Pertanyaan
- Apa tuntunan Islam untuk mengembalikan hati yang gelisah karena urusan duniawi maupun akhirat, beserta dalilnya dan langkah-langkah praktisnya?
Jawaban
-
Arsip Tarjih tidak memuat satu fatwa yang berjudul khusus "hukum mengobati kegelisahan hati". Persoalan ini dibahas tersebar di banyak naskah sejak 2004 sampai 2025, dan semuanya mengarah pada satu titik: hati yang gelisah diperlakukan sebagai sinyal, lalu ditangani sesuai penyebabnya — dosa diobati dengan taubat, musibah dengan sabar dan ridha, serta bisikan setan dengan dzikir dan perlindungan kepada Allah.
-
Kronologi posisi Tarjih:
-
2004 — Fatwa 15 2004 Membaca Tarji Untuk Musibah: cobaan ada dua macam, yang serba nikmat dan yang serba menyedihkan. Yang nikmat dijawab dengan syukur, yang menyedihkan dengan sabar, tawakal, dan rela; mengumpat musibah hukumnya haram karena di baliknya terkandung hikmah.
-
2010 — Fatwa 03 2010 Masalah Arwah Gentayangan: jalan terbebas dari gangguan adalah "senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah… serta senantiasa berdzikir dan mengingat Allah. Bukankah dengan senantiasa berdzikir hati kita akan tenang".
-
2011 — Fatwa 02 2011 Hasil Bengkel Rekanan Asuransi: ini naskah paling eksplisit soal mekanisme hati. Dinyatakan bahwa Allah memberi manusia "qalbu (hati), yang berfungsi sebagai mesin penggerak dan pemberi sinyal kepada pemiliknya"; hati yang dikotori dosa sinyalnya meredup (qalbun maridl) bahkan mati (qalbun mayyit), sedangkan "hati yang sehat dan bersih (qalbun salim) pasti akan senantiasa memberikan bimbingan dan sinyal ke arah yang baik". Karena itu "ganjalan dan perasaan tidak tenteram (was-was)… merupakan sinyal positif yang dipancarkan oleh fitrah hati".
-
2012 — Fatwa 04 2012 Penghasilan Dari Pekerjaan Dengan Meninggikan Ipk: kegelisahan dikaitkan langsung dengan dosa masa lalu, dan disimpulkan bahwa tanda itikad taubat yang baik justru adalah rasa gelisah itu; "Sebaik-baik orang yang melakukan dosa adalah seorang yang menyadari dan bertaubat dari dosanya".
-
2016 — dua naskah: Fatwa 27 2016 Dzikir Dengan Butir Tasbih menegaskan dzikir sebagai obat ketenangan (mengutip QS ar-Ra'd 13: 28), dan Fatwa 34 2016 Istighfar 1000 Kali Setelah Tahajud merinci istighfar: tidak ada aturan jumlah yang mengikat, tetapi "hendaknya didukung dengan keikhlasan dalam hati… disertai dengan hati yang tunduk dan tawadhu' serta rasa sesal… yakin akan berhenti total dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi", dengan penekanan "kuantitas dan kualitas".
-
2018 — Fatwa 22 2018 Shalat Tidak Khusyuk Sah Atau Tidak: khusyuk diartikan al-khudlu' (kepasrahan jiwa dan raga kepada Allah) dan dijabarkan cara mengupayakannya.
-
2021 — Fatwa 38 2021 Beasiswa Dan Gaji Dari Kecurangan: paling lengkap merumuskan taubat nasuha — istighfar, penyesalan (al-nadamah), komitmen tidak mengulangi, dan memperbanyak amal saleh.
-
2022 — Fatwa 11 2022 Salat Hajat Dan Salawat Nariyah: untuk orang yang sedang menghadapi persoalan hidup, "hendaknya senantiasa bergantung kepada Allah dengan berdoa atau memohon kepada-Nya serta selalu berikhtiar untuk mencari solusinya", dengan doa yang masyru'; salat hajat diputuskan masyru' (disyariatkan) berdasarkan hadis sahih.
-
2025 — Tanya Jawab Agama 2025 Edisi 09 1 15 Mei Doa Dan Ayat Pilihan Untuk Mengusir Menangkal Dan Mel: gangguan setan disebut dapat berakibat pada aspek psikis, "seperti mendatangkan sifat malas, takut, dan cemas", lalu diberi tujuh senjata menghadapinya.
-
-
Posisinya konsisten sejak 2004 hingga 2025: dzikir, taubat, sabar, doa, dan ikhtiar; tidak ada naskah yang mencabut atau merevisi yang lain. Yang berkembang hanyalah ketelitian perinciannya.
Dalil
-
Hati tenang dengan dzikir — Fatwa 03 2010 Masalah Arwah Gentayangan, Fatwa 27 2016 Dzikir Dengan Butir Tasbih
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ [الرعد، 13: 28]
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" [QS. ar-Ra'du (13): 28].-
Dzikir di setiap keadaan — Fatwa 27 2016 Dzikir Dengan Butir Tasbih
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ [رواه مسلم]
"Dari Aisyah ia berkata: Nabi saw. dahulu selalu mengingat Allah dalam setiap keadaannya" [HR. Muslim]. -
Perintah memperbanyak dzikir — Fatwa 27 2016 Dzikir Dengan Butir Tasbih
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ … وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الأحزاب، 33: 35]
"…laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar" [QS. al-Ahzab (33): 35]. -
Standar baik–buruk yang dirasakan hati (dasar membaca kegelisahan sebagai sinyal) — Fatwa 38 2021 Beasiswa Dan Gaji Dari Kecurangan dan Fatwa 02 2011 Hasil Bengkel Rekanan Asuransi
عَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ الْأَسَدِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِوَابِصَةَ … اسْتَفْتِ نَفْسَكَ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ ثَلَاثًا الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ [رواه الدارمي]
"…tanyakan kepada dirimu, tanyakan kepada hatimu wahai Wabishah… Kebaikan adalah apa yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membekas dalam jiwa dan membuat hati ragu, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu" [HR. ad-Darimi]. -
Dosa sebagai penyebab kegelisahan, taubat sebagai jalannya — Fatwa 04 2012 Penghasilan Dari Pekerjaan Dengan Meninggikan Ipk
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التُّوابُونَ [رواه أحمد والترمذي وابن ماجه]
"Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat" [HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]. -
Istighfar Nabi setiap hari — Fatwa 34 2016 Istighfar 1000 Kali Setelah Tahajud
إِنَّهُ لَيُغَانُّ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مَائَةَ مَرَّةٍ [رواه مسلم]
"Sesungguhnya istighfar itu selalu meliputi hatiku dan sungguh aku selalu memohon ampun kepada Allah setiap hari sebanyak seratus kali" [HR. Muslim]. -
Waktu utama istighfar (sahur) — Fatwa 34 2016 Istighfar 1000 Kali Setelah Tahajud
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ، وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ [الذاريات، 51: 17-18]
"Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar" [QS. adz-Dzaariyaat (51): 17-18]. -
Sabar dan shalat sebagai penolong — Fatwa 22 2018 Shalat Tidak Khusyuk Sah Atau Tidak
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ [البقرة، 2: 45]
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk" [QS. al-Baqarah (2): 45]. -
Sabar, tarji', dan ganti yang lebih baik — Fatwa 15 2004 Membaca Tarji Untuk Musibah
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ [البقرة، 2: 155-156]
Dan sabda Nabi saw.: إِنَّ عُظْمَ الْجَزَاءِ مَعَ عُظْمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ تَعَاليَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَى وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ [رواه الترمذي وابن ماجه]
"Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan; dan sesungguhnya Allah swt apabila mencintai suatu kaum, maka dia memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa rela terhadap cobaan itu, maka Allah meridlainya, barangsiapa marah (tidak rela) terhadap cobaan itu, maka Allah akan marah kepadanya." -
Boleh jadi yang tidak disukai itu baik — Fatwa 15 2004 Membaca Tarji Untuk Musibah
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ [البقرة، 2: 216] -
Tawakal disertai ikhtiar, bukan menyerah — Tanya Jawab Agama 1 Masalah Aqidah
Naskah menyatakan: "Tawakal bukan berarti menyerah tetapi juga berusaha dan usaha yang didasarkan hati Tawakal itu pula yang dinilai". Dan Fatwa 04 2012 Penghasilan Dari Pekerjaan Dengan Meninggikan Ipk mengutip:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ [الطلاق، 65: 2-3]
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan membukakan baginya jalan keluar. Dan Ia memberikannya rezki dari arah yang ia tidak sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya…" -
Mengadu hanya kepada Allah — Fatwa 36 2015 Berdoa Dan Mengeluh Di Media Sosial
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لا تَعْلَمُونَ [يوسف، 12: 86]
"Ya'qub menjawab: 'Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…'" -
Jangan berputus asa — Tanya Jawab Agama 3 Masalah Kesehatan
Naskah menegaskan: "Obat dalam al-Qur'an dan Hadits bukanlah obat untuk sekadar dibacakan kemudian dibaca… tetapi al-Qur'an dan Hadits mengandung obat bagi hati yang gundah. Maksudnya kalau dibaca dengan dimasukkan maksudnya dalam hati kemudian dilaksanakan petunjuk-petunjuk yang termaktub didalamnya." Termasuk kriteria "jiwa yang sehat adalah jiwa yang bebas dari rasa tegang, cemas, dan tidak putus asa yang berkepanjangan". -
Menolong orang lain yang kesusahan — Fatwa 08 2004 Dana Infaq Untuk Simpan Pinjam
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرُبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ [رواه مسلم وأبو داود والترمذي] -
Doa memohon kelapangan hati — Kitab Zikir Doa (doa ke-10 pada kitab ini)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي [طه، 20: 25-28]
-
- Langkah-langkah penerapan (rangkuman saya, setiap langkah bertumpu pada sumber di atas):
Langkah 1 — Ubah cara membaca kegelisahan.
Jangan langsung menganggapnya penyakit. Naskah 2011 menyebutnya "sinyal positif yang dipancarkan oleh fitrah hati". Duduklah sebentar dan tanyakan: gelisah ini karena ada kesalahan yang belum dibereskan, karena musibah yang belum diterima, atau karena bisikan dan kecemasan yang tidak berpijak?
Langkah 2 — Jika sebabnya kesalahan: taubat nasuha, empat unsurnya.
Berdasarkan naskah 2021: (a) perbanyak istighfar, (b) hadirkan penyesalan, (c) berkomitmen tidak mengulangi, (d) tutup dengan amal saleh berupa infak, sedekah, atau zakat. Bila kesalahan menyangkut hak orang lain, naskah 2012 menambahkan: "jika suatu dosa menyangkut dosa kepada adamiy atau sesama manusia, maka taubat bisa diterima jika ia telah memaafkan" — yaitu menempuh permintaan maaf dan menanggung risikonya.
Langkah 3 — Hidupkan dzikir yang menghadirkan hati, bukan sekadar lisan.
Naskah Kitab Zikir Doa mendefinisikan dzikir sebagai "menghadirkan hati untuk mengingat dan taat kepada Allah yang kemudian disusul dengan ucapan atau perbuatan". Naskah Tanya Jawab Agama 9 Bab 12 Zikir Doa Dan Shalawat membagi tiga: lisan, hati, dan anggota badan, lalu menyimpulkan bahwa zikir dengan ketiga-tiganya "paling utama dan paling sempurna… Itulah yang dapat melahirkan ketenteraman". Praktisnya: lafalkan tasbih, tahmid, tahlil, lalu sambungkan maknanya ke hati, lalu wujudkan dalam perbuatan. Waktunya boleh kapan saja, kecuali tempat-tempat yang dilarang seperti kamar kecil.
Langkah 4 — Tetapkan jadwal istighfar harian, dengan waktu utama.
Ikuti batas yang diberikan naskah 2016: jumlah tidak mengikat, yang penting memperbanyak, dan yang lebih utama adalah waktu sahur atau sepertiga malam terakhir. Jangan berhenti pada angka; jaga kualitasnya (tunduk, sesal, tekad tidak mengulangi).
Langkah 5 — Dirikan shalat dengan khusyuk dan jadikan sabar pasangannya.
Naskah 2018 memberi resep khusyuk: mengenal Allah, mengikhlaskan shalat karena Allah, membaca dengan tartil dan penuh penjiwaan, menganggapnya shalat terakhir, segera kembali bila pikiran melayang, memperhatikan kondisi tubuh dan lingkungan, serta menyingkirkan pengganggu konsentrasi. Untuk kebutuhan mendesak, naskah 2022 menegaskan salat hajat masyru'.
Langkah 6 — Berdoa dengan syarat dan adabnya.
Naskah 2015 merinci syarat doa: beriman dan patuh, banyak istighfar, langsung kepada Allah tanpa perantara, yakin dikabulkan, disertai usaha. Adabnya: mengangkat tangan, memuji Allah dan bershalawat, berdoa dengan tadharru' (merendahkan diri), menutup dengan hamdalah. Pilih waktu mustajab: hari Jumat, saat turun hujan, antara adzan dan iqamah, sepertiga malam terakhir, saat berpuasa, dan saat sujud. Gunakan lafal yang ma'tsur; naskah Kitab Zikir Doa membolehkan bahasa lain untuk doa yang tidak ditemukan lafalnya.
Langkah 7 — Adukan isi dada hanya kepada Allah.
Naskah 2015 membedakan tegas dua hal: mengeluh kepada Allah tidak tercela, bahkan dilakukan para nabi, tetapi "keluhan tersebut hanya dialamatkan kepada Allah semata dan sifatnya intim antara seorang hamba dan Tuhannya. Oleh karena itu mempublikasikannya di media sosial… tidaklah patut dilakukan".
Langkah 8 — Saat yang menimpa adalah musibah: sabar dengan tiga tingkat, lalu syukur dan ridha.
Fikih Kebencanaan merinci: sabar dengan hati berupa kesadaran bahwa yang dihadapi adalah bentuk kasih sayang Allah agar memperbaiki diri; sabar dengan lisan berupa ucapan innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn; sabar dengan perbuatan berupa upaya mengubah keadaan menuju kebaikan. Sabar disebut "bukanlah sikap yang pasif melainkan sikap yang aktif". Bila yang datang justru kelapangan, syukuri.
**Langkah