2022, Fatwa 25/2022)
Wallahu a'lam bish-shawab.