Halo! Saya bantu menelusuri arsip Tarjih Muhammadiyah — silakan tanyakan apa saja.
Nama saya ChatHPT — asisten penelusuran arsip Himpunan Putusan Tarjih (HPT) dan Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Silakan ajukan pertanyaan seputar fatwa, HPT, atau metodologi Tarjih.
Terima kasih tawarannya, tapi saya tetap ChatHPT ya — nama itu bagian dari identitas saya sebagai asisten arsip Tarjih, jadi tidak saya ganti. Kalau ada yang ingin ditelusuri soal HPT, Fatwa Tarjih, atau metodologi Tarjih Muhammadiyah, silakan langsung tanyakan.
Hehe, makasih niat akrabnya — tapi biar tetap jelas perannya, panggil saya ChatHPT saja ya. Yuk, kalau ada persoalan fiqih atau putusan Tarjih yang mau ditelusuri, saya siap bantu.
Siap. Silakan tanyakan topik yang mau ditelusuri — misalnya ibadah, zakat, munakahat, atau kalender Hijriah.
Pertanyaan
- Saya kecewa kepada seseorang yang hanya mengingat kesalahan kecil orang lain kepadanya, tetapi melupakan kesalahannya sendiri yang besar kepada orang lain. Sikap apa yang semestinya saya ambil?
Jawaban
-
Arsip Tarjih tidak memuat fatwa yang membahas persis kasus perasaan kecewa seperti yang Saudara alami. Yang ada adalah tuntunan akhlak yang berbicara tentang menahan amarah, memaafkan, larangan berburuk sangka dan bergunjing, kewajiban menjaga silaturahim, serta cara menasihati. Empat hal itu yang bisa Saudara pegang:
-
Pertama, menahan amarah dan memberi maaf adalah ciri orang bertakwa — bukan tanda lemah. Naskah Tanya Jawab Agama 4 Masalah Akhlak merangkum ciri orang muttaqin: "a. beriman, b. sabar, c. benar, d. tekun beribadah, e. mau membelanjakan hartanya untuk kebajikan, f. banyak memohon ampun di waktu malam, g. mampu menahan amarah, h. memaafkan kesalahan orang."
-
Kedua, jangan biarkan kekecewaan berubah menjadi gibah (membicarakan keburukan orang di belakangnya) atau buruk sangka. Fatwa 35 Tahun 2021 tentang Gibah dan Kebohongan menyebut bahayanya: "gibah itu menyebabkan berbagai penyakit hati seperti dengki, sombong, dendam dan meremehkan orang lain. Gibah juga menyebabkan pikiran negatif dan buruk sangka kepada orang lain. Selain itu, gibah menyebabkan permusuhan, putusnya tali ukhuwah atau persaudaraan." Karena itu, keluhan Saudara sebaiknya tidak dijadikan bahan cerita tentang orang tersebut kepada orang lain.
-
Ketiga, nasihatilah dengan cara yang bijaksana, bukan dengan membeberkan aibnya. Pada kasus tetangga yang menyebarkan keburukan orang lain, Fatwa 35 Tahun 2021 memberi arah: "Saudara menasihati tetangga yang melakukan gibah atau kebohongan agar berhenti dari perbuatannya itu dan meminta maaf kepada orang yang digibah atau dibohonginya…" Sementara kepada pihak yang disakiti: "saudara menasihati mereka berdua agar memaafkan penggibah atau pembohong apabila dia meminta maaf. Memberi maaf kepada orang yang meminta maaf adalah perbuatan yang terpuji dan sangat dianjurkan." Naskah Fikih Muhammadiyah Bagian P juga mencantumkan dalam daftar akhlak terhadap sesama manusia: "Pemaaf", "Memelihara hubungan dan silaturahmi", dan "Nasihat menasihati atas jalan yang benar dengan cara yang bijaksana".
-
Keempat, jangan memutus hubungan dengannya. Fatwa 17 Tahun 2013 tentang Sumpah dan Kafaratnya menyatakan bahwa bersumpah untuk tidak menghubungi seseorang lagi hukumnya haram, "karena saudara telah bersumpah untuk meninggalkan sesuatu yang wajib yaitu bersilaturrahim atau menjalin hubungan yang baik dengan orang lain", dan orang itu "wajib melanggar atau membatalkan sumpah tersebut dengan cara menghubungi atau melanjutkan silaturrahim dengan orang tersebut."
-
Soal mengingat kesalahan sendiri: yang dianjurkan naskah adalah melihat ke dalam. Fatwa 04 Tahun 2012 mengutip sabda Nabi saw.: "Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat", dan hadis Abu Dzar ra.: "Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." Inilah yang bisa Saudara jadikan pegangan bagi diri sendiri, sekaligus bahan nasihat yang lembut bagi dia.
-
Dalil
-
QS. Ali Imran (3): 134 —
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." — Tanya Jawab Agama 4 Masalah Akhlak, Fatwa 26 Kebiasaan Hari Raya Obat Kalung Baiat -
QS. al-Hujurat (49): 12 —
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمُ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُم أَنْ يَّأكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۚ وَاتَّقُوْا اللهَ ۚ إِنَّ اللهَ تَوّابٌ رَحيْمٌ
"Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain, dan jangan di antara kalian menggunjing sebagian yang lain…" — Fatwa Gibah Dan Kebohongan -
Hadis larangan berprasangka: "Hindarilah olehmu berprasangka (yang tidak baik), sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta berita" [HR al-Bukhari dan Muslim] — Tanya Jawab Agama 8 Bab I Seputar Akhlak
Catatan
- Saya belum menemukan naskah Tarjih yang membahas secara khusus kasus seseorang yang hanya mengingat kesalahan orang lain kepadanya dan melupakan kesalahannya sendiri. Yang saya sampaikan di atas adalah tuntunan akhlak yang topiknya berdekatan, dari naskah-naskah tahun 2009, 2012, 2013, 2021, serta naskah Tanya Jawab Agama yang tahunnya tidak tercatat dalam arsip. Posisinya konsisten: menahan amarah, memaafkan, menutup aib, menjaga silaturahim, dan menasihati dengan cara bijaksana. Untuk kasus pribadi yang rumit, silakan berkonsultasi dengan Majelis Tarjih atau pimpinan Muhammadiyah setempat.
Kesimpulan
- Tahan amarah dan maafkan, jangan menggunjingkan atau berburuk sangka, nasihatilah dia secara bijaksana dan empat mata, dan jangan memutus hubungan. Urusan penilaian atas dirinya serahkan kepada Allah, sementara Saudara fokus pada perbaikan diri sendiri.
Sumber
- Tanya Jawab Agama 4 Masalah Akhlak (tahun tidak tercatat)
- Fatwa 26 Kebiasaan Hari Raya Obat Kalung Baiat (2009)
- Fatwa 04 2012 Penghasilan Dari Pekerjaan Dengan Meninggikan Ipk (2012)
- Fatwa 17 2013 Sumpah Dan Kafaratnya (2013)
- Tanya Jawab Agama 8 Bab I Seputar Akhlak (tahun tidak tercatat)
- Fatwa 35 2021 Gibah Dan Kebohongan (2021)
- Fikih Muhammadiyah Bagian P Tuntunan Adabul Marah Fil Islam
Wallahu a'lam bish-shawab.
Pertanyaan
- Sikap apa yang semestinya saya ambil ketika kecewa kepada orang yang hanya mengingat kesalahan orang lain kepadanya, tetapi lupa kesalahannya sendiri?
Jawaban
-
Arsip Tarjih tidak memuat fatwa yang persis membahas kasus ini. Yang ada tuntunan akhlak yang berdekatan, dan posisinya konsisten:
- Tahan amarah dan maafkan. Naskah Tanya Jawab Agama 4 Masalah Akhlak menyebut ciri orang muttaqin antara lain "mampu menahan amarah" dan "memaafkan kesalahan orang."
- Jangan bergunjing atau berburuk sangka. Fatwa 35 Tahun 2021 menyebut gibah "menyebabkan permusuhan, putusnya tali ukhuwah atau persaudaraan."
- Nasihati dengan bijaksana, empat mata — bukan dengan membeberkan aibnya kepada orang lain. Fatwa 35 2021 Gibah Dan Kebohongan
- Jangan memutus hubungan. Fatwa 17 Tahun 2013 menyatakan sumpah untuk tidak menghubungi seseorang lagi wajib dibatalkan, "karena saudara telah bersumpah untuk meninggalkan sesuatu yang wajib yaitu bersilaturrahim." Fatwa 17 2013 Sumpah Dan Kafaratnya
- Introspeksi diri. "Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat" — Fatwa 04 2012 Penghasilan Dari Pekerjaan Dengan Meninggikan Ipk
Dalil
- QS. Ali Imran (3): 134 — "…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
- QS. al-Hujurat (49): 12 — "Jauhilah banyak prasangka… janganlah kamu mencari kesalahan orang lain, dan jangan di antara kalian menggunjing sebagian yang lain…" — Fatwa Gibah Dan Kebohongan
Catatan
- Ini tuntunan akhlak yang topiknya berdekatan, bukan fatwa khusus untuk kasus Saudara. Untuk kasus pribadi yang rumit, konsultasikan ke Majelis Tarjih atau pimpinan Muhammadiyah setempat.
Kesimpulan
- Tahan amarah, maafkan, jangan menggunjingkan, nasihati secara bijaksana, dan jangan memutus silaturahim. Penilaian atas dirinya serahkan kepada Allah; fokus pada perbaikan diri sendiri.
Sumber
Wallahu a'lam bish-shawab.
Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.