ChatHPT — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
TanyaPercakapan baru
Bagaimana bila seorang muslim dia tahu bahwa di ajaran Isla…
Dari Basis Pengetahuan. Kamu sedang melihat hasil tanya jawab pengguna lain.Masuk untuk bertanya
Jum, 6 Nov, jam 20:19 WIB
Bagaimana bila seorang muslim dia tahu bahwa di ajaran Islam terdapat alam surga dan neraka ia tahu bahwa bila berbuat jahat itu kemungkinan atau tidak mungkin lagi ya mungkin sekali dia bisa masuk ke neraka dan budaya berbuat baik kemungkinan besar juga bisa masuk ke surga tetapi dia beribadah bukan karena kedua itu melainkan monoteisme iya beribadah bukan untuk keduanya tapi ia mengakui kedua alam tersebut tetapi ia beribadah kepada Tuhan yang satu tunggal yaitu Allah subhanahu wa ta'ala ia beribadah karena Tuhannya bukan karena untuk mendapatkan ganjaran apakah seperti ini merupakan kaidah Islam yang bagus prinsip yang bagus dan apakah amalan ini dapat menjadi berkah bagi dia dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik, karena sebelumnya psikologi dia itu terganggu bahwa dia itu sering memikirkan berat sekali tetapi dia menyadari bahwa pemikiran berat itu memikirkan dosa akan membuat pikirannya jadi beban dan membuat kesehatannya itu down parah jadi dia itu beribadah tetap mengakui dosanya tetap berdoa untuk bertobat ia sampai juga melaksanakan salat taubat tetapi sampai sekarang bila dilakukan terus-menerus bila bermaksiat lagi bertobat lagi itu akan tetapi situ jadi dia ingin dia tetap beribadah walau dia melakukan maksiat tapi maksiat tersebut dia tetap menetapkan hukum syariat dan tetap mengingat Allah dan tetap kokoh pada prinsip dan keimanannya apakah orang seperti ini dapat menjadi prinsip dan adakah amalan dari Rasul dan adakah pahala tambahan untuk dia

Pertanyaan

  • Apakah prinsip "mengakui adanya surga dan neraka, tetapi beribadah kepada Allah yang Maha Tunggal bukan karena keduanya" termasuk prinsip yang baik dalam Islam?
  • Apakah amalnya bisa menjadi berkah dan menjadikannya pribadi yang lebih baik, mengingat ia pernah mengalami gangguan psikologis karena beban memikirkan dosa?
  • Ia tetap beribadah, tetap mengakui dosanya, tetap bertobat dan salat taubat, tetapi berulang kali jatuh lagi; apakah ini bisa menjadi prinsip, adakah amalan dari Rasulullah, dan adakah pahala tambahan baginya?

Jawaban

1. Soal tauhid dan keikhlasan: prinsipnya sejalan dengan arsip Tarjih.

Majelis Tarjih menegaskan bahwa prinsip utama dalam ibadah adalah keyakinan bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah, dan Ath-Thabari memaknai perintah fa'budnî dalam QS Thaha [20]: 14 sebagai "murnikanlah ibadah kepadaku di atas segala sesuatu yang disembah selain Aku" — "perintah untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah, tanpa perantara dan tanpa menyekutukan Allah Swt" (Tanya Jawab Agama 2026 Edisi 03 Klasifikasi Ibadah Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah, disidangkan 13 Juni 2025).

Sikap "beribadah karena Tuhannya, bukan karena balasan" itu berada di wilayah ikhlas, dan konsep Ikhlas merumuskannya: "Keikhlasan niat hanya karena Allah, menjadi syarat diterimanya ibadah." Sejalan pula dengan tuntunan yang termuat dalam Keputusan Tarjih ke-28: "Membangun rasa cinta kepada Allah (maḥabbatullāh) serta rindu kepada-Nya sehingga setiap saat terdorong untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya" (Keputusan Tarjih Ke 28 Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah Bab Iv Pembinaan Keluarg).

2. Namun ada satu hal yang harus diluruskan: definisi ibadah dalam HPT sendiri memuat "menjauhi larangan".

Ini saya kutip langsung dari naskah, karena di sinilah letak persoalannya:

"Ibadah ialah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan jalan mentaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah." (HPT Jilid 1 halaman 278–279, dikutip dalam Tanya Jawab Agama 2026 Edisi 03 Klasifikasi Ibadah Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah)

Karena itu, "tetap beribadah sambil tetap mengulangi maksiat secara sengaja" bukan prinsip yang diajarkan arsip Tarjih. Yang diajarkan justru sebaliknya — sebuah renungan yang termuat dalam Tanya Jawab Agama 1:

"Sebagai renungan perlu dilakukan bagi orang yang telah melakukan shalat, puasa, masih juga berbuat maksiyat. Padahal shalat, kalau dilakukan dengan baik dapat mencegah dari perbuatan yang keji dan munkar sebagaimana tersebut pada surat Al 'Ankabut ayat 45." (Tanya Jawab Agama 1 Masalah Maksiyat)

Jadi bila ibadahnya belum mencegah maksiat, yang perlu dibenahi adalah mutu ibadahnya, bukan prinsipnya diganti.

3. Soal "bermaksiat lagi – bertobat lagi": syarat tobat dalam arsip menuntut tekad berhenti.

Naskah Tarjih mengutip Riyadhus-Salihin karya Imam an-Nawawi tentang syarat tobat atas dosa yang menyangkut hak Allah: (1) meninggalkan kemaksiatan, (2) menyesali perbuatan maksiat, (3) "Berniat sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan maksiat itu selamanya" (Tanya Jawab Agama 2023 Edisi 07 1 15 April Tobat Dari Perbuatan Yang Berhukum Hudud, disidangkan 16 Desember 2022).

Fatwa tentang istighfar juga menegaskan hal yang sama:

"Perwujudannya adalah istighfar disertai dengan hati yang tunduk dan tawadhu' serta rasa sesal atas perbuatan yang telah dilakukan, yakin akan berhenti total dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi." (Fatwa 34 2016 Istighfar 1000 Kali Setelah Tahajud, 23 September 2016)

Maka pola "bermaksiat lalu bertobat, lalu bermaksiat lagi" tidak bisa disebut tobat yang memenuhi syaratnya; yang arsip sebut sebagai tobat adalah penyesalan disertai tekad berhenti, sementara jatuh kembali sesudah itu adalah kegagalan yang harus diperbaiki, bukan kaidah yang disahkan. Ini penting dikatakan tanpa memperhalus, justru karena pertanyaannya menyangkut prinsip.

4. Soal motif: arsip tidak memuat putusan yang menyatakan bahwa tidak mengharap surga dan tidak takut neraka itu lebih tinggi.

Perlu saya sampaikan terus terang: saya tidak menemukan putusan Tarjih yang membahas persis perumusan "beribadah semata karena Zat Allah, tanpa mengharap surga dan tanpa takut neraka". Yang termuat dalam arsip justru doa yang diajarkan Nabi saw sendiri, yang menggabungkan harap dan takut:

"Ya Allah hanya kepada-Mu kami menyembah, untuk Engkaulah kami shalat dan sujud… Kami mengharap rahmat-Mu dan takut terhadap azab-Mu, kami takut terhadap azab-Mu yang keras." (HR. al-Baihaqi, dikutip dalam Fatwa 02 2021 Kunut Nazilah)

Dan QS az-Zumar [39]: 9 yang dikutip Tarjih memuji orang yang "beribadah di waktu malam dengan bersujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya" (Tanya Jawab Agama 1 Masalah Ilmu).

Rangkuman saya — dan ini rangkuman, bukan bunyi putusan: mengakui surga dan neraka lalu menyembah Allah Yang Maha Tunggal adalah tauhid yang benar; tetapi mengharap rahmat dan takut azab bukan cacat yang harus dibuang, sebab keduanya justru muncul dalam doa Nabi saw yang direkam arsip.

5. Soal gangguan psikologis karena berat memikirkan dosa — arsip punya pembahasannya.

Tanya Jawab Agama 3 memuat butir "Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bebas dari rasa tegang, cemas, dan tidak putus asa yang berkepanjangan. Al-Qur'an melarang berputus asa dalam mencari rahmat Allah" (QS Yusuf [12]: 87), dan pada butir "Obat Putus Asa dan Stress" ditegaskan:

"Obat dalam al-Qur'an dan Hadits bukanlah obat untuk sekadar dibacakan kemudian dibaca… tetapi al-Qur'an dan Hadits mengandung obat bagi hati yang gundah. Maksudnya kalau dibaca dengan dimasukkan maksudnya dalam hati kemudian dilaksanakan petunjuk-petunjuk yang termaktub didalamnya." (Tanya Jawab Agama 3 Masalah Kesehatan)

Jadi rasa berdosa yang menekan itu tidak dilarang, tetapi berputus asa yang berkepanjangan dilarang. Karena keluhannya menyangkut kesehatan, sebaiknya dibicarakan juga dengan tenaga kesehatan, bukan hanya dipendam.

6. Soal salat taubat yang ia lakukan.

Arsip mencatat secara eksplisit posisi Majelis Tarjih: salat taubat tidak dimasukkan ke dalam deretan salat sunah dalam HPT "karena hadis-hadis tentang shalat taubat itu masih diperselisihkan tentang kesahihannya oleh para ahli hadis… sesuai dengan kaidah umum yang dipegang ahli hadis, yaitu 'jarah didahulukan daripada ta'dil', artinya cacat didahulukan daripada pujian" (Tanya Jawab Agama 9 Bab 5 Seputar Shalat Sunah, Suara Muhammadiyah No. 10 tahun ke-90/2005). Lihat juga Shalat Taubat.

Maka jalan yang jelas tuntunannya dalam arsip adalah istighfar dan tobat, bukan salat taubat sebagai amalan yang ditetapkan HPT.


Dalil

  • QS Thaha [20]: 14 — dasar tauhid dan pemurnian ibadah:
    إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ
    "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku..." — Tanya Jawab Agama 2026 Edisi 03 Klasifikasi Ibadah Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah

  • QS Hud [11]: 114 — amal baik menghapus dosa:
    وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَـٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ
    "…Sesungguhnya perbuatan yang baik dapat menghapuskan perbuatan (dosa) yang buruk." — Tanya Jawab Agama 1 Masalah Maksiyat. Di halaman yang sama ditegaskan: "Kata-kata yang tegas, perbuatan buruk menghapus pahala perbuatan yang baik tidak kita dapati."

  • QS Yusuf [12]: 87 — larangan berputus asa:
    يَـٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ
    "—Tanya Jawab Agama 3 Masalah Kesehatan

  • Hadis amal tuntunan Rasulullah saw:
    اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
    "Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." [HR. at-Tirmidzi] — Fatwa 04 2012 Penghasilan Dari Pekerjaan Dengan Meninggikan Ipk (2012)

  • Hadis keutamaan tobat:
    كُلُّ بَنِي آدَمَ خَط

Sajikan dalam Format
Jum, 6 Nov, jam 20:22 WIB
lanjutkan

Lanjutan Jawaban:

7. Soal "amalan dari Rasul" — arsip memuat tuntunannya, dan yang paling jelas adalah istighfar, bukan salat taubat.

Fatwa tentang istighfar menegaskan tuntunan harian Nabi saw:

"Sesungguhnya istighfar itu selalu meliputi hatiku dan sungguh aku selalu memohon ampun kepada Allah setiap hari sebanyak seratus kali" [HR. Muslim] (Fatwa 34 2016 Istighfar 1000 Kali Setelah Tahajud, 23 September 2016)

Dalam fatwa yang sama juga disebut istighfar tiga kali setiap selesai salat fardu (HR. Ahmad), dan penerimaan tobat selama masih sebelum matahari terbit dari barat (HR. Muslim). Yang ditekankan bukan angkanya, melainkan:

"Perwujudannya adalah istighfar disertai dengan hati yang tunduk dan tawadhu' serta rasa sesal atas perbuatan yang telah dilakukan, yakin akan berhenti total dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi." (Fatwa 34 2016 Istighfar 1000 Kali Setelah Tahajud)

Amalan kedua yang dituntunkan: mengiringi keburukan dengan kebaikan, sebagaimana sabda Nabi saw kepada Abu Dzar yang dikutip Tarjih:

"Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." [HR. at-Tirmidzi] (Fatwa 04 2012 Penghasilan Dari Pekerjaan Dengan Meninggikan Ipk, 2012)

8. Soal "pahala tambahan" — arsip menyebut dua hal, dan keduanya bersyarat.

Pertama, niat baik yang belum dikerjakan pun sudah dicatat sebagai kebaikan:

"Barangsiapa yang berkeinginan baik tetapi tidak mengamalkannya, hal itu telah dicatat sebagai satu kebaikan. Barangsiapa yang berkeinginan baik dan melaksanakannya, hal itu telah dicatat dengan seratus sampai tujuh ratus lipat kebaikan. Barangsiapa yang berkeinginan buruk tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak dicatat, namun jika mengerjakannya dicatat sebagai satu keburukan." [HR. Muslim] (Fatwa 09 Alihkan Qurban Dan Onh, 6 April 2007)

  • Catatan atas kutipan itu: matan Arabnya berbunyi كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ — "sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat", sedangkan terjemahan Indonesia dalam naskah menulis "seratus". Saya sebutkan apa adanya agar tidak terjadi kekeliruan.

Kedua, dan ini yang paling langsung menjawab pertanyaannya: QS al-Furqan [25]: 70 yang dikutip Tarjih menyatakan bahwa bagi orang yang bertobat, beriman, dan beramal salih, Allah "akan menggantikan perbuatan yang buruk dengan kebajikan" (Tanya Jawab Agama 1 Masalah Maksiyat). Jadi "pahala tambahan" yang dijanjikan arsip bukan untuk pengulangan maksiatnya, melainkan untuk tobat yang disertai amal salih.

Dan satu kabar yang menggembirakan, dari hadis yang dikutip dalam Tanya Jawab Agama 2023:

"Orang yang bertobat dari suatu perbuatan dosa, seperti orang yang tidak memiliki dosa" [HR. Ibnu Majah No. 4250] (Tanya Jawab Agama 2023 Edisi 07 1 15 April Tobat Dari Perbuatan Yang Berhukum Hudud, disidangkan 16 Desember 2022)

9. Hal penting yang perlu diluruskan: maksiat tidak menghapus seluruh amal, tetapi ia menutup hati.

Ini perlu dikatakan supaya ia tidak berputus asa. Tanya Jawab Agama 1 menegaskan:

"Kata-kata yang tegas, perbuatan buruk menghapus pahala perbuatan yang baik tidak kita dapati. Yang kita dapati dengan tegas bahwa perbuatan yang baik dapat menghapus (dosa) perbuatan yang buruk… Adapun yang dapat menghapus perbuatan yang baik (dalam berbagai ayat) adalah perbuatan kemusyrikan, musyrik dan murtad" (Tanya Jawab Agama 1 Masalah Maksiyat)

Tetapi pada halaman yang sama dikatakan pula bahwa maksiat "akan menutup hati nurani untuk menerima nasihat yang baik, kecuali kalau yang bersangkutan bertaubat". Jadi selama ia beribadah, bertobat, dan beramal salih, amalnya tidak hangus — yang perlu dijaga adalah jangan sampai kebiasaan itu menutup hatinya.

10. Soal gangguan psikologis dan kesehatan — arsip memerintahkan berusaha, tidak sekadar merenung.

"Obat dalam al-Qur'an dan Hadits bukanlah obat untuk sekadar dibacakan kemudian dibaca atau disuruh membaca ayat atau Hadits itu saja, tetapi al-Qur'an dan Hadits mengandung obat bagi hati yang gundah. Maksudnya kalau dibaca dengan dimasukkan maksudnya dalam hati kemudian dilaksanakan petunjuk-petunjuk yang termaktub didalamnya… agar seseorang jangan berputus asa mengharapkan rahmat Allah, tentu saja bukan sekadar mengharap-harap tetap juga harus dengan usaha." (Tanya Jawab Agama 3 Masalah Kesehatan)

Dan ukuran jiwa sehat dalam naskah itu: "jiwa yang bebas dari rasa tegang, cemas, dan tidak putus asa yang berkepanjangan". Karena keluhannya menyentuh kesehatan, itu bukan wilayah fatwa; hendaknya ia berobat dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, dan arsip sendiri menganjurkan berobat (Tanya Jawab Agama 1 Masalah Doa Sesudah Shalat: "berobat termasuk anjuran Nabi").

11. Perkembangan posisi arsip lintas tahun (1998–2026).

Kesimpulan saya atas rentang itu — dan ini rangkuman, bukan bunyi putusan: posisinya konsisten sejak 1998 hingga 2026 pada satu titik, yaitu tobat selalu diikatkan pada penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad berhenti. Tidak ada naskah yang melonggarkan syarat itu.


Dalil tambahan:

  • QS al-Isra' [17]: 57 — harap dan takut berjalan bersama:
    أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
    "…mereka mengharapkan ampunan-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang harus ditakuti." (terjemahan naskah) — Tanya Jawab Agama 4 Masalah Ayat Quran Dan Hadits

  • QS az-Zumar [39]: 9 — pujian bagi yang beribadah sambil takut dan berharap:
    أَمَّنْ هُوَ قَـٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ
    "…sedangkan ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya." — dikutip dalam Tanya Jawab Agama 1 Masalah Ilmu

  • QS at-Tahrim [66]: 8 — perintah tobat yang semurni-murninya:
    يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّـٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ
    "Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga…" — Keputusan 229 2026 Fikih Takziah Dan Kematian 02 Bab I Kesadaran Terhadap Kemati

  • Doa Nabi saw dalam kunut — harap dan takut dalam satu tarikan napas:
    "Ya Allah hanya kepada-Mu kami menyembah, untuk Engkaulah kami shalat dan sujud, kepada-Mulah kami menuju dan bergegas. Kami mengharap rahmat-Mu dan takut terhadap azab-Mu, kami takut terhadap azab-Mu yang keras." [H.R. al-Baihaqi] — Fatwa 02 2021 Kunut Nazilah


Catatan

  • Saya belum menemukan satu pun naskah dalam arsip yang membahas persis rumusan "beribadah semata karena Zat Allah tanpa mengharap surga dan tanpa takut neraka" sebagai konsep yang dinilai. Yang ada ialah pembahasan ikhlas (niat hanya karena Allah, bukan karena pujian manusia) dan pembahasan harap-takut. Keduanya tidak saling membatalkan dalam arsip.

  • Soal "berkah": arsip tidak memakai kata itu sebagai putusan hukum. Yang termuat adalah janji-janji umum, antara lain "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan membukakan baginya jalan keluar" (QS ath-Thalaq [65]: 2-3) dan "Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik" [HR. Ahmad] — keduanya dalam Fatwa 04 2012 Penghasilan Dari Pekerjaan Dengan Meninggikan Ipk. Saya tidak menambahkan penilaian sendiri di atas itu.

  • Pertanyaan ini menyangkut keadaan pribadi yang berat dan berulang. Untuk kasus yang riil dan mendesak, Majelis Tarjih dan pimpinan Muhammadiyah setempat adalah tempat bertanya yang semestinya, dan untuk beban psikisnya, tenaga kesehatan profesional.


Kesimpulan

  • Mempercayai surga dan neraka lalu menyembah Allah Yang Maha Tunggal adalah tauhid yang benar, dan beribadah karena Allah — bukan karena pujian manusia — adalah ikhlas yang dituntut arsip Tarjih.

  • Tetapi "beribadah sambil tetap mengulangi maksiat" bukan prinsip yang diajarkan arsip, sebab ibadah dalam HPT ialah taat perintah, menjauhi larangan, dan mengamalkan yang diizinkan Allah; dan tobat yang sah menuntut tekad berhenti.

  • Amalannya bisa menjadi baik dan membawanya menjadi pribadi yang lebih baik, dengan tiga syarat yang semuanya termuat dalam arsip: tobat yang benar, tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan menambah amal salih — sebab "perbuatan yang baik dapat menghapuskan perbuatan (dosa) yang buruk" (QS Hud [11]: 114).

  • Adapun pahala tambahan: arsip menjanjikan satu kebaikan bagi niat baik, sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat bila dikerjakan [HR. Muslim], dan penggantian keburukan menjadi kebajikan bagi yang bertobat, beriman, dan beramal salih (QS al-Furqan [25]: 70) — bukan untuk pengulangan maksiatnya.

  • Yang paling menenangkan dari arsip, dan paling menjawab kegelisahannya: "Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat."


Sumber

Wallahu a'lam bish-shawab. Kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT, dan saya hanyalah perantara atas apa yang termuat dalam arsip.

Sajikan dalam Format
Enter untuk kirim · Shift+Enter untuk baris baruHPT & Fatwa Tarjih
Jawaban disusun otomatis dari HPT; periksa rujukan sebelum diamalkan. Percakapan dapat dibaca pengguna lain, jadi hindari data pribadi.

Saat pertanyaan dikirim, Anda akan diminta masuk terlebih dahulu.