ChatHPT — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
TanyaPercakapan baru
KHGT itu sebenarnya apa? Kenapa Muhammadiyah harus menggant…
Dari Basis Pengetahuan. Kamu sedang melihat hasil tanya jawab pengguna lain.Masuk untuk bertanya
Sen, 17 Agu, jam 10:21 WIB
KHGT itu sebenarnya apa? Kenapa Muhammadiyah harus mengganti Wujudul Hilal? Bukankah metode itu selama puluhan tahun dianggap paling benar?

Pertanyaan

  • Apa itu KHGT, dan mengapa Muhammadiyah mengganti Wujudul Hilal yang sudah puluhan tahun dipakai?

Jawaban

KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) adalah sistem kalender Islam yang menyatukan seluruh dunia dalam satu hari dan satu tanggal yang sama — prinsipnya satu hari satu tanggal di seluruh dunia ( one day, one date ). KHGT disepakati dalam Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Islam di Istanbul, Turki, tahun 1438 H/2016 M, dan ditanfidzkan oleh PP Muhammadiyah melalui Keputusan Nomor 86/KEP/I.0/B/2025 yang mulai berlaku pada 1 Muharam 1447 H (26 Juni 2025 M). Tanfidz Khgt 2025

Tentang Wujudul Hilal: Wujudul Hilal adalah kriteria hisab hakiki yang dipakai Muhammadiyah sejak tahun 1938 M/1357 H. Prinsipnya sederhana: jika setelah ijtimak (konjungsi) bulan terbenam setelah matahari terbenam, maka malam itu sudah masuk bulan baru. Metode ini bersifat lokal — perhitungannya bergantung pada posisi geografis suatu tempat, sehingga tanggal bisa berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lain. Fatwa 10 Sepakat Kriteria Awal Bulan

Mengapa beralih ke KHGT? Beikut beberapa alasan:

  • 1. Amanah Muktamar. Muktamar ke-47 Muhammadiyah tahun 2015 di Makassar telah memutuskan akomodasi KHGT, dan dikuatkan lagi dalam Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar ke-48 tahun 2022.

  • 2. Prinsip ummah wāḥidah (umat yang satu). Umat Islam adalah satu umat, seharusnya memiliki satu kalender. Perbedaan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan terutama Idul Adha (hari Arafah) antara satu negara dengan negara lain dinilai tidak mencerminkan kesatuan umat.

  • 3. Kelanjutan tajdīd (pembaruan). Dalam dokumen KHGT ditegaskan bahwa akomodasi KHGT "merupakan kelanjutan dari tajdid dengan ijtihad penggunaan hisab hakiki dalam Muhammadiyah yang telah berlangsung lama." Wujudul Hilal adalah metode lokal; KHGT adalah metode global — keduanya sama-sama berpijak pada hisab hakiki, hanya cakupannya diperluas.

  • 4. Mengatasi masalah Arafah. Perbedaan tanggal wukuf di Arafah antara Makkah dan kawasan lain menyebabkan umat Islam berbeda dalam puasa Arafah. KHGT menyelesaikan ini dengan satu tanggal untuk semua.

  • 5. Partisipasi dalam konsensus internasional. KHGT merupakan hasil Konferensi Istanbul 2016 yang dihadiri para ahli falak dan fikih dari dunia Islam. Muhammadiyah aktif dalam proses ini.

Dalil

  • Dokumen KHGT menyebut alasan transisi secara eksplisit: "Adapun perbedaan utamanya adalah KHGT menggunakan prinsip global, sementara wujudul hilal menggunakan prinsip lokal, sehingga perlu disesuaikan sebagai konsekuensi dari globalisasi." — Tanfidz Khgt 2025

  • Parameter KHGT: bulan baru dimulai apabila di bagian bumi mana pun sebelum pukul 24:00 GMT telah terpenuhi elongasi ≥ 8° dan ketinggian hilal minimal 5° saat matahari terbenam. Parameter ini bersifat analog dengan imkān ar-rukyah (visibilitas hilal). — Tanfidz Khgt 2025

Catatan

  • Wujudul Hilal tidak pernah dinyatakan "salah" atau "batal". Dokumen KHGT justru menyatakan bahwa KHGT "secara astronomi dapat memenuhi seluruh kriteria penentuan awal bulan yang pernah digunakan Muhammadiyah." Ini adalah evolusi ijtihad dari lokal ke global, bukan diskredit terhadap metode lama. Wujudul Hilal telah menjadi pilihan ijtihad yang tepat pada zamannya dan sesuai dengan konteks nasional Indonesia. Kini, dengan kemajuan ilmu falak dan tuntutan globalisasi, ijtihad dilanjutkan ke KHGT.

  • KHGT tetap menggunakan hisab hakiki, bukan rukyat fisik. Jadi landasan epistemologinya konsisten dengan tradisi hisab Muhammadiyah sejak era KH. Wardan Diponingrat.

Kesimpulan

KHGT adalah penyempurnaan dari metode Wujudul Hilal dalam bingkai tajdīd Muhammadiyah — dari kalender lokal menjadi kalender global untuk mewujudkan kesatuan umat Islam di seluruh dunia. Wujudul Hilal bukan ditinggalkan karena salah, melainkan dikembangkan karena cakupannya yang lokal sudah tidak memadai untuk menjawab tantangan globalisasi dan persatuan umat.

Sumber

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Sen, 17 Agu, jam 10:23 WIB
Kalau Wujudul Hilal dulu benar, kenapa sekarang ditinggalkan? Apakah berarti keputusan Muhammadiyah sebelumnya salah?

Pertanyaan

  • Apakah keputusan Muhammadiyah sebelumnya (Wujudul Hilal) salah karena kini diganti KHGT?

Jawaban

Tidak. Wujudul Hilal tidak pernah dinyatakan salah, dan keputusan beralih ke KHGT bukanlah pengakuan atas kesalahan masa lalu. Dokumen resmi KHGT justru secara eksplisit menyebut pola peralihannya bukan nāsikh-mansūkh (penghapusan hukum lama oleh hukum baru), melainkan pola Makkiyah-Madaniyah — gradual, berkesinambungan, dan bersifat penyempurnaan. Tanfidz Khgt 2025

Ada tiga argumen kuat yang menjawab pertanyaan ini:

  • 1. Kesinambungan metodologis, bukan pemutusan. KHGT dan Wujudul Hilal sama-sama menggunakan hisab hakiki — perhitungan astronomi sejati, bukan rukyat fisik. Perbedaannya hanya pada cakupan: Wujudul Hilal bersifat lokal (berdasarkan posisi geografis setempat), sedangkan KHGT bersifat global (satu hari satu tanggal di seluruh dunia). Ini adalah perluasan cakupan, bukan penggantian fondasi. Tanfidz Khgt 2025

  • 2. Dinamika tajdīd (pembaruan) yang bertahap. Dokumen KHGT mencatat sejarah panjang ijtihad hisab Muhammadiyah:

    • Awalnya menggunakan kriteria ijtimak qablal gurub sebagai antitesa dari rukyat.
    • Kemudian beralih ke imkanu rukyah sebagai jalan tengah.
    • Lalu ke wujudul hilal untuk mendapatkan kepastian penuh secara ilmu dan syariat.
    • Kini ke KHGT sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dari wujudul hilal.

Setiap tahap adalah jawaban yang tepat untuk zamannya. Bukan tahap sebelumnya yang "salah", melainkan kesadaran dan kebutuhan yang terus berkembang. Tanfidz Khgt 2025

  • 3. Kaidah fiqhiyah tentang perubahan hukum. Muhammadiyah sendiri dalam berbagai fatwanya (antara lain Fatwa 12, 13, 21, dan 30) merujuk pada kaidah:

    لَا يُنْكَرُ تَغَيُّرُ الْأَحْكَامِ بِتَغَيُّرِ الْأَزْمَانِ
    "Tidak diingkari perubahan hukum karena perubahan zaman."

dan pernyataan Ibn al-Qayyim:

تَغَيُّرُ الْفَتْوَى وَاخْتِلَافُهَا بِحَسْبِ تَغَيُّرِ الْأَزْمِنَةِ وَالْأَمْكِنَةِ وَالْأَحْوَالِ وَالنِّيَّاتِ وَالْعَوَائِدِ
"Perubahan fatwa dan perbedaannya terjadi menurut perubahan zaman, tempat, keadaan, niat, dan adat istiadat."

Fatwa 12 Cerai Di Luar Sidang Pengadilan · Fatwa 13 Hukum Nikah Sirri · Fatwa 21 2016 Menjatuhkan Talak Di Rumah Karena Cekcok · Fatwa 30 2021 Perceraian Sah Di Pengadilan Dan Kewajiban Surat Cerai

Catatan

  • Wujudul Hilal adalah ijtihad yang benar untuk konteks lokal Indonesia pada masanya. Ketika kesadaran global umat Islam semakin kuat, dan tantangan seperti perbedaan hari Arafah di berbagai negara semakin terasa, Muhammadiyah melakukan tajdīd — pembaruan yang merupakan ciri khas gerakan ini sejak awal.

  • Analogi yang dipakai dokumen KHGT adalah proses pengharaman khamr (minuman keras) dalam Al-Qur'an yang bertahap: dari deskriptif di Mekah, hingga larangan tegas di Madinah. Tahap pertama tidak disebut "salah" ketika tahap final turun — setiap tahap adalah bagian dari proses menuju kesempurnaan.

  • Hal ini juga penting dipahami dalam konteks perbedaan pendapat dengan ormas lain. Sebagaimana dicatat Muhammadiyah sendiri dalam dokumen KHGT, perbedaan metode penentuan awal bulan adalah realitas yang harus dikelola dengan kedewasaan, bukan saling menyalahkan.

Kesimpulan

Wujudul Hilal tidak pernah dinyatakan salah. Keputusan Muhammadiyah sebelumnya tetap sah dan benar untuk konteks zamannya. Beralih ke KHGT adalah tajdīd — penyempurnaan ijtihad dari skala lokal ke global — mengikuti prinsip ushul fiqh bahwa hukum dapat berubah karena perubahan zaman, tempat, keadaan, dan kebutuhan umat. Ini adalah ciri ijtihad yang dinamis, bukan pengakuan atas kesalahan.

Sumber

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Sen, 17 Agu, jam 10:24 WIB
Kenapa umat Islam membutuhkan kalender global? Bukankah selama ini perbedaan tanggal Ramadan dan Lebaran tidak menjadi masalah besar?

Pertanyaan

  • Mengapa umat Islam membutuhkan kalender global? Bukankah perbedaan tanggal Ramadan dan Lebaran selama ini tidak menjadi masalah besar?

Jawaban

Ada beberapa alasan kuat mengapa kalender global (KHGT) diperlukan, dan alasan itu bukan sekadar "agar seragam" tanpa dasar.

  • 1. Masalah hari Arafah — yang nyata dan tidak bisa diabaikan. Perbedaan kalender lokal menyebabkan jatuhnya hari Arafah (9 Zulhijah) berbeda antara Makkah dan kawasan lain di dunia. Akibatnya, umat Islam di luar Makkah bingung: haruskah mereka puasa Arafah menurut tanggal setempat, atau mengikuti wukuf di Makkah yang bisa berbeda sehari? Dokumen KHGT secara tegas menyebut problem ini: "Sampai saat ini umat Islam tidak jarang menghadapi problem perbedaan jatuhnya hari Arafah antara Makkah dan kawasan lain dalam kaitan dengan pelaksanaan puasa sunah Arafah. Sebagian mengikuti pelaksanaan wukuf di Arafah, sebagian mengikuti tanggal sesuai penetapan di wilayah masing-masing. Hal itu karena masing-masing menggunakan kalender lokal." — Tanfidz Khgt 2025

  • 2. Dalil hadis tentang kesatuan hari ibadah. Hadis riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah menjadi sandaran utama:

    الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

"Puasa adalah hari kalian berpuasa, Idulfitri adalah hari kalian berbuka, Iduladha adalah hari kalian menyembelih hewan." (HR at-Tirmidzi)

Dalam dokumen KHGT dijelaskan: kata "kalian" dalam hadis ini berbentuk jama' (plural) yang menurut kaidah usul fiqh menunjukkan keumuman — mencakup seluruh umat Islam di seluruh muka bumi. Ini dipahami sebagai perintah agar puasa, Idulfitri, dan Iduladha dilakukan oleh seluruh umat secara serentak pada hari yang sama, sebagaimana salat Jumat yang serentak dilakukan di seluruh dunia pada hari Jumat. — Tanfidz Khgt 2025

  • 3. Prinsip ummah wāḥidah (umat yang satu). Muktamar Ke-47 Muhammadiyah (2015) di Makassar telah memutuskan:

    "Berdasarkan Al-Qur'an, umat Islam adalah ummah wahidah (umat yang satu)... Perbedaan negara dan golongan seringkali menyebabkan perbedaan dalam penentuan kalender terutama dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha."

Jika umat Islam adalah satu umat, seharusnya memiliki satu sistem penanggalan yang berlaku untuk semua. — Tanfidz Khgt 2025

  • 4. Konteks globalisasi. Dokumen KHGT juga mencatat:

    "Agama Islam adalah agama yang telah mengglobal sejak awal perkembangannya... Seluruh dunia sekarang ini sedang mengalami proses globalisasi, sehingga bola bumi yang dihuni tujuh milyar manusia seakan seperti sebuah desa kecil... Dalam kondisi demikian adalah suatu hal yang inkonsisten bilamana masih menggunakan sistem penanggalan yang bersifat lokal, sementara umat manusia sudah hidup dalam dunia global." — Tanfidz Khgt 2025

  • 5. Contoh konkret problem rukyat global. Fatwa 24 (2009) tentang Rukyat Global memberikan contoh nyata. Pada Zulhijah 1431 H (2010 M), Mekah dan kawasan Amerika Latin mengalami perbedaan hari Arafah karena perbedaan visibilitas hilal. Di Mekah, 1 Zulhijah jatuh pada Senin sehingga Arafah = Selasa; di Amerika Latin, 1 Zulhijah jatuh pada Ahad sehingga Arafah = Senin. Pertanyaan pun muncul: haruskah muslim Amerika Latin berpuasa Arafah pada Senin (hari Arafah versi mereka, padahal di Mekah belum wukuf) atau menunda ke Selasa (yang berarti berpuasa di hari Id versi mereka)? Inilah problem yang tidak bisa diselesaikan tanpa kalender global. — Fatwa 24 Rukyat Global

Catatan

  • Anda benar bahwa perbedaan awal Ramadan dan Idulfitri mungkin masih bisa ditoleransi oleh sebagian umat. Namun perbedaan hari Arafah memiliki dampak ibadah yang langsung dan membingungkan — apakah puasa Arafah mengikuti tanggal lokal atau hari wukuf di Makkah? Ini bukan soal "nyaman tidak nyaman" melainkan soal kepastian ibadah.

  • KHGT tidak memaksakan satu metode hisab atau rukyat tertentu, melainkan menyepakati parameter kalender (elongasi ≥ 8° dan ketinggian hilal ≥ 5° di suatu tempat sebelum pukul 24:00 GMT) yang berlaku global sehingga satu hari = satu tanggal di seluruh dunia. — Tanfidz Khgt 2025

Kesimpulan

Kalender global diperlukan bukan untuk menghilangkan "warna" perbedaan, melainkan untuk menyelesaikan masalah ibadah yang nyata (terutama hari Arafah), merealisasikan prinsip ummah wāḥidah (satu umat, satu kalender), serta menjawab tuntutan zaman yang telah mengglobal. Perbedaan tanggal Ramadan dan Lebaran selama ini mungkin dianggap "biasa" karena umat sudah terbiasa, tapi dari sisi maqāṣid asy-syarī'ah (tujuan syariat), kesatuan umat dalam hari-hari ibadah adalah cita-cita yang lebih tinggi dan telah diperjuangkan sejak 1939 M oleh Syekh Ahmad Muhammad Syakir.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Sen, 17 Agu, jam 10:25 WIB
Ini sebenarnya proyek penyatuan umat atau sekadar Muhammadiyah ingin menawarkan standar sendiri kepada umat Islam dunia?

Pertanyaan

  • Apakah KHGT adalah proyek penyatuan umat yang genuine, atau sekadar ambisi Muhammadiyah menawarkan standar sendiri?

Jawaban

Ini pertanyaan yang penting. Jawabannya: KHGT adalah proyek penyatuan umat yang bersifat internasional, bukan inisiatif sepihak Muhammadiyah. Muhammadiyah bukanlah penggagas, melainkan salah satu peserta dan pengadopsi dari konsensus global. Mari kita lihat faktanya.

  • Akar sejarah KHGT — internasional, bukan lokal:

  • 1358 H/1939 M — Gagasan penyatuan kalender Islam global pertama kali diserukan oleh Syekh Ahmad Muhammad Syākir (ulama besar Mesir, w. 1958 M) dalam bukunya Awā'il al-Syuhūr al-'Arabiyyah. — Tanfidz Khgt 2025

  • 1425 H/2004 M — Jamaluddin 'Abd ar-Raziq (Maroko) menyusun kalender global dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia. — Tanfidz Khgt 2025

  • 2008 M — Konferensi Puncak Islam OKI (Organisasi Kerjasama Islam, forum 57 negara) di Dakar, Senegal, mengeluarkan Deklarasi Dakar yang menyerukan penyatuan kalender Islam. — Tanfidz Khgt 2025

  • Oktober 2008 — ISESCO (badan kebudayaan dan pendidikan OKI, berkedudukan di Rabat, Maroko) menyelenggarakan Temu Pakar II dan mengadopsi kalender global Jamaluddin 'Abd ar-Raziq. — Tanfidz Khgt 2025

  • 1438 H/2016 M — Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Islam di Istanbul, Turki — dihadiri para ahli falak dan fikih dari seluruh dunia Islam — memilih Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai sistem yang disepakati. — Tanfidz Khgt 2025

  • Peran Muhammadiyah — partisipan, bukan inisiator tunggal:

    • Muhammadiyah mulai mengkaji kalender global sejak 2007 M melalui simposium internasional di Jakarta.
    • Muktamar ke-47 (2015, Makassar) memutuskan akomodasi KHGT dengan alasan: "Perbedaan negara dan golongan seringkali menyebabkan perbedaan dalam penentuan kalender... Muhammadiyah memandang perlu untuk adanya upaya penyatuan kalender Hijriyah yang berlaku secara internasional." — Tanfidz Khgt 2025
    • Muktamar ke-48 (2022, Surakarta) menguatkan dengan Risalah Islam Berkemajuan yang menyebut perlunya "perbaikan sistem waktu Islam secara internasional melalui upaya pemberlakuan kalender Islam global unifikatif." — Tanfidz Khgt 2025
    • Munas Tarjih XXXII (2024, Pekalongan) menetapkan parameter KHGT, dan ditanfidzkan PP Muhammadiyah pada 3 Februari 2025 mulai berlaku 1 Muharam 1447 H/26 Juni 2025 M. — Tanfidz Khgt 2025
  • Parameter KHGT (hasil kesepakatan Istanbul 2016): Bulan baru dimulai apabila di bagian bumi mana pun sebelum pukul 24:00 GMT telah terpenuhi elongasi ≥ 8° dan ketinggian hilal minimal 5° saat matahari terbenam. — Tanfidz Khgt 2025

Catatan

  • Argumen bahwa ini "standard sepihak Muhammadiyah" tidak tepat secara historis. Urutan kejadiannya justru sebaliknya: komunitas internasional (OKI, ISESCO, para ahli falak dunia) mendorong penyatuan kalender, lalu Muhammadiyah ikut serta dan mengadopsinya. Parameter KHGT pun bukan temuan Muhammadiyah, melainkan hasil konsensus internasional di Istanbul 2016.

  • Yang dilakukan Muhammadiyah adalah tajdīd — memperbarui sistem hisabnya dari lokal (wujudul hilal) ke global (KHGT) agar sejalan dengan kesepakatan internasional dan mewujudkan cita-cita ummah wāḥidah. Ini justru menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak bersikap eksklusif dengan standar sendiri, melainkan terbuka dan partisipatif dalam forum global.

  • Di sisi lain, dokumen KHGT juga jujur mengakui bahwa sampai saat ini belum ada kalender Islam yang seragam yang diterima seluruh umat Islam. KHGT adalah tawaran yang terus diperjuangkan, belum menjadi konsensus final seluruh dunia Islam.

Kesimpulan

KHGT adalah proyek penyatuan kalender global yang lahir dari proses internasional yang panjang — dari Syekh Ahmad Syakir (Mesir, 1939), Deklarasi Dakar (OKI, 2008), Temu Pakar ISESCO (Maroko, 2008), hingga Konferensi Istanbul (Turki, 2016). Muhammadiyah bukan penggagas, melainkan organisasi yang berpartisipasi dan mengadopsi kesepakatan tersebut sebagai bentuk tajdīd dan komitmen terhadap persatuan umat Islam sedunia. Tuduhan bahwa ini "standar Muhammadiyah sendiri" tidak sesuai dengan fakta sejarah dan proses internasional yang melatarbelakanginya.

Sumber

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Sen, 17 Agu, jam 10:26 WIB
Kenapa disebut “global” kalau yang menggunakannya baru sebagian kecil umat Islam, muhammadiyah sendiri?

Pertanyaan

  • Kenapa disebut "global" kalau penggunanya baru Muhammadiyah — sebagian kecil umat Islam?

Jawaban

Pertanyaan ini tepat dan penting. Jawabannya ada pada dua hal: makna kata "global" dalam konteks ini, dan fakta bahwa KHGT bukanlah produk Muhammadiyah.

  • 1. "Global" merujuk pada prinsip, bukan tingkat adopsi.

Istilah "global" di sini bukan klaim bahwa semua umat Islam sudah memakainya — melainkan prinsip desainnya: satu hari, satu tanggal, berlaku untuk seluruh muka bumi (one day, one date). Ini membedakannya dari kalender lokal (seperti wujudul hilal) yang bergantung pada posisi geografis setempat. Dokumen KHGT sendiri secara jujur menyatakan:

"Sampai saat ini umat Islam tidak jarang menghadapi problem perbedaan jatuhnya hari Arafah... Penyelesaian masalah ini tidak mungkin dilakukan selain dari penerimaan Kalender Hijriah Global Tunggal oleh seluruh umat Islam."

— artinya KHGT memang belum diadopsi seluruhnya, dan kesadaran itu justru yang mendorong perjuangan ke arah adopsi global. Tanfidz Khgt 2025

  • 2. KHGT bukan produk Muhammadiyah — ia lahir dari konsensus internasional.

Mari kita lacak siapa yang "membuat" KHGT:

  • 2004 — Jamaluddin 'Abd ar-Raziq (Maroko) menyusun konsep kalender global pertama.
  • Maret 2008 — OKI (Organisasi Kerjasama Islam, forum 57 negara) mengeluarkan Deklarasi Dakar (Senegal) yang menyerukan penyatuan kalender Islam.
  • Oktober 2008 — ISESCO (badan OKI di Rabat, Maroko) mengadopsi kalender global tersebut.
  • 2016 — Konferensi Internasional di Istanbul, Turki memilih KHGT sebagai sistem yang disepakati.
  • 2015–2025 — Muhammadiyah mengkaji, lalu mengadopsinya.

Jadi KHGT dirumuskan oleh para ahli falak dan fikih dari berbagai negara, disepakati dalam forum internasional (OKI/ISESCO), lalu diadopsi oleh Muhammadiyah — bukan sebaliknya. Tanfidz Khgt 2025

  • 3. Gradasi adopsi — dari elite ke massa, dari minoritas ke mayoritas.

Dokumen KHGT mencatat analogi dari sejarah kalender Masehi:

Kalender Masehi (Gregorian) kini dipakai hampir seluruh dunia, tapi awalnya hanya diadopsi oleh negara-negara Katolik pada 1582, lalu bertahap oleh negara Protestan (1700-an), dan terakhir oleh negara-negara Asia dan Timur Tengah (1900-an). Butuh waktu berabad-abad. KHGT baru lahir tahun 2016 dan baru diimplementasikan oleh Muhammadiyah pada 2025 — masih sangat awal. Tanfidz Khgt 2025

  • **4. Istilah "global" dalam Kalender Hijriah Global Tunggal juga dipakai oleh forum internasional itu sendiri — OKI dan ISESCO — bukan ditemukan lalu dipatenkan oleh Muhammadiyah. Nama ini adalah nama resmi hasil Konferensi Istanbul 2016, sebagaimana tercantum dalam dokumen keputusan Munas Tarjih.

Catatan

  • Anda benar bahwa pada kenyataannya saat ini pengguna KHGT masih sangat sedikit. Muhammadiyah hanyalah salah satu organisasi yang mengadopsinya. Dokumen KHGT tidak menyembunyikan kenyataan ini — justru menyebut bahwa penyatuan kalender adalah cita-cita yang terus diperjuangkan.

  • Yang disebut "global" adalah sistem dan parameternya — dirancang agar bisa dipakai oleh seluruh umat Islam di mana pun di muka bumi, tidak terbatas pada satu mathla' (temat terbitnya bulan). Bukan klaim bahwa seluruh dunia sudah memakainya.

  • Sebagai perbandingan, nama-nama seperti "World Health Organization" atau "International Monetary Fund" tidak berarti semua negara sudah menjadi anggotanya — nama itu merujuk pada cakupan dan aspirasi kelembagaannya, bukan pada tingkat partisipasi saat ini.

Kesimpulan

KHGT disebut "global" karena dirancang berdasarkan prinsip satu hari, satu tanggal untuk seluruh dunia — bukan karena sudah diadopsi oleh seluruh umat Islam. Nama ini diberikan oleh konferensi internasional di Istanbul (2016) yang dihadiri para ahli dari berbagai negara, bukan oleh Muhammadiyah. Saat ini adopsinya masih pada tahap awal — dan Muhammadiyah adalah salah satu organisasi yang telah mengambil langkah maju untuk mewujudkan cita-cita penyatuan kalender Islam yang telah diperjuangkan sejak tahun 1939 M oleh Syekh Ahmad Muhammad Syakir. Istilah "global" merujuk pada orientasi dan prinsip sistemnya, bukan pada status adopsinya saat ini.

Sumber

  • Tanfidz Khgt 2025 (2025, Munas Tarjih XXXII — memuat seluruh sejarah internasional KHGT)

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Sen, 17 Agu, jam 10:29 WIB
Kalau metode ini begitu kuat secara syar'i dan astronomi, kenapa ulama dan negara-negara Muslim belum ramai-ramai mengadopsinya?

Pertanyaan

  • Jika KHGT begitu kuat secara syar'i dan astronomi, mengapa belum diadopsi secara luas oleh ulama dan negara-negara Muslim?

Jawaban

Pertanyaan ini sangat wajar. Jawabannya tidak sesederhana "karena lemah" atau "karena salah" — melainkan karena beberapa faktor historis, metodologis, dan politis yang telah berlangsung berabad-abad sebelum KHGT lahir. Dokumen KHGT sendiri tidak menampik kenyataan ini.

  • 1. KHGT masih sangat baru dalam skala sejarah ijtihad.

KHGT resmi lahir di Konferensi Istanbul pada 1438 H/2016 M — baru 9 tahun yang lalu. Konsep kalender global tunggal berbasis hisab hakiki baru ditemukan pada awal abad ke-21. Bandingkan dengan perdebatan matlak (horizon) yang telah berlangsung berabad-abad dalam mazhab-mazhab. Dokumen KHGT mencatat secara jujur:

"Baru pada awal abad ke-21 konsep kalender global tunggal berbasis hisab hakiki ditemukan yang kemudian mengalami perbaikan dan diadopsi dalam seminar internasional di Istanbul tahun 2016." — Tanfidz Khgt 2025

Dibutuhkan waktu berabad-abad bagi kalender Masehi (Gregorian) untuk diadopsi dunia — dari Katolik (1582) ke Protestan (1700-an), lalu Asia dan Timur Tengah (1900-an). KHGT baru dalam tahap awal.

  • 2. Perbedaan doktrinal yang dalam: rukyat vs hisab.

KHGT mensyaratkan penerimaan hisab sebagai metode yang setara dengan rukyat dalam penentuan awal bulan. Namun banyak negara dan ulama masih mewajibkan rukyat fisik (pengamatan langsung) dan menolak hisab sebagai dasar penetapan awal bulan. Dokumen KHGT pun mencatat bahwa Temu Pakar ISESCO di Rabat (2008) memutuskan:

"Penyelesaian problem kalender Islam tidak mungkin dilakukan kecuali menerima hisab dalam menentukan awal bulan sebagaimana penggunaan hisab dalam penentuan waktu salat."

Artinya, penerimaan hisab adalah prasyarat untuk kalender global — dan ini belum disepakati oleh banyak negara Muslim yang masih mengandalkan rukyat murni. Tanfidz Khgt 2025

  • 3. Perbedaan dalam mazhab: ikhtilāf al-maṭāli' (perbedaan horizon).

KHGT berpijak pada prinsip kesatuan matlak — seluruh bumi adalah satu zona kalender. Dokumen KHGT memang mengutip otoritas dari Ibn ‘Āsyūr, al-Haskafi, dan ulama Hanafiah, Malikiah, serta Hanabilah yang mendukung prinsip ini. Namun dalam mazhab Syafi'i — yang dianut mayoritas Muslim Asia Tenggara — terdapat dua pendapat, dan yang lebih masyhur justru menerima ikhtilāf al-maṭāli' (perbedaan horizon menyebabkan perbedaan penetapan tanggal). Perbedaan pandangan mazhab ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Tanfidz Khgt 2025

  • 4. Faktor politik dan kelembagaan.

Setiap negara memiliki otoritas keagamaan resmi yang berwenang menetapkan awal bulan. Keputusan untuk mengubah sistem kalender bukan hanya masalah akademis, melainkan keputusan politik dan birokrasi yang melibatkan kementerian, majelis ulama, dan kepentingan nasional. Otoritas ini tidak mudah menyerahkan kewenangan penetapan tanggal kepada sistem global. Dokumen KHGT mencatat bahwa Deklarasi Dakar (2008) yang dikeluarkan OKI (57 negara) baru berupa "ajakan" untuk menyatukan kalender — bukan keputusan yang mengikat. Tanfidz Khgt 2025

  • 5. Dokumen KHGT sendiri mengakui bahwa penerimaan masih terbatas.

Pada bagian penutup dokumen, ditulis:

"Peluang implementasi KHGT sangat mungkin untuk dilakukan. Hal ini ditandai dengan beberapa komunitas muslim yang menerapkannya di wilayah Amerika dan Eropa."

Ungkapan "beberapa komunitas... di Amerika dan Eropa" menunjukkan adopsi masih pada skala kecil. Namun di bagian lain juga disebut:

"Penyelesaian masalah ini tidak mungkin dilakukan selain dari penerimaan Kalender Hijriah Global Tunggal oleh seluruh umat Islam."

Ini berarti KHGT memang belum diadopsi luas — dan kesadaran itu justru menjadi bagian dari argumen untuk terus memperjuangkannya, bukan alasan untuk berhenti. Tanfidz Khgt 2025

  • 6. Kesadaran akan perlunya dialog dan sosialisasi.

Pada bagian akhir, dokumen KHGT dengan rendah hati menyatakan:

"Bersamaan dengan itu, penting dilakukan komunikasi, dialog, dan langkah-langkah sosialisasi dengan berbagai pihak di dalam dan di luar negeri khususnya dunia Islam sehingga KHGT hasil Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah ini dapat dipahami dan menjadi pintu masuk menuju kesepakatan yang lebih luas. Harapan Muhammadiyah KHGT menjadi kesepakatan global di dunia Islam." — Tanfidz Khgt 2025

Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah sendiri sadar bahwa KHGT belum menjadi konsensus global dan masih perlu diperjuangkan.

Catatan

  • Dokumen KHGT tidak menampik bahwa adopsi masih jauh dari universal. Ia tidak menjual ilusi seolah seluruh dunia sudah menerimanya — sebaliknya, ia menyadari bahwa perjalanan masih panjang. Inilah yang membedakannya dari klaim yang berlebihan.

  • "Kuat secara syar'i dan astronomi" tidak berarti "langsung diadopsi semua pihak". Banyak keputusan ijtihad yang benar secara ilmiah tetap melalui proses sosialisasi, dialog, dan negosiasi selama puluhan hingga ratusan tahun sebelum diterima luas.

Kesimpulan

KHGT belum diadopsi secara luas karena (1) usianya baru 9 tahun, (2) mensyaratkan penerimaan hisab yang belum disepakati semua pihak, (3) bersinggungan dengan perbedaan mazhab tentang ikhtilāf al-maṭāli', (4) melibatkan keputusan politik dan kelembagaan masing-masing negara, dan (5) proses sosialisasi internasional masih berlangsung. Dokumen KHGT sendiri jujur mengakui semua ini dan menempatkan adopsi global sebagai harapan dan cita-cita, bukan klaim yang sudah terwujud.

Sumber

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Sab, 22 Agu, jam 12:02 WIB
Kenapa ada perbedaan kHGT dengan hasil di Turki. Mana yang benar

Pertanyaan

  • Kenapa ada perbedaan KHGT dengan hasil di Turki? Mana yang benar?

Jawaban

Tidak ada perbedaan. KHGT yang diadopsi Muhammadiyah adalah persis hasil Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Islam di Istanbul, Turki, tahun 1438 H/2016 M. Dokumen resmi menyebut:

"Prototipe kalender Islam global 1442 H/2021 M sudah dibuat dengan menggunakan parameter kalender global tunggal yang disepakati di Turki 1438 H/2016 M."

dan

"Konsep kalender global terus diuji dan diperbaiki hingga pada Konferensi Internasional Penyatuan Kalender Islam di Istanbul, Turki, tahun 1438 H / 2016 M dipilih Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)."

— Tanfidz Khgt 2025

Parameter yang dipakai pun identik:

  • Parameter KHGT (Muhammadiyah): elongasi ≥ 8° dan ketinggian hilal minimal 5° di suatu tempat di muka bumi sebelum pukul 24:00 GMT, diberlakukan secara global.

  • Parameter Konferensi Istanbul 2016: persis sama. Dokumen mencatat bahwa parameter ini dirujuk dari kertas kerja Panitia Ilmiah (Pengarah) Konferensi Istanbul 2016 (lihat catatan kaki 31 dan 32 dalam dokumen). Tanfidz Khgt 2025

Jadi tidak ada dua versi yang berbeda. Keduanya adalah satu sistem yang sama.

Mungkin yang dimaksud adalah perbedaan antara KHGT (kalender tunggal global berbasis hisab hakiki) dengan usulan-usulan lain yang pernah ada sebelumnya, misalnya:

  • Kalender bizonal (dua zona) oleh Muhammad Odeh dan Nidhal Guessoum — membagi dunia menjadi dua zona kalender sehingga masih memungkinkan perbedaan tanggal.
  • Kalender tiga zona oleh Mohammad Ilyas.
  • Kalender Jamaluddin 'Abd ar-Raziq dengan kriteria ijtimak sebelum pukul 12:00 UTC (parameter berbeda).

Semua usulan ini dibahas dalam dokumen, tetapi yang dipilih dan diadopsi oleh Konferensi Istanbul 2016 adalah KHGT — dan Muhammadiyah mengadopsi persis hasil itu. Tanfidz Khgt 2025

Catatan

  • Jika ada informasi yang beredar tentang "Turki menggunakan kriteria lain", itu mungkin merujuk pada praktik resmi Pemerintah Turki dalam penentuan awal bulan secara nasional — yang bisa saja berbeda dari hasil konferensi internasional. Namun dokumen KHGT tidak membahas praktik nasional Turki. Yang jelas, parameter KHGT yang diadopsi Muhammadiyah adalah parameter yang sama dengan hasil Konferensi Istanbul 2016.

  • Perbedaan yang mungkin muncul di lapangan bukanlah perbedaan antara "KHGT versi Muhammadiyah" dan "hasil Turki", melainkan perbedaan antara satu sistem global (KHGT) dan sistem-sistem lokal atau zonal lain yang masih dipakai oleh berbagai negara/ormas.

Kesimpulan

KHGT yang diadopsi Muhammadiyah dan hasil Konferensi Istanbul 2016 adalah satu sistem yang sama — baik nama, prinsip, maupun parameternya (elongasi ≥ 8°, ketinggian ≥ 5°, berlaku global). Tidak ada dua versi yang berbeda. Keduanya sama secara syar'i dan astronomi karena berasal dari satu konsensus internasional yang sama.

Sumber

  • Tanfidz Khgt 2025 (2025, Munas Tarjih XXXII — seluruh bagian parameter, prinsip, dan latar sejarah Istanbul)

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sajikan dalam Format
Enter untuk kirim · Shift+Enter untuk baris baruHPT & Fatwa Tarjih
Jawaban disusun otomatis dari HPT; periksa rujukan sebelum diamalkan. Percakapan dapat dibaca pengguna lain, jadi hindari data pribadi.

Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.

KHGT itu sebenarnya apa? Kenapa Muhammadiyah harus mengganti Wujudul Hilal? Bukankah metode itu sela… — ChatHPT