ChatHPT — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
TanyaPercakapan baru
Aku pengen banget cerita asal muasal Ali
Dari Basis Pengetahuan. Kamu sedang melihat hasil tanya jawab pengguna lain.Masuk untuk bertanya
Jum, 6 Nov, jam 20:19 WIB
Aku pengen banget cerita asal muasal Ali

Maaf, pertanyaan itu di luar yang bisa saya bantu. Saya hanya menelusuri Himpunan Putusan Tarjih dan fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah. Kalau ada sisi keagamaannya yang ingin ditanyakan, saya dengan senang hati membantu.

Jum, 6 Nov, jam 20:19 WIB
Menurutmu Surat apa yang paling menusuk di hati untuk orang yang mungkin sudah istidraj

Pertanyaan

  • "Surat apa yang paling menusuk hati bagi orang yang mungkin sudah istidraj?"

Jawaban

  • Khazanah tarjih tidak memuat pemeringkatan atau penilaian "surat yang paling menusuk hati". Setelah saya telusuri, istidraj hanya dibahas di satu naskah, dan di situ pun tidak ada rujukan ayat atau surat yang disebut sebagai "yang paling menusuk". Jadi saya tidak menyusun peringkat seperti itu; itu bukan sesuatu yang bisa saya ambil dari arsip, dan bukan pula penilaian pribadi yang layak saya berikan.

  • Yang ada dalam arsip adalah penanda istidraj, dan justru itu yang lebih berguna. Naskah Tanya Jawab Agama 9 Bab 2 menyebut:

    "seseorang ibadahnya tidak baik, tetapi disanjung atau dipuji sebagai manusia luar biasa, seseorang rezekinya melimpah, selalu bertambah tetapi orang itu tidak pernah mengeluarkan zakat, seseorang sangat disukai oleh orang banyak, padahal dia bukan ahli ibadah, hanya karena pandai menarik hati orang banyak. Hal-hal seperti itu bisa dimasukkan kepada apa yang disebut dengan istilah bahasa agama Islam dengan istidraj, yaitu proses kemerosotan bagi seseorang secara pelan-pelan atau berangsur-angsur."
    — Tanya Jawab Agama 9 Bab 2 Alam Kubur Dan Akhirat

  • Satu catatan penting dari naskah yang sama, karena pertanyaan ini menyangkut penilaian atas orang lain:

    "Paling tinggi kita hanya bisa bersangka baik saja pada seseorang, kalau tindak-tanduknya dilihat dari kacamata agama adalah baik, karena memastikan tidak mungkin dilakukan."

  • Sejalan dengan itu, naskah lain menempatkan nikmat sebagai ujian, bukan bukti keridaan Allah:

    "setiap nikmat yang diberikan Allah adalah amanah Allah untuk disyukuri dan dimanfaatkan sesuai dengan proporsinya"
    — Tanya Jawab Agama 2 Masalah Kejadian Dan Amalan Manusia

Dalil

  • Hadis yang dikutip dalam Fatwa 04 Nikmat Dunia Dan Akhirat (2007):

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ [رواه البخاري والترمذي وابن ماجه وأحمد]

    "Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang."

Catatan

  • Penelusuran ini terbatas pada naskah istidraj yang tersedia; saya belum menemukan naskah tarjih yang membahas ayat atau surat tertentu sebagai "yang paling menusuk" bagi orang dalam keadaan istidraj. Bila Anda punya rujukan ayat tertentu yang ingin ditelaah, ajukan ayatnya dan saya telusuri apakah ada pembahasannya di arsip.

Kesimpulan

  • Tidak ada surat yang disebut sebagai "paling menusuk" dalam khazanah ini. Istidraj dikenali dari tandanya — dipuji padahal ibadahnya tidak baik, rezeki melimpah tanpa zakat, disukai banyak orang bukan karena ibadah — dan naskahnya mengingatkan bahwa memastikan keadaan batin seseorang bukan wewenang kita.

Sumber

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Jum, 6 Nov, jam 20:21 WIB
disini bisa curhat ga?

Curhat bukan hal yang bisa saya tampung, karena saya di sini khusus menelusuri arsip HPT dan fatwa Tarjih. Tapi kalau ada yang mengganjal dan Anda ingin mencari sisi keagamaannya — misalnya soal sabar, ujian, doa, atau hukum tertentu — saya bisa bantu telusuri naskahnya.

Sajikan dalam Format
Jum, 6 Nov, jam 20:26 WIB
Jadi aku itu baru putus Beberapa bulan yang lalu kemudian kan nyesel pasti juga sakit hati terus kau ingat sama Allah habis itu aku ngelakuin salat lima waktu salat sunnah terus baca surat-surat baca doa Daud gitu-gitu dan sebagainya Itu komplit banget termasuk itu loh salat istikharah juga tahajud juga waktu itu aku pernah aku tiba-tiba mau salat istikharah itu Kebetulan malam Jumat dan itu aku nggak nyadar kemudian di hari itu juga setelah salat itu kan tidur itu yang pertama mimpi warna putih gedung warna putih tanpa ada warna hitam maupun merah terus habis itu kan kebangun itu pas banget jam adzan subuh ya udah aku salat kalian habis itu udah selesai ternyata aku ketiduran nah mimpi kedua aku berada kayak di puncak gunung itu Asri banget warna hijau karena di salat istikharah itu kan sebelumnya ada doa kayak kalau ini hal baik ditunjukkan warna putih dan hijau jika itu ha nggak baik tunjukin warna merah dan hitam gitu kan tapi alhamdulillah aku nggak nemu dua warna itu terus itu rutinitas aku lakuin selama berhari-hari berturut-turut secara tepat waktu dan sangat rajin itu benar-benar surat apapun aku baca doa-doa juga aku baca semuanya aku baca tapi ada sesuatu yang buat email aku lemah kayak aku udah ngelakuin semua ibadah aku udah ngelakuin sunah-sunah juga tapi kok kayak hati aku tuh enggak hanya tenang di waktu setelah selesai salat gitu Tapi kalau udah enggak Salat kayak ganjel gitu berarti pikiran ke mana-mana terus aku kayak begini aku udah ngelakuin sesuatu hal baik mesti tidak 100% baik tapi yang jelas aku udah ngelakuin kewajiban dan itulah dari Allah yang mungkin aku lakuin secara rajin terus sebelumnya aku tuh bener-bener jarang salat salat tapi cuma enggak kesenian banget itu paling ya pasti niat aja gitulah tapi setelah putus aku baru lakuin ke situ Habis itu udah sempet lah itu kayak hati aku tenang tapi tiba-tiba kayak mikir aku udah ngelakuin semuanya tapi kenapa doa aku belum ada yang rabu ya sebenarnya ada tapi ada satu hal yang benar-benar enggak terkabul itu emang enggak baik buat aku atau emang aku disuruh sabar atau gimana Jadi sekarang aku mau ngelakuin aktivitas itu lagi rasanya kayak enggak mau banget Terus masalah kirimnya setiap aku mau sholat maghrib itu pasti ada aja masalahnya tentang masalah kecil ataupun masalah besar kayak mau salat pun hati aku kayak ah enggak usah gitu Aku Bukan nggak percaya Tuhan itu enggak ada gitu ya maksudnya gimana emang ada tapi kenapa keadilan itu kayak bagi aku tuh kayak gitu lah maksudnya Tuhan kan tahu kalau kemauan seseorang itu kayak apa tapi kenapa kemauan yang mau aku banget itu pasti selalu tertunda daripada kemauan yang mungkin nggak aku pengen banget gitu loh dan Kalau bisa tolong kasih kata-kata dari surat atau dalil atau apalah yang bisa buat aku kembali pulih seperti kemarin lagi Tolong dong

Pertanyaan

  • Saya baru putus, sudah rajin salat wajib dan sunnah, membaca doa, salat istikharah dan tahajud, lalu mimpi serba putih dan hijau. Tetapi sekarang hati jadi lemah, ada satu doa yang belum terkabul, dan setiap mau salat Maghrib selalu ada gangguan. Adakah dalil yang bisa memulihkan?

Jawaban

Dan naskah yang sama memberi batas yang jujur:

"Tidak ada yang mengetahui secara pasti akan kebenaran mimpi kecuali orang yang bermimpi itu sendiri dan Allah Yang Maha Mengetahui."
"…apabila mimpi yang terjadi pada manusia biasa, belum tentu benar."
— Fatwa 22 2022 Mimpi Bertemu Rasulullah Saw

  • Perlu saya sampaikan satu hal dengan jujur, karena ini menyangkut praktik yang Anda jalani. Doa istikharah yang termuat dalam khazanah tarjih — dikutip lengkap dengan teks Arabnya dalam Fatwa 41 2004 Doa Istikharah (2004) — tidak memuat permintaan tanda warna putih, hijau, merah, atau hitam. Yang diminta justru ini:

    "…فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ… وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي"
    "…maka takdirkanlah ia bagiku dan mudahkanlah bagiku kemudian berkatilah aku padanya… dan takdirkanlah bagiku kebaikan di mana pun ia berada, kemudian jadikanlah aku rela."
    — Fatwa 41 2004 Doa Istikharah

  • Kata terakhir doa itu berat dan justru itu intinya: "tsumma ardhinī" — kemudian jadikanlah aku rela. Istikharah bukan meminta isyarat warna, tapi meminta Allah memilihkan lalu memasang hati kita agar rela dengan pilihan-Nya. Maka mimpi itu tidak bisa dipakai sebagai bukti bahwa "ini baik" atau "ini buruk". Yang Anda alami sejak awal — rajin salat, rajin doa, lalu mimpi — itu tetap kebaikan yang patut disyukuri. Tetapi bukan bukti hukum atas sesuatu.

  • Soal doa yang belum terkabul. Ini dibahas eksplisit dalam Fatwa 04 Nikmat Dunia Dan Akhirat (2007):

    "…intinya bahwa doa seseorang yang bukan untuk tujuan maksiat/dosa dan tidak pula untuk memutuskan hubungan kekerabatan, Insya Allah diterima oleh Allah dengan tiga kategori. Pertama disegerakan ganjarannya di dunia, kedua disimpan ganjarannya oleh Allah dan diberikan besok di hari akhirat, dan ketiga tidak diberikan persis seperti yang dimohon tetapi diganti dengan yang lain yaitu dipalingkan dia dari berbuat dosa atau dihapus sebagian dosanya."

Dan hadis yang dikutip naskah itu memuat larangan mengeluh seperti ini:

"…ataupun tidak meminta untuk disegerakan pahalanya dimana ia berkata: aku telah bermohon kepada Tuhanku, mengapa gerangan tidak dikabulkan doaku." [HR. at-Turmudzi dari Abu Hurairah]
— Fatwa 04 Nikmat Dunia Dan Akhirat

  • Jadi "belum terkabul" bukan berarti "tidak didengar". Ada tiga kemungkinan yang disebut naskah, dan yang ketiga — dipalingkan dari keburukan — sering persis yang tidak kita sadari sedang terjadi.

  • Soal rasa tidak adil, "kenapa yang aku mau banget selalu tertunda". Ini dijawab sangat langsung oleh ayat yang dikutip Fatwa 15 2004 Membaca Tarji Untuk Musibah (2004):

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ. [البقرة (2): 216]

"…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [QS. al-Baqarah (2): 216]

Dan ayat yang persis menyebut keluhan hati seperti yang Anda ucapkan:

فَأَمَّا اْلإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاَهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلاَّ...

"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: 'Tuhanku telah memuliakanku'. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: 'Tuhanku menghinakanku'. Sekali-kali tidaklah demikian…" [QS. al-Fajr (89): 15-17]

  • Perhatikan: yang dibantah ayat itu bukan keluhannya, tapi kesimpulannya. Allah membantah cara manusia menyimpulkan "senang = dimuliakan, susah = dihinakan". Naskah Tarjih juga menegaskan:

    "…setiap insan itu mengakui adanya Allah… Kemudian Allah menghapus ingatan tersebut sebagai sebuah cobaan…"
    — dan dalam Fikih Kebencanaan: "Allah adalah Maha Baik dan Adil… ketentuan dan ketetapan Allah tidak akan ditujukan untuk menyengsarakan manusia" — Keputusan Tarjih Ke 29 Fikih Kebencanaan Bab Iii Memaknai Bencana

  • Soal cobaan itu sendiri. Dari naskah yang sama:

    "Setiap orang tidak dapat lepas dari cobaan atau ujian, bahkan tanpa cobaan iman dan taqwa seseorang tidak dapat meningkat. Bagaikan pelajar atau mahasiswa, apabila ingin naik tingkatan yang lebih tinggi, ia harus melalui ujian."
    — Fatwa 15 2004 Membaca Tarji Untuk Musibah

عَنِ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ عُظْمَ الْجَزَاءِ مَعَ عُظْمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَاليَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَى وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ. [رواه الترمذي وابن ماجه]

"Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan; dan sesungguhnya Allah swt apabila mencintai suatu kaum, maka dia memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa rela terhadap cobaan itu, maka Allah meridlainya, barangsiapa marah (tidak rela) terhadap cobaan itu, maka Allah akan marah kepadanya."

  • Dan ini penggalan yang paling relevan dengan "kok sekarang rasanya nggak mau banget":

    "Dengan demikian sabar bukanlah sikap yang pasif melainkan sikap yang aktif, yakni mensikapi seluruh peristiwa yang buruk dengan sikap yang baik dengan diiringi oleh sikap lain yakni ikhtiar menuju kondisi yang lebih baik."
    — Keputusan Tarjih Ke 29 Fikih Kebencanaan Bab Iii Memaknai Bencana

Termasuk hadis yang dikutipnya:

"Menakjubkan peri keadaan orang yang beriman. Sesungguhnya peri keadaannya serba baik… Apabila ia memperoleh kebaikan ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan ia sabar, maka ini baik pula baginya" [HR. Muslim]
— Keputusan Tarjih Ke 29 Fikih Kebencanaan Bab Iii Memaknai Bencana

  • Soal hati yang naik-turun dan jadi lemah. Ini bukan kelainan Anda. Naskah Fatwa 22 2012 Doa Penguat Iman (2012) menyebut iman memang bergelombang:

    "Allah dan Rasul-Nya menjelaskan perihal karakterstik iman yang memang fluktuatif (terkadang bisa naik dan bisa juga turun), sehingga dibutuhkan cara atau langkah untuk menjaganya."

Empat kiat primer yang disebut naskah itu: akrab dengan al-Qur'an, istiqamah, menjauhi maksiat, berteman dengan orang saleh. Untuk yang pertama, naskah itu mengutip:

يَا أَيُّهَا انلَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

"Wahai manusia sungguh telah datang pelajaran dari Tuhan-Mu (al-Qur'an), sebagai penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." [QS. Yunus (10): 57]

Dan untuk istiqamah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah kemudian dia beristiqamah… maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dan berkata: 'janganlah kamu takut dan sedih…'" [QS. al-Ahqaf (46): 13]

  • Dan doa yang secara khusus menyasar kondisi Anda:

    "Wahai Rabb yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu" (HR. At-Tirmidzi no. 3522, Ahmad no. 302, 315)
    — Fatwa 22 2012 Doa Penguat Iman

Serta:

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan." [HR. Muslim, no. 2722]
— Fatwa 22 2012 Doa Penguat Iman

  • Soal gangguan menjelang Maghrib dan pikiran yang melayang saat salat. Fatwa 22 2018 Shalat Tidak Khusyuk Sah Atau Tidak (2018) menegaskan dua hal yang mungkin melegakan Anda:

    "Sejauh pengkajian kami terhadap al-Qur'an dan al-Sunnah, tidak ada yang menyebutkan secara langsung bahwa khusyuk merupakan syarat sahnya shalat… jika syarat dan rukun tersebut telah terpenuhi maka shalat yang saudara lakukan adalah sah dan tidak perlu adanya pengulangan."

Dan soal pikirannya:

"Jika dalam shalat sering kali memikirkan hal-hal lain di luar shalat karena tidak adanya kekhusyukan, maka ada beberapa cara yang dapat dilakukan… Mengenal dengan baik siapa Allah (ma'rifatullah), mengikhlaskan shalat semata-mata karena Allah, membaca bacaan shalat secara tartil… menganggap bahwa shalat yang dilakukan adalah shalat terakhir, jika pikiran terganggu segera kembali dan menyadari betul bahwa sedang menghadap Allah, kemudian perlu juga diperhatikan kondisi tubuh dan juga lingkungan…"

Jadi salat Anda tidak gugur karena pikiran melayang. Yang dianjurkan adalah kembali, bukan berhenti.

  • Dan rasa "ganjel" ketika tidak salat — itu justru tanda hati Anda masih hidup. Naskah Fatwa 38 2021 Beasiswa Dan Gaji Dari Kecurangan (2021) mengutip sebuah hadis:

    "…kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membekas dalam jiwa dan membuat hati ragu, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu" [H.R. ad-Darimi]

Dalil

Catatan

  • Saya perlu jujur tentang batas penelusuran ini. Khazanah tarjih tidak memuat pembahasan khusus tentang pemulihan setelah putus hubungan, dan tidak memuat ketentuan bahwa istikharah dijawab lewat warna mimpi. Yang saya sampaikan di atas adalah naskah-naskah terdekat yang benar-benar ada dan saya baca penuh: soal mimpi (2022), doa yang belum terkabul (2007), ujian dan sabar (2004, 2009, Fikih Kebencanaan), iman yang naik-turun (2012), serta khusyuk salat (2018). Beberapa naskah yang saya rujuk berstatus sebagai hasil ketetapan musyawarah, bukan putusan tanfidz.

  • Untuk yang Anda alami — duka, kelelahan batin, dan gangguan yang berulang menjelang waktu salat — saya bukan pendamping dan tidak bisa menggantikan orang yang benar-benar mendengar Anda. Fatwa Tarjih pun terbiasa mengarahkan penanya yang berat persoalannya untuk bertemu langsung. Saya sarankan Anda bicara dengan ustaz atau pembimbing di Muhammadiyah setempat, dan bila beban itu terasa terus-menerus menekan, dengan orang yang memang ahli mendampingi.

Kesimpulan

  • Anda tidak sedang jatuh karena kurang ibadah. Iman memang naik-turun, dan naskah tarjih menyebutnya wajar. Doa yang "belum terkabul" punya tiga kemungkinan yang semuanya kebaikan, dan istikharah yang benar berujung pada "jadikanlah aku rela", bukan pada isyarat warna. Salat Anda tetap sah walau pikiran melayang — yang diminta hanya kembali. Yang paling dekat untuk Anda pegang sekarang: "jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah" (QS. Yusuf: 87), dan sabar yang aktif — bukan berhenti, tetapi bangkit dan berikhtiar ke arah yang lebih baik.

Sumber

Semoga Allah menetapkan hati Anda pada agama-Nya dan mengganti yang hilang dengan yang lebih baik. Wallahu a'lam bish-shawab — kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT.

Sajikan dalam Format
Enter untuk kirim · Shift+Enter untuk baris baruHPT & Fatwa Tarjih
Jawaban disusun otomatis dari HPT; periksa rujukan sebelum diamalkan. Percakapan dapat dibaca pengguna lain, jadi hindari data pribadi.

Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.