KHUTBAH JUMAT PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberi kita kesempatan berdiri di tempat ini, menunaikan kewajiban Jumat, di tengah zaman yang justru paling mudah membuat manusia lupa. Salawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah saw, yang hidupnya adalah peringatan yang berjalan.
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian: marilah kita tingkatkan takwa. Dan salah satu bentuk takwa yang paling jarang kita sadari adalah menjaga diri dari lupa — bukan lupa yang wajar karena manusia memang tempat salah dan lupa, melainkan lupa yang dicela dan dilarang oleh Al-Qur'an.
Hadirin rahimakumullah,
Al-Qur'an memakai kata lupa dan lalai dalam banyak tempat. Tetapi tidak semuanya celaan. Ada lupa yang dimaafkan, ada lupa yang justru menjadi uzur. Karena itu pada khutbah ini saya ingin mengajak jamaah mengenali empat jenis lupa yang dilarang dalam Al-Qur'an, agar kita bisa membedakan mana yang dimaklumi dan mana yang harus kita perangi dalam diri kita sendiri.
Yang pertama: lupa kepada Allah, sehingga lupa kepada diri sendiri.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." [QS al-Hasyr (59): 19]
Jamaah sekalian,
Perhatikan betapa mengerikan akibat yang disebutkan ayat ini. Orang yang lupa kepada Allah tidak serta-merta dihukum dengan sesuatu dari luar dirinya. Ia dihukum dari dalam: Allah menjadikan dia lupa kepada dirinya sendiri.
Dan itulah yang kita saksikan hari ini. Ada orang yang bertahun-tahun sibuk, tetapi tidak pernah bertanya: untuk apa aku hidup? Ada yang mengejar segala hal, tetapi tidak tahu siapa dirinya. Ia hafal jadwal rapat, hafal nomor rekening, hafal harga barang — tetapi lupa bahwa ia adalah hamba yang suatu hari akan dipanggil pulang.
Dalam arsip Tarjih, ayat ini dikutip dengan penjelasan yang sangat jernih: "Kelalaian manusia sehingga melupakan Allah akan berakibat Allah membuat manusia lupa terhadap dirinya sendiri."
Maka lupa yang pertama ini bukan sekadar lupa jadwal, tetapi lupa identitas. Dan obatnya sudah disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu perintah untuk selalu ingat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." [QS al-Baqarah (2): 152; dikutip dalam arsip Tarjih]
Yang kedua: lalai dari shalat.
Allah SWT berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
"Kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." [QS al-Ma'un (107): 4-5]
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ayat ini sangat mengejutkan. Yang diancam bukan orang yang meninggalkan shalat, tetapi orang yang shalat — lalu lalai. Artinya, ancaman ini bisa mengenai kita yang hari ini hadir shalat Jumat. Ancaman ini bisa mengenai orang yang rajin ke masjid.
Karena itu para ulama Tarjih menjelaskan bahwa lalai dari shalat itu bukan satu, tetapi dua hal:
"Pertama, lalai pada waktu shalat, yaitu tidak untuk mengingat Allah tetapi justru kepada yang lain. Seperti ingat menonton bola, ingat teman dan lain-lain."
"Kedua, lalai sesudah shalat, dalam arti tidak mampu mewujudkan tujuan shalat, yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar."
Jamaah, dua-duanya menimpa kita. Kita berdiri shalat, tetapi pikiran kita ada di tempat lain. Dan setelah shalat selesai, kita kembali kepada perbuatan yang justru dilarang oleh shalat itu sendiri. Inilah lalai yang dimaksud ayat al-Ma'un.
Dan dalam arsip Tarjih dikutip pula firman Allah:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar." [QS al-Ankabut (29): 45; dikutip dalam arsip Tarjih]
Maka mari kita bertanya pada diri sendiri: shalat kita sudah mencegah kita, atau hanya menjadi ritual harian yang kita lalui tanpa perubahan?
Perlu juga saya tegaskan satu hal agar kita tidak keliru. Ada ancaman lain dalam arsip Tarjih yang berbunyi: orang yang enggan menolong sesama "termasuk salah satu dari kelompok orang yang lalai terhadap nilai shalatnya, yang oleh karenanya diancam dengan wail (azab yang berat di akhirat)."
Jadi lalai dari shalat itu bisa berbentuk tidak peduli pada penderitaan tetangga kita yang sedang kelaparan. Ini bukan soal pribadi saja, tetapi menyangkut kepedulian sosial.
Yang ketiga: lalai dari berzikir, sehingga hati menjadi kosong.
Allah SWT berfirman:
وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْأَصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَافِلِينَ
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." [QS al-A'raf (7): 205]
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Ayat ini punya satu penutup yang sangat keras: "janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai". Dan dalam arsip Tarjih dijelaskan bahwa perintah agar kita tidak membiarkan hati dalam keadaan lalai adalah tepat ayat ini.
Dari sini kita belajar satu hal yang penting: lupa yang dicela bukan hanya lupa perbuatan, tetapi lupa hati. Orang bisa saja tidak meninggalkan satu pun ibadah lahir, tetapi hatinya kosong dari mengingat Allah.
Maka nasihat yang dapat kita bawa pulang adalah: "yang terpenting janganlah hati kita kosong dari dzikir."
Bukan soal panjang pendeknya bacaan. Dalam arsip Tarjih dinyatakan bahwa bagi orang yang waktunya banyak, ia dapat membaca berbagai bacaan; sedangkan yang waktu terluangnya sedikit, dapat membaca bacaan yang pendek. Yang penting bukan panjangnya, melainkan hadirnya hati.
Yang keempat: lupa akhirat, sehingga dunia diutamakan.
Allah SWT berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
"Adapun kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." [QS al-A'la (87): 16-17]
Hadirin sekalian,
Ayat ini turun sebagai teguran. Bukan larangan bekerja, bukan larangan mencari rezeki, tetapi teguran atas arah hati: dunia ditempatkan di depan, akhirat diletakkan di belakang.
Dan itulah yang dijelaskan dalam putusan Tarjih terbaru, Fikih Takziah dan Kematian (Keputusan PP Muhammadiyah Nomor 229/KEP/1.0/B/2026): "Namun kebanyakan manusia lalai dari peringatan Allah di atas. Mereka lebih mementingkan kenikmatan dunia yang hanya sesaat dan lupa terhadap kehidupan akhirat yang kekal."
Tetapi syariat ini tidak memusuhi dunia. Perhatikan ayat yang menjadi penyeimbangnya:
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيصَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." [QS al-Qasas (28): 77]
Putusan Tarjih menempatkan ayat ini sebagai perintah agar hidup kita seimbang, dunia dan akhirat. Jadi yang dilarang bukan mencari dunia, melainkan lupa akhirat karena dunia.
Jamaah rahimakumullah,
Supaya kita tidak salah paham, perlu disebutkan bahwa ada lupa yang justru dimaafkan. Jika seseorang tidak shalat karena tertidur atau karena benar-benar lupa, ia tidak berdosa selama ia mengerjakan shalatnya ketika ingat. Rasulullah saw bersabda:
إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا
"Sesungguhnya tidak ada masalah lalai kalau sedang tidur, sesungguhnya lalai itu dalam keadaan jaga. Maka apabila lupa salah satu di antaramu atau sedang tidur (sehingga tidak mengerjakan shalat), maka kerjakanlah shalat apabila telah ingat." [HR at-Tirmidzi; dikutip dalam arsip Tarjih]
Dari hadis ini kita mendapat rumus yang sangat penting: letak celaan bukan pada lupanya, tetapi pada keadaan jaga. Artinya, kita tidak dihukum karena keliru dan tidak dihukum karena tidur. Yang dicela adalah ketika kita sadar dan kekurangan itu berlangsung terus tanpa ada usaha memperbaiki.
Maka pertanyaan untuk kita hari ini bukan: apakah aku pernah khilaf? Tetapi: setelah aku tahu, apakah aku berubah?
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita tutup khutbah pertama ini dengan doa, memohon agar Allah menjauhkan kita dari keempat lupa yang dicela.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
(duduk sejenak)
KHUTBAH JUMAT KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita sudah mendengar empat lupa yang dicela Al-Qur'an: lupa kepada Allah sehingga lupa kepada diri sendiri, lalai dari shalat, lalai dari berzikir, dan lupa akhirat karena mengutamakan dunia.
Sekarang, bagaimana empat hal itu bisa diobati secara praktis? Izinkan saya menyampaikan tiga langkah kecil yang bisa kita mulai dari masjid ini.
Pertama, pulihkan waktu-waktu tertentu untuk mengingat Allah. Lupa itu penyakit; zikir adalah obatnya. Yang penting bukan panjangnya, tetapi rutinnya. Dzikir pagi dan petang yang sederhana, tetapi kita jaga, jauh lebih mengubah diri daripada bacaan panjang yang hanya sekali.
Kedua, kembalikan kualitas shalat kita. Kalau selama ini shalat kita hanya dihitung selesai dan tidak dihitung berdampak, mari kita perbaiki satu hal saja: hadirnya hati. Kita ingat, bukan sekadar mengucapkan. Dan bukti shalat kita hidup adalah akhlak kita sesudahnya — sebab shalat yang benar mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Ketiga, berhati-hatilah pada segala sesuatu yang menyita waktu tanpa meninggalkan jejak kebaikan. Dalam arsip Tarjih dijelaskan satu kaidah yang sangat berguna: "Hukum itu beredar mengikuti illatnya (sebabnya)." Segala permainan pada asalnya mubah, "kecuali jika ada unsur-unsur negatif..., seperti permainan itu dapat menimbulkan permusuhan, kebencian antar sesama, dapat menyebabkan lupa kepada Allah, lupa kepada kewajiban-kewajiban yang ada dalam kehidupan rumah tangga dan hidup bermasyarakat." Dan jika hal itu terjadi, "hukum mubah pada suatu permainan dapat berubah menjadi haram."
Maka ukuran bahaya itu bukan soal game, internet, televisi, atau hiburan apa pun. Ukurannya sederhana: apakah ia membuat kita lupa kepada Allah, lupa keluarga, lupa tanggung jawab? Jika ya, bagi kita ia sudah berpindah dari mubah menjadi bahaya.
Hadirin sekalian,
Banyak orang menunda berubah dengan alasan masih akan bertobat esok hari. Mengenai hal itu putusan Tarjih terbaru mengutip firman Allah:
وَتُوبُوٓا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." [QS an-Nur (24): 31; dikutip dalam arsip Tarjih]
Dan dijelaskan pula di sana: "Bersegera untuk bertaubat dari dosa adalah wajib, tidak boleh diakhirkan."
Inilah penutup yang tepat. Sesudah kita tahu, jangan menunda. Karena lupa yang paling berbahaya bukan lupa yang terjadi, tetapi lupa bahwa kita telah lupa.
Mari kita berdoa sejenak, dengan hati yang hadir.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ الشَّاكِرِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ
اللَّهُمَّ لَا تُنْسِنَا ذِكْرَكَ وَلَا تُنْسِنَا شُكْرَكَ وَلَا تُنْسِنَا حُسْنَ عِبَادَتِكَ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
Rujukan yang dipakai dalam khutbah ini:
Catatan
- Pengelompokan menjadi "empat lupa" adalah rangkuman saya sendiri, bukan satu putusan Tarjih yang secara khusus memuat daftar empat macam lupa. Arsip Tarjih membahas ayat-ayat ini pada halaman-halaman yang berbeda, seperti tercantum di atas. Setiap ayat dan hadis di atas dikutip sesuai bunyi yang ada di halaman sumber atau dari teks mushaf rujukan. Mohon diperiksa kembali sebelum dibawakan, dan silakan disesuaikan dengan kondisi jamaah setempat.
Wallahu a'lam bish-shawab. Kebenaran yang mutlak hanya milik Allah SWT; bila ada kekeliruan dalam penyampaian, itu datang dari saya sendiri.