Pertanyaan
- Apakah shalat Id dan shalat istisqa itu sama?
Jawaban
- Tidak identik. Keduanya sama pada bentuk shalatnya, tetapi berbeda pada takbir dan rangkaian doanya. Keduanya dilandasi putusan yang sama, yaitu Muktamar Tarjih ke-20 di Garut (18–23 Rabi'ulakhir 1396/18–23 April 1976), yang ditanfidzkan PP Muhammadiyah tahun 1977 (BRM No. 76/1977).
Yang sama:
- Dua rakaat. Putusan Garut menyebut shalat istisqa dikerjakan "dua rakaat sebagaimana beliau kerjakan pada shalat 'Id" (hadis Ibnu Abbas).
- Dilaksanakan berjamaah di lapangan, dengan imam.
- Khutbahnya satu kali, bukan dua kali seperti khutbah Jumat.
Yang berbeda:
- Bilangan takbir. Untuk shalat Id ditetapkan tegas: tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, sesudah takbiratul ihram (Muktamar Tarjih 1976; ditegaskan lagi pada Fatwa 12.D tahun 2003). Naskah-naskah istisqa dalam arsip yang saya telusuri tidak memerinci bilangan takbirnya, hanya menyatakan shalatnya "seperti shalat 'Id".
- Rangkaian doa istisqa. Putusan Garut memuat tuntunan khas: berpakaian kusut, rendah hati dan khusyuk; menghadap kiblat sambil membelakangi jamaah; mengangkat kedua tangan; membalikkan pakaian (rida') — kanan ke kiri dan kiri ke kanan — dan jamaah pun berbuat demikian. Ini tidak ada dalam shalat Id.
- Isi khutbah. Khutbah istisqa "seperti khutbah pada umumnya. Hanya saja, dengan memperbanyak ucapan istighfar dan doa" (Fatwa 09/1999). Khutbah istisqa juga boleh didahulukan sebelum shalat, berdasarkan hadis 'Aisyah riwayat Abu Daud — sedangkan shalat Id dikerjakan sebelum khutbah.
- Sifat pelaksanaannya. Istisqa tidak harus dengan shalat; boleh sekadar doa bersama, baik dalam khutbah Jumat, di atas mimbar masjid, maupun di luar masjid.
Dalil
-
Hadis Ibnu Abbas tentang shalat istisqa:
خرجَ رَسُولُ اللهِ ص مُتَوَاضِعًا مُتَبَدِّلًا مُتَخَشِّعًا مُتَرَسِّلًا مُتَضَرِّعًا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ وَلَمْ يَحْطُبْ خَطْبَتَكُمْ هَذِهِ [رواه أحمد والنسائي وابن ماجه]
"Rasulullah saw keluar dengan berpakaian kusut serta dengan kerendahan hati penuh kekhusyukan dan ketenangan, lalu beliau kerjakan shalat dua rakaat sebagaimana beliau kerjakan pada shalat 'Id dengan tidak berkhutbah seperti khutbahmu." — Kitab Shalat Bagian 07 Sedakep Istisqa Sahwi -
Hadis 'Abdullah bin Zaid tentang membalik pakaian: "Pernah aku melihat Rasulullah saw pada waktu ber-istisqa' untuk kami, beliau memanjangkan do'a dan memperbanyak permohonan. Kemudian (aku lihat Rasulullah) berbalik menghadap kiblat dan membalikkan bajunya lalu dijadikan bagian atas ke bagian bawah dan orang banyakpun berbuat demikian" (Riwayat Ahmad) — Kitab Shalat Bagian 07 Sedakep Istisqa Sahwi
-
Hadis 'Abbad bin Tamim dari pamannya: "Saya melihat Nabi saw pada hari ia keluar minta hujan, beliau membelakangi orang banyak dan menghadap ke Kiblat sambil berdoa, kemudian membalik pakaian atasnya, kemudian shalat mengimami kami dua rakaat, dengan menyaringkan bacaan dalam keduanya." [HR. al-Bukhari, Abu Daud, an-Nasa'i dan Ahmad] — Fatwa 09 1999 Shalat Dan Khutbah Istisqa
-
Takbir shalat Id: "Kemudian sesudah takbiratul ihram membaca tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua" — Tanya Jawab Agama 1 Masalah Shalat Hari Raya; Fatwa 12 D 2003 Bilangan Takbir Shalat Id
Catatan
- Perkembangan lintas tahun: putusan induk keduanya berasal dari Muktamar Garut 1976 (Kusufain–Istisqa) dan ditanfidzkan 1977. Fatwa 09 tahun 1999 hanya memperluas penjelasan khutbah istisqa (satu kali, berisi banyak istighfar dan doa) tanpa mengubah putusan 1976. Fatwa 12.D tahun 2003 justru menegaskan kembali putusan 1976 tentang takbir Id 7 dan 5. Jadi tidak ada revisi, hanya penegasan dan perincian.
- Arsip yang saya telusuri tidak memuat perincian bilangan takbir khusus untuk shalat istisqa. Karena itu saya tidak menyimpulkan sendiri berapa takbirnya.
Kesimpulan
- Shalat istisqa dan shalat Id sama dalam bentuk: dua rakaat berjamaah di lapangan dengan khutbah satu kali sesudah shalat. Bedanya: Id punya ketetapan takbir 7 dan 5 serta tidak memuat rangkaian doa istisqa; istisqa memuat rangkaian doa khas — menghadap kiblat, mengangkat tangan, membalik pakaian, memperbanyak istighfar — dan boleh dilakukan dengan doa saja tanpa shalat.
Sumber
- Kitab Shalat Bagian 07 Sedakep Istisqa Sahwi (Muktamar Tarjih XX Garut, 1976)
- Kitab Shalat Bagian 06 Shalat Kusufain Gerhana (Muktamar Tarjih XX Garut, 1976)
- Fatwa 09 1999 Shalat Dan Khutbah Istisqa (1999)
- Fatwa 12 D 2003 Bilangan Takbir Shalat Id (2003, Fatwa 12.D)
- Tanya Jawab Agama 1 Masalah Shalat Hari Raya (Tanya Jawab Agama Jilid 1)
Wallahu a'lam bish-shawab. Kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT.